
Di Kediaman Fikri dan Vilara.
''Sayang,baby Al mana?'',tanya Fikri saat masuk keruang makan.
''Lagi tidur mas,dijaga sama Ruby'',ucap Vilara.
''Ini anaknya mbak Key kan?'',tanya Fikri
''Anaknya bang Jou mas'',ucap Vilara.
''Iya,tapi sekarang kan sudah jadi anak nya mbak Key juga'',ucap Fikri sambil melahap makanan yang disodorkan Vilara.
''Kok bisa begitu?'',heran Vilara.
''Kan mereka sudah sah jadi suami isteri sayang'',ucap Fikri setelah menelan makanan yang disuap oleh sang isteri.
''Oh iya,Vii lupa'',ucap Vilara sambil terkekehm
''Om,udah besar tapi makan nya masih disuapin,kaya anak kecil'',celetuk Keke.
Vilara dan Fikri hanya saling tatap.
''Oom memang selalu berasa masih anak kecil bila dekat dengan tante Vii'',ujar Fikri sambil mengedipkan mata ke Vilara.
''Mas'',tegur Vilara dan Fikri hanya tersenyum.
''Keke mau nambah sayang?'',tanya Vilara mengalihkan pembicaraan.
''Sudah tante,Keke mau keatas mau nemenin dedek Al saja'',ucap Keke.
''Iya tapi jangan berisik ya sayang'',ucap Vilara lembut.
''Ok tante'',ucap Keke segera berlari kearah tangga menuju kamar baby Al.
''Sayang suap lagi'',pinta Fikri.
''Manjanya'',ucap Vilara.
''Mumpung anak masih tidur yang,''ujar Fikri menerima suapan sang istri.
''Mas,lucu ya kalau kita punya anak cewek juga'',ucap Vilara mengingat tingkah Keke yang cerewet.
''Baby Al dibesarin dulu sayang,namun kalau mas,punya baby Al saja sudah cukup'',ucap Fikri membuat Vii mengerutkan dahi.
''Kenapa?,mas enggak mau punya anak lagi dengan Vii?,''tanya Vilara.
''Bukan begitu sayang,mas belum siap melihat kamu memejamkan mata lama seperti waktu baby Al dilahirkan'',ucap Fikri sendu mengingat Vilara yang tak sadarkan diri.
''Mas tak sanggup bila sesuatu yang buruk terjadi lagi kepadamu,''sambung Fikri menatap Vilara sendu.
''Mas,belum tentu kehamilan kedua atau selanjutnya Vilara mengalami hal yang sama'',jelas Vilara.
__ADS_1
''Iya,tpi untuk saat ini kita fokus dengan baby Al dulu ya sayang,untuk hamil lagi nanti kita konsultasikan dulu kepada dokter'',ujar Fikri.
Vilara tersenyum dan mengangguk,Fikri mendekati wajah Vilara,satu kecupan dikening dan bibir mendarat dengan sempurna.
''Uhuk,uhuk'',suara batuk seseorang
Membuat Vilara merona malu,''Mas Vii keatas dulu'',ucap Vii segera meninggalkan ruang makan.
''Ganggu saja'',sungut Fikri saat Sobri dengan senyum santai duduk disamping Fikri.
''Mantap sekali bang makan malam mu,''goda Sobri.
''Kalau iri,kamu bisa melakukannya dengan istrimu'',ucap Fikri kesal
''Hehehe,kalau kami melakukannya tak perlu dipamerkan cukup didalam kamar atau ditempat yang orang tak tau bila kita bermesraan'',ucap Sobri
''Ck,''
''Kenapa sudah pulang?'',tanya Fikri.
''Kangen istri bang'',jawab Sobri
''Ya sudah sana temui'',usir Fikri membuat Sobri kembali terkekeh.
''Bang aku juga mau minta berkas-berkas yang dititipkan Gondrong ke abang'',ucap Sobri
''Berkas untuk persidangan?'',tanya Fikri
''Nanti aku ambil dulu'',ucap Fikri beranjak dari duduk.
''Aku temui istri ku dulu'',ucap Sobri berdiri akan menuju kamar bawah yang mereka tempati.
''Istrimu di kamar atas lagi menjaga Al juga Keke'',ujar Fikri menengok kearah Sobri sebelum keruang kerjanya.
''Tolong panggilin bang,aku lagi malas naik tangga'',ucap Sobri.
''Dasar pemalas,hanya beberapa anak tangga hitung-hitung olah raga Sob'',ucap Fikri.
''Olah raga Sobri bukan seperti itu lagi bang kurang efisien,Sobri suka nya olah raga malam dibawah selimut,itu lebih banyak membakar kalori karena banyak mengeluarkan keringat'',ucap Sobri enteng.
''Dasar bocah edan,''ucap Fikri.
''Eiiitss,itu kata-kata ibu Khodijah bang'',ucap Sobri.
''Biarin,sekarang kamu puas-puasin tapi setelah Ruby hamil siap-siap puasa sembilan bulan kamu'',ucap Fikri.
''Masa'',ucap Sobri tak percaya.
''Kalau tidak percaya sana tanya mbak Key,dulu waktu Vilara hamil aku pun juga puasa'',ucap Fikri.
''Benarkah bang?,wah mesti konfirmasi dengan mbak Key ini,bila itu terjadi harus banyak-banyakin bekal dari sekarang dong'',ucap Sobri.
__ADS_1
''Betul,cepat sana susul Ruby'',ucap Fikri sebelum masuk ke ruang kerja nya.
Sobri segera melangkah menapaki satu demi satu anak tangga,bersemangat menemui sang istri agar bisa mendapat bekal sebelum sang istri hamil tanpa mengingat sang istri tengah berpalang merah.
''Assalamualaikum'',ucap Sobri saat membuka pintu kamar.
''Tsuut,waalaikumsalam'',ucap Ruby lirih sambil telunjuk menempel dibibir dan mendekati Sobri untuk mencium punggung tangan sang suami.
''Kenapa?'',tanya Sobri ikut berbisik.
''Keke baru saja tidur,dan baby Al mau tidur lagi,ayo kita keluar dari kamar saja'',ajak Ruby menggandeng tangan Sobri.
''Kakak sudah pulang?'',tanya Ruby setelah menutup pintu perlahan.
''Yang kamu lihat?'',tanya balik Sobri.
''Sudah pulang,kenapa keatas?'',tanya Ruby.
''Ingin melihat baby Al'',ucap Sobri membuat Ruby manyun.
''Aku kira rindu dengan ku'',ucap Ruby mencebikan bibirnya tanda kecewa namun Sobri malah tersenyum mendengar penuturan Ruby.
''Iya'',ucap Sobri.
''Iya apa kak?'',tanya Ruby.
Namun pertanyaan Ruby belum dijawab mereka sudah menuruni anak tangga terakhir,''Ini berkasnya'',sodor Fikri.
''Terimakasih bang'',ucap Sobri.
''Sama-sama dan inget pesen abang banyakin bekal dari sekarang'',ucap Fikri sambil meninggalkan Sobri yang mengangguk.
''Bekal apa kak?'',tanya Ruby penasaran.
''Bekal masa depan,olahraga malam sebelum kamu hamil harus kita tambah intensitasnya'',bisik Sobri.
''Kakak ini ada-ada saja'',ucap Ruby segera masuk kedalam kamar.
''Ada Rub,sebelum kakak puasa,ayo kita lakukan sekarang'',ucap Sobri segera mengunci pintu.
''Enggak bisa kak'',ucap Ruby masuk kedalam kamar mandi.
''Kenapa?,karena masih sore?,sah-sah saja Rub,kita harus melakukannya minimal sehari tiga kali'',ujar Sobri setengah berteriak.
''Kaya minum obat saja'',sungut Ruby setelah keluar dari kamar mandi dan duduk ditepi tempat tidur.
''Obat yang nikmat,ayo Rub'',ucap Sobri tak sabar.
''Tapi Ruby sedang datang bulan kak'',ucap Ruby.
Jeduaarrr
__ADS_1
Sobri menepuk keningnya yang mendadak pening,''Terus ini bagaimana?'',tanya Sobri menunjuk barang pusaka yang sudah turn on,Ruby mengedihkan bahunya.