
Beberapa bulan kemudian.
Naima kembali ke Turki begitu juga Keysha dan Jauhari serta Keke.Sedangkan Ruby terdiam,merenung memandang keluar jendela,''Sayang,kenapa belum bersiap?'',tanya Sobri,Ruby menoleh sebentar kemudian kembali memandang lurus."Apa kita harus kesana?",tanya Ruby,Sobri memeluk Ruby dari belakang.
''Kalau kamu tak mau pergi,tidak apa,aku akan menghubungi bang Furqon bila kita tak bisa hadir diacaranya'',ucap Sobri,Ruby hanya diam.
Sobri menghela nafas,mengendorkan pelukan untuk mengambil ponsel,namun tiba-tiba ada panggilan video.
''Assalamualaikum,''suara seorang wanita
''Mamama'',suara celotehan anak kecil,membuat Ruby tersenyum dan mendekati Sobri.
''Waalaikumsalam anak mama'',ucap Ruby senang melihat wajah tampan yang memenuhi layar ponsel suaminya.
''Ma..ma..ma'',celotehnya.
''Iya sayang,mama rindu dengan baby Al''ucap Ruby.
''Nanti kan kita ketemu ma'',ucap Vilara menirukan suara anak kecil.
''Mbak Vii mau kesini?',tanya Ruby dengan berbinar.
''Iya mbak mau kesitu tapi setelah dari acara bang Furqon'',ujar Vilara.
''Ruby juga mau ke acara tujuh bulanan kak Fira dan bang Furqon kok mbak,nanti kita ketemuan disana saja ya mbak'',ucap Ruby antusias.
''Ok,kalau begitu,mbak tunggu ya'',
''Iya mbak,bye bye kesayangan mama'',
''Bye,bye juga mama By'',ucap Vilara melambaikan tangan mungil baby Alvian.
''Assalamualaikum'',
''waalaikumsalam'',jawab Ruby dengan senyum masih terukir dibibirnya.
''Harus siap-siap'',gumam Ruby,menuju lemari mencari baju yang pas,Ruby mengeluarkan beberapa gamis dan itu tak luput dari penglihatan Sobri.
''Kalau aku pakai ini'',gumam Ruby menempelkan baju kebadan mematut lewat pantulan cermin.
''Cantik'',ucap Sobri,Ruby seketika menoleh kearah Sobri.
''Benarkah kak?'',
''Heemm,apalagi dengan hiasan senyum yang manis dari bibirmu'',ucap Sobri,
Ruby menunduk malu kemudian kembali memandang wajah suaminya dengan intens,seperti ada yang beda pada suaminya,kumis tipis,rambut yang sudah gondrong,kulit wajah yang kusam,''Kenapa suami ku seperti tak terurus'',batin Ruby masih menatap Sobri.
Sobri tersenyum ''Cepatlah berdandan kakak tunggu diluar'',ucap Sobri setelah mencium kening Ruby hendak melangkah namun tangan Sobri dicekal sang istri.''Maafin Ruby kak,tadi Ruby asyik sendiri",ucap Ruby.
''Tak perlu minta maaf sayang,bukan salah mu,cepatlah bergegas baby Al pasti sudah sampai'',ucap Sobri lembut,mengusap pipi Ruby.
''Kakak tunggu disini sebentar,duduk disini'',ucap Ruby mendudukan Sobri dipinggir tempat tidur.
Sobri menurut,Ruby bergegas mencari alat cukur dan crem untuk cukur,''Ruby bersihkan dulu,kenapa suami Ruby jadi kucel begini sih'',omel Ruby.
''Apa kakak tak risih,lihatlah bulu tumbuh dimana-mana'',Omelan Ruby tak berhenti sambil mengoles crem dan mulai mencukur,namun Sobri hanya tersenyum menerima dan menurut apa yang dilakukan Istrinya.
''Ruby kan sudah bilang kalau tidak suka lihat kakak berkumis,apalagi ini brewokan begini'',Oceh Ruby,Sobri mengangguk.
''Maaf,kakak lupa'',ucap Sobri
''Ck,seperti tak punya istri saja'',ucap Ruby,namun seketika menghentikan kegiatannya,menatap mata suaminya."Kenapa berhenti,sebelah sini belum bersih",ujar Sobri menunjuk pipi sebelahnya.
"Eh,iya kak",ucap Ruby tergagap."Istri macam apa aku ini,seharusnya aku tak boleh egois,bukan hanya aku yang merasa kehilangan namun suamiku pasti juga merasakanya,seharusnya kita saling menguatkan,lihatlah karena sibuk mengurusiku sampai dirinya lupa mengurus dirinya sendiri,namun aku berjanji pada diriku mulai hari ini aku akan mengabdi kepada mu Imam ku",batin Ruby.
"Selesai",Ucap Ruby.
"Terimakasih sayangku",ucap Sobri,Ruby menggeleng.
"Seharusnya aku yang berterimakasih kak,terimakasih masih bertahan dan tetap menjaga serta melindungi ku disaat aku..",ucap Ruby menggaris miring kening nya sambil tersenyum.
"Tssuut,semua wanita yang kehilangan anaknya pasti akan mengalami goncangan mental sayang,namun aku percaya bila istri ku wanita yang kuat,dia pasti bisa melewati ini semua",
"Dan aku benar,lihatlah istri ku telah kembali",sambung Sobri,Ruby langsung menubruk memeluk erat suaminya.
"Aku mencintaimu mas",bisik Ruby,Sobri mengeratkan pelukannya,"Aku juga sangat mencintaimu sayangku",balas Sobri dengan bahagia.
"Sudah drama nya,aku akan bersiap dulu mas",
"Mas?",
"Kenapa?,tidak mau dipanggil mas?",
"Mau sayang,cepatlah aku tunggu disini",ujar Sobri,Ruby segera bergegas.
Bagi Sobri hari ini adalah hari yang membahagiakan,istri tercintanya sudah ceria,tidak seperti bulan bulan yang lalu,hanya ada kesedihan,kemurungan dan teriakan histeris,sungguh bulan yang sangat berat bagi Sobri dikala janin yang dikandung sang istri tak bisa diselamatkan membuat Ruby mengalami shock berat,rasa bersalah dan terpukul yang mendalam harus ditangani oleh psikiater,Namun Sobri tetap mendampingi Ruby memberi dukungan,mengajak bicara walau kadang diacuhkan,tak jarang Ruby menangis histeris meminta agar Sobri meninggalkannya karena tak layak menjadi istrinya,terkadang juga menangis tersedu-sedu meminta maaf serta memohon agar tak membuangnya,Sobri terkadang frustasi menghadapi Ruby yang labil,Namun dukungan dan motivasi dari saudara serta keluarganya terutama duo ibunya untuk selalu berada disamping Ruby,membuat Sobri kuat kembali.Segala cara dilakukan Sobri dan keluarga agar Ruby kembali semangat menjalani hidup,tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.
__ADS_1
Istrinya kembali,Ruby nya bersinar kembali,berkat dari ocehan baby Alvian anak dari abangnya,sekarang Sobri hanya perlu mengembalikan kepercayaan diri istrinya untuk menghadapi dunia luar.
"Mas bangun,nanti kita terlambat",ucap Ruby,Sobri mengerjap,"Iya",sahut Sobridengan suara parau.
"Cuci muka dulu sana biar seger",ucap Ruby sambil menarik lengan Sobri.
Didalam mobil Ruby beberapa kali menghembuskan nafas lewat mulut untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"kamu bisa sayang",ucap Sobri memegang lembut jari jemari Ruby.
"Iya mas,kamu bisa Ruby,kamu bisa",ucap Ruby memotivasi diri nya sendiri.
"Ingat sayang,baby Al didalam menunggu mu",ucap Sobri.
Mendengar nama baby Al jadi moodboster bagi Ruby,''Ayo mas kita turun",ajak Ruby,Sobri mengangguk.
Mereka berjalan bergandengan,sesekali Sobri mengusap tangan istrinya agar tetap nyaman,ternyata acara nya sudah berlangsung Safira tengah dimandikan bunga oleh mamanya.
''Duduk dulu,'',bisik Sobri,Ruby menurut
Ruby tersenyum memandang perut besar kakaknya,kemudian meraba perutnya sendiri.
''Seandainya'',batin Ruby.
''Sesi fotonya sudah selesai yang,mau menemui mereka?'',tanya Sobri.
''Ah,iya'',ucap Ruby mengangguk.
Saat mereka berjalan banyak tamu yang melihatnya kemudian berbisik-bisik,membuat Ruby mengeratkan pegangan tangannya.
''Ruby,Sobri'',panggil Vilara dan melambaikan tangannya memanggil kedua adiknya.
Papa Adi dan mama Ratih mendengar nama putri keduanya dipanggil,mencari sumber suara,memperhatikan memandang dengan binar haru serta bahagia bila putri keduanya sudah baik-baik saja.
''Ruby kita pa'',lirih mama Ratih.
''Iya ma,setelah acara Fira selesai kita temui putri kita'',bisik papa Adi kepada istrinya,Ratih mengangguk namun pandangannya tak lepas dari wanita yang sedang berjalan menjauh dari hadapanya.
Sobri dan Ruby menemui Vilara dan Fikri serta moodboster nya si Baby Alvian.
''Anak mama'',ucap Ruby menggendong baby Al.
''Kalian baru datang?'',tanya Fikri.
''Iya bang'',jawab Sobri.
''Lumayan,Kita keruang sana dulu yuk'',ajak Vilara kepada Ruby.
"Mas,Ruby kesana dulu ya'',pamit Ruby kepada suaminya.
''Iya sayang,''ucap Sobri
''Ma..ma..''celoteh baby Al.
''Iya sayang ini mama,kangen sama mama ya,,uluh..uluh gemasnya''ucap Ruby mengajak ngobrol baby Al.
''Oh ya mbak,ibu Khodijah enggak ikut kesini?'',
''Tidak Rub,beliau masih sibuk mengurus pesantren ,tidak bisa ditinggal begitu saja'',
''Coba mbak Keysha tetap disini pasti ibu tidak sesibuk sekarang,jadi kangen mbak Key'',ujar Ruby.
''Mbak Key disana juga karena pekerjaan mulianya,bila kangen tinggal telepon,atau videocall gampangkan'',ucap Vii.
''Iya mbak,aku juga ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih,berkat mbak Key aku tidak gila'',ucap Ruby.
''Kamu nih ngomong apa sih Rub,kita ini saudara harus saling menguatkan dan juga memberi dukungan disaat salah satu dari kita terpuruk,''ucap Vii
''Terimakasih juga ya mbak,sudah membuat aku keluar dari kubangan penyesalan,''ucap Ruby.
''Sudah,sudah,biarkan itu menjadi masalalu,sekarang itu waktunya kamu bangkit menjadi Ruby yang mbak kenal selama ini'',
''Ruby yang ceria,Ruby yang mandiri,Ruby yang strong walaupun dorong motor matic mogok tetap kuat'',ucap Vilara memberi semangat Ruby.
''Hahaha,iya mbak Vii'',
''Dan satu lagi Allah tidak akan mengambil sesuatu yang baik darimu kecuali menggantinya dengan yang lebih baik'',Nasehat Vilara.
Ruby mengangguk,''Jadi teringat Naima aku mbak'',ucap Ruby.
''Dia wanita yang kuat,percayalah dia bisa menjalani hidupnya dengan baik walaupun tanpa suami namun ada orang tua serta mertua yang selalu mensuportnya,mendukung dan melindunginya,kita doa kan yang terbaik untuk nya'',ucap Vilara
''Iya mbak,Naima juga yang mengajariku,bahwa yang terjadi adalah takdir,kita hanya perlu menjalani,berdoa,mensyukuri dan mengikhlaskan apapun yang terjadi'',ucap Ruby.
''Namun melihat Naima yang sekarang,apa ada pemuda yang berani mendekatinya ya?,secara sekarang dia menjadi janda muda kaya raya'',ucap Vilara mulai ghibah.
''Pemudanya harus bermental baja mbak,juga harus mempunyai pendidikan serta kekayaan yang melebihi Naima kalau tidak inscure duluan lah,'',ucap Ruby menanggapi Vilara.
__ADS_1
''Hehe iya,aku harus bicara dengan mas Fikri agar Naima tidak boleh didekati oleh pemuda sembarangan'',ucap Vilara.
''Iya mbak,nanti aku juga akan bilang kepada mas Sobri agar lebih ketat menjaga Naima'',timpal Ruby.
''Aku dengar dari mas Fikri,Ferdyan menikahi teman mu ya Rub'',tanya Vilara.
''Iya mbak,mereka...'',Ruby menghentikan obrolannya saat sepasang suami istri mendekatinya.
''Ruby,Ruby ku,putri ku'',lirih mama Ratih memandang haru.
''Mama,papa'',gumam Ruby,Vilara mengambil alih baby Alvian dari pangkuan Ruby,menjauh memberi ruang kepada orang tua dan putrinya.
Papa Adi dan mama Ratih memeluk Ruby bersamaan,''Sudah dari tadi nak,''tanya papa Adi dan mama Ratih bersamaan setelah melerai pelukan,Ruby hanya mengangguk.''Sudah makan belum?,tadi sampai sini jam berapa?,kenapa tidak menghubungi mama?,dan suami mu mana?'',tanya mama Ratih,Ruby bingung mau menjawab yang mana dulu.
''Mama tanya nya satu-satu dong'',ujar papa Adi.
''Maaf sayang,mama terlalu bahagia melihatmu'',ucap mama Ratih sambil tertawa.
''Mas Sobri diluar tadi sedang berbincang dengan abangnya'',jawab Ruby.
''Pasti belum makan,mama ambilin ya'',
''Tidak perlu ma,nanti Ruby ambil sendiri'',
''Tidak sayang,tunggu disini dengan papa,pa jaga Ruby'',
''Iya ma'',
''Pa kenapa mama jadi aneh ya?'',tanya Ruby yang belum terbiasa dengan sikap mama nya,padahal dulu sikap yang dibilang aneh ini yang dia impikan dari mamanya.
''Bukan aneh sayang,tapi perhatian'',ucap Papa Adi membuat Ruby memanyun kan bibir nya.
''Putri papa'',ucap papa Adi sambil memeluk Ruby dan mencium pucuk kepala Ruby.
''Ekhemmm,EkHeeemmm'',deheman Sobri mengalihkan rasa sayang papa dan anak.
''Dia istri ku pa'',ucap Sobri kemudian nyempil diantara papa Adi dan Ruby.
''Haah,posesif'',ledek papa Adi.
''By'',panggil Safira kepada Ruby.
''Loh kakak kenapa kesini?'',
''Dia ngotot ingin menemui mu Rub,saat bertanya kepada mama yang sibuk menyuruh pelayan menyiapkan makanan''.ujar Furqon.
''Bagaimana kabarmu?''.
''Sudah baik kak''.
''Maafin kakak Rub,karena ku kamu kehilangannya'',
''Bukan salah kakak,sudah tau jenis kelaminnya belum?'',ucap Ruby mengalihkan pembicaraan.
''Laki-laki'',
''Apa aku boleh mengelusnya?'',tanya Ruby,
''Tentu saja boleh'',ujar Safira,Ruby mengelus perut buncit Safira.
''Hai Boy,sehat-sehat ya'',sapa Ruby,
''Dia bergerak kak'',ucap Ruby antusias.
''Dia menyukaimu'',ucap Safira.
Sobri hanya tersenyum melihat raut kagum dan bahagia istrinya,''Kamu pasti akan mendapatkan lagi bro,terus berdoa dan berusaha pastinya'',ucap Furqon menepuk bahu Sobri.
''Doa kan saja,agar kami segera bisa menyusul kalian menjadi calon orang tua'',ucap Sobri.
''Pasti,kita kan saudara harus saling mendoakan yang baik'',ucap Furqon.
''Pa,makanan sudah siap,anak-anak suruh kesini'',teriak mama Ratih.
''Bukannya dia sudah berteriak,jangankan anak-anaknya tamu undangan pun mendengarnya'',gerutu papa Adi.
Ruby dan Safira terkekeh mendengar sang papa,''Ayo nak,papa bantu berdiri'',ucap papa Adi yang akan membantu Safira berdiri.
''Pa,dia istriku,biarkan aku suaminya yang melakukannya'',ucap Furqon menggantikan posisi papa Adi.
Papa Adi hanya berdecak,''Ruby'',ucap Papa Adi beralih kepada putri keduanya.
''Ruby istri ku pa,jadi biarkan Sobri yang memeluk dan menggandengnya'',ucap Sobri merangkul istrinya menjauh dari papa.
"Pa,kenapa bengong disitu,cepetan kesini'',teriak mama Ratih,Papa Adi''Iya ma'',..
'',Wanita berteriak itu istri ku,jodoh dalam doa ku'',batin papa Adi.
__ADS_1