Jodoh Dalam Doa

Jodoh Dalam Doa
66


__ADS_3

Sobri seperti tak percaya bila sang istri manja minta pelukan,''Eehheem,nanti dulu ya,sebentar papi mau hubungi mbak Keysha dulu setelah itu,peluklah sepuas nya'',


Ruby memanyunkan bibirnya,''Enggak jadilah'',ucap Ruby segera merebahkan badannya memunggungi Sobri.


''Sebentar sayang,hanya mengirim pesan ini loh'',ucap Sobri segera mengirim pesan kepada Keysha.


''Selesai'',ucap Sobri sesudah mengirim beberapa pesan untuk mbak Keysha salah satunya tentang tes kehamilan Ruby tadi,Sobri bertanya itu sudah positive atau belum dan Keysha hanya membalas,''Besok antar Ruby ke rumah sakit untuk menemuiku''.


''Sayang,sini peluk'',ucap Sobri menyusul Ruby yang tiduran diatas tempat tidur.


''Sudah enggak ingin dipeluk,''ujar Ruby kesal.


''Tapi aku yang menginginkan memelukmu'',ujar Sobri memeluk erat,namun Ruby bergerak memberontak,''Iihh,sana Ruby males dipeluk'',ucap Ruby.


''Tapi kakak ingin'',ucap Sobri mendusel dipunggung Ruby.


''Iihh sanaan'',usir Ruby sambil menggerakan pundaknya.


''Iih,enggak mau'',ucap Sobri meniru gaya bicara sang istri.


''Kakak nyebelin'',ucap Ruby menoleh kearah Sobri.


''Kamu ngangenin'',ucap Sobri sambil membalikkan badan Ruby agar menghadapnya,Sobri tersenyum menatap wajah istrinya yang bersemu merah terlihat sangat lucu saat ini.


''Gombal'',ujar Ruby malu.


''Tapi suka kan?'',goda Sobri dan Ruby mengangguk pelan,''Ini kenapa kepala refleks ngangguk sich'',batin Ruby.


''Makanya diam kalau dipeluk'',ucap Sobri mengeratkan pelukan,Ruby juga menikmati pelukan hangat sang suami,perlahan memejamkan mata meresapi rasa sayang yang disalurkan oleh sang suami.


Tok tok tok


''Bang,dipanggil ayah'',teriak Naima,membuat Ruby seketika membuka mata.


''Kak,sepertinya Naima memanggilmu'',ucap Ruby.


''Biarkan saja'',ucap Sobri tetap memeluk Ruby.


Tok tok tok


''Bang Sobri,ada yang ingin dibicarakan ayah'',teriak Naima kembali.


''Temui ayah dulu sana'',ucap Ruby mendorong dada Sobri.


''Ck,mengganggu saja'',gerutu Sobri.


Ruby mengerutkan dahi,''Aku mengganggu?'',tanya Ruby.


''Bukan kamu sayang,tapi Naima'',jelas Sobri.


''Udah sana temui ayah dulu,''ucap Ruby.


Tok tok tok.


''Berisik'',teriak Sobri segera bergegas bangun dan membuka pintu kamarnya,namun sang pengganggu sudah tak ada.


Sobri menghela nafas,''Aku temui ayah dulu ya'',ucap Sobri menoleh kearah Ruby.


''Aku ikut kak'',

__ADS_1


''Ayo'',ucap Sobri.''Jalan lari!",seru Sobri saat Ruby berlari kearahnya.


''Hehe,maaf'',


''Lain kali jangan ceroboh,ingat sekarang kamu itu membawa nyawa lain,aku tak mau terjadi apa-apa pada kalian'',


''Iya kak,maaf'',


''Sudah jangan sedih,tersenyum'',ucap Sobri mengelus pipi sang istri kemudian Ruby tersenyum.


''Uhuk,''membuat Ruby dan Sobri menoleh kesumber suara.


''Kalau mau mesra-mesraan didalam kamar,jangan diambang pintu'',goda Fikri.


''Apa sich bang,abang saja kalau mesra-mesraan dengan mbak Vii juga enggak tau tempat'',sungut Sobri.


''Enggak tau tempat bagaimana?,wajar saja bukan,karena ini kan rumah ku,''ucap Fikri.


''Jadi maksud abang aku hanya penumpang,enggak boleh begitu mesra-mesraan dengan istriku sendiri?'',tanya Sobri dengan nada kesal.


''Bukan begitu maksud abang,abang hanya bercanda kenapa kamu jadi sensitive begini'',ucap Fikri heran,tak biasanya Sobri baperan.


''Tapi cara abang ngomong seperti itu enggak enak ditelinga'',ucap Sobri.


''Sudah kak'',ucap Ruby menghentikan perdebatan tak berfaedah.


''Kalau telinga nya enggak enak dikorek,noh pake tiang listrik'',seloroh Fikri.


''Kan bang Fikri nyolot lagi'',ucap Sobri membuat Ruby menggelengkan kepalanya.


''Siapa yang nyolot Sobri'',ujar Fikri penuh penekanan.


''Aku ini suami mu Rub,''sungut Sobri semakin kesal.


''Sudahlah Rub,jinakin dulu suami mu habis itu temui ayah mertua mu dihalaman belakang,disana juga ada Vilara,dan Naima'',ujar Fikri kemudian berlalu pergi.


''Iya bang'',ucap Ruby,Sobri hanya mendengus kesal.


''Kak,ayo kebelakang masa calon papi marah-marah sich,''ucap Ruby.


''Bukan marah Ruby hanya kesal saja'',tutur Sobri.


''Kan emang benar kalau kita disini hanya numpang,menginap sementara setelah urusan kakak selesai kita akan kembali pulang ke apartemen kita dikota X'',ucap Ruby membuat Sobri menghela nafas,''Maaf'',ucap Sobri.


''Minta maafnya dengan bang Fikri'',ucap Ruby,Sobri mengangguk dan meraih tangan Ruby menuju halaman belakang.


Dihalaman belakang.


''Mana mas,Sobri dan Ruby nya?'',tanya Vilara.


''Itu masih berdebat diambang pintu dan aku rasa Ruby beneran hamil'',ucap Fikri.


''Kalau beneran hamil,alhamdulilah berarti nambah satu cucu lagi'',ucap bu Siti senang sambil mencium pipi gembul baby Al.


''Kenapa abang bisa tau?'',tanya Naima.


''Karena aku hanya bercanda si Sobri tersinggung'',ucap Fikri.


''Emang abang nyinggung apa?'',tanya Naima

__ADS_1


''Iya emang mas Fikri bilang apa ke Sobri?'',tanya Vilara juga penasaran.


''Hanya bilang kalau mesra-mesraan didalam kamar,eh dianya malah nyamain kita yang bermesraan bukan ditempatnya,ya aku bilang wajar ini kan rumah ku,dia nya ngambek'',jelas Fikri.


''Tsuuut'',tanda Paman Imam saat langkah kaki terdengar mendekat.


''Ada apa ayah memanggilku?'',tanya Sobri tenang.


''Sini nak,''ucap Ayah Imam memanggil anaknya,sedangkan Ruby sudah mendekat kearah Vilara dan ibu mertuanya.


Sobri duduk mendekati ayahnya tanpa melihat kearah Fikri.''Sudah mau jadi ayah enggak usah gampang merajuk,malu tuh dengan baby Al'',seloroh Fikri membuat Sobri tersentak begitu juga dengan Ruby.


''Bagaimana hasilnya?,''tanya ayah Imam,Sobri menatap Ruby dan Ruby tersenyum sambil mengangguk pelan.


''Positive yah'',ucap Sobri membuat ayah Imam memeluk Sobri,''Alhamdulilah,ayah akan jadi kakek lagi'',tutur bahagia ayah Imam.


''Selamat nak'',ucap bu Siti haru memeluk menantunya setelah menaruh baby Al dalam stroler.


''Selamat Ruby'',ucap Vilara


''Selamat ya mbak'',ucap Naima


''Terimakasih semua'',ucap Ruby tersenyum.


''Ini kabar yang membahagiakan,sungguh sangat bahagia untuk keluarga besar kita'',ucap Ayah Imam sambil merogoh ponsel.


''Ayah,jangan hubungi papa Adi dulu,hangan beritahu beliau,biarkan kami nanti yang akan memberitahunya'',cegah Sobri.


''Oh,baiklah,pasti dia juga akan sama senangnya'',ucap ayah Imam nampak sangat bahagia.


''Selamat menjadi calon ayah Sobri,dan maaf kalau tadi perkataan abang menyinggung mu'',ucap Fikri merangakul adik keponakan itu.


''Terimakasih bang,Sobri juga minta maaf bang enggak tau juga tadi kenapa Sobri jadi sentimentil begitu'',ujar Sobri sedikit menahan malu.


''Wajar itu,bukan Ruby yang sensitive malah lakinya,jangan-jangan nanti yang merasakan ngidam Sobri juga'',ucap Fikri membuat semua orang menatap Ruby dan Sobri bergantian.


''Hahaha,waktu ibu mengandung Sobri yang ngidam dulu juga ayah,hingga harus dibawa kerumah sakit akibat kekurangan cairan karena muntah-muntah'',ucap bu Siti mengenang masa lalu.


Semua orang pun tertawa.


Di kota X.


''Abang ini terlalu berat untuk ku'',ucap seorang polisi.


''Kalau begitu aku akan meminta komandan mu untuk memindahkan dirimu didaerah pelosok'',ancam Ferdi.


''Ck,kau selalu menindasku,kenapa tak abang yang urus sendiri'',ucap David kesal.


''Aku sibuk'',ucap singkat Ferdi.


''Berarti ini tak penting buat abang?'',tanya David


''Kau tak perlu banyak bertanya,kerjakan saja,hanya sekedar memantaunya kemudian kau laporkan kepadaku tak lebih dari itu,''ucap Ferdi enteng.


David hanya berdecak,''Mana identitasnya'',ucap David sedikit kesal,Ferdi memberikan biodata dari seseorang.


''Selamat mengerjakan,tenang saja aku akan mentransfer komisinya bila tugas mu itu selesai'',ucap Ferdi dan berlalu pergi.


''Dasar kakak tak ada akhlak'',batin David,kemudian membaca biodata seorang gadis melihat fotonya.

__ADS_1


''Cantik,tapi sepertinya jutek'',gumam David menatap foto Santika.


__ADS_2