
''Assalamualaikum'',sapa Sobri.
''Waalaikumsalam'',jawab semua,Ruby segera menerima uluran tangan Sobri dan mencium punggung tangannya dan Sobri mencium pucuk kepala Ruby yang terbalut hijab",Maaf aku terlalu lama datang ya",bisik Sobri dan Ruby menggeleng kecil dengan menatap sang suami dengan cinta.
"Eheem,eheem",
"Serasa dunia milik berdua ya bun",sindir Maya.
''Hehe sorry guys,kenalkan ini suamiku Sobri Hidayat'',ucap Ruby memperkenalkan suaminya setelah Sobri duduk disamping Ruby.
''Rara'',
''Maya'',
"Pak Sobri kira-kira masih punya saudara laki-laki tidak?,kalau ada boleh lah kenalin dengan kita",canda Maya.
"Jangan panggil pak,panggil bang atau kakak saja,untuk saudara laki-laki masih ada satu",ucap Sobri.
"Kok Ruby enggak tau kak?,siapa?",tanya Ruby.
"Itu",tunjuk Sobri dengan ekor matanya menunjuk Ferdiyan yang tengah fokus dengan ponselnya.
"Jangan yang itu bang,yang lain dech",ujar Maya.
"Memangnya kenapa May?,apa kurang ganteng?",tanya Ruby.
"Bukan masalah ganteng tidaknya Rub,hanya saja aku tak terlalu suka dingin",ucap Maya lain halnya dengan Rara.
"Memangnya yang itu masih jomblo bang?",tanya polos Rara.
"Masih",jawab Sobri.
"Wah,benarkah",
"Jangan Ra",cegah Maya
"Memangnya kenapa?,katanya loe enggak suka",ucap Rara
"Gue memang enggak suka,tapi gue juga enggak suka bila loe ngejar-ngejar cowok itu duluan",ujar Maya.
"Mana ada ngejar sich May,gue kan duduk,lihat nich gue duduk",ucap Rara namun bisa membuat Maya menghela nafas panjang.
"Aku rasa benar kata Maya,Rara jangan dengan Gondrong aku takut Gondrong akan stroke dini karena hipertensi setiap hari",bisik Sobri kepada Ruby dan mendapat cubitan kecil dipaha Sobri.
"Kapan kalian akan menjenguk Santi,kalau kalian kesana aku ikut ya",ucap Ruby mengalihkan pembicaraan.
"Nanti kalau sudah ada waktu senggang kita pasti hubungi loe",ucap Maya,
"Oke,aku tunggu'',ucap Ruby kemudian menyeruput minumannya.
''Mau kemana?'',tanya Sobri melihat Ruby berdiri,"Ke toilet dulu kak'',ucap Ruby membuat Rara dan Maya saling pandang memberi isyarat.
''Tunggu Rub,Rara mau ikut loe'',
''Kok gue sich'',
''Sudah sana katanya loe tadi kebelet'',dorong Maya kepada Rara yang masih cemberit.
''May'',
''Jadi ikut enggak Ra?'',tanya Ruby
''Iya,kalian ini hanya mau ke toilet saja harus berdebat dulu'',timpal Sobri.
''Hehe,biasa anak ekonomi hal sepele pun di debatkan'',ucap Ruby meninggalkan meja.
''Rub,ikut'',ucap Rara mengikuti Ruby dari belakang sesekali menengok kebelakang melihat Maya,dan Maya hanya mengangguk pelan.
Sepeninggal Ruby dan Rara,Maya menelan salivanya beberapa kali,''Bang ada yang ingin aku sampaikan'',ucap Maya membuat Sobri berhenti mengotak-atik ponselnya.
''Tentang apa?,oh aku tau kamu pasti mau minta nomor ponsel asisten ku kan,nanti biar Ruby yang kirimkan ke nomor mu'',
''Bukan bang'',
__ADS_1
''Terus tentang apa?,atau jangan-jangan kamu suka dengan ku'',
Maya berdecak,''Bukan bang,ini tentang Ruby yang beberapa waktu lalu mendapat tetor serta ancaman di kampus,apa abang sudah tau tentang itu?'',
''Aku tak tau tentang itu'',ucap Sobri.
''Maka dari itu,aku minta tolong bang,jaga Ruby dengan lebih ketat apalagi sekarang Ruby hamil,kalau perlu gunakan bodyguard agar aman bang,''jelas Maya.
''Iya aku akan menjaganya'',ucap Sobri memberi isyarat Ferdiyan agar mendekat.
''Iya boss'',
''Aaaakhhh,Tolong,tolong'',seseorang berlari minta pertolongan.
''Ada apa itu?'',
''Ada apa bu?
''Seorang wanita muda terpeleset ditoilet dan pingsan'',
Belum selesai ibu itu memberi penjelasan Sobri segera berlari menuju toilet wanita,diikuti Ferdi juga Maya.
Terdengar suara tangisan''RUBY!!!'',pekik Sobri.
''Tolong kak,''lirih Ruby menoleh kearah suaminya,dia sedang memangku kepala Rara dipahanya.
''Rara'',pekik Maya dan menuju kearah Ruby.
''Bangun Ra'',ucap Maya menepuk pipi Rara
''Tolong Rara kak'',rengek Ruby saat dibantu berdiri oleh Sobri.
''Fer'',panggil Sobri.
''Siap bos'',ucap Ferdiyan segera membopong tubuh Rara diikuti Maya,sedang Ruby masih berada dalam pelukan Sobri.
''Kita pulang saja'',ujar Sobri
''Sahabat mu itu pasti baik-baik saja'',ucap Sobri menenangkan Ruby.
''Kita lihat kondisi Rara dulu kak'',
''Baiklah,setelah tau kondisinya kamu harus pulang dan istirahat'',ucap Sobri tak mau dibantah dan Ruby hanya mengangguk pasrah.
Dirumah sakit.
''Bagaimana dok'',tanya Maya.
''Pasien hanya pingsan dan tak ada luka yang serius,setelah sadar pasien boleh pulang,''
''Alhamdulilah'',
''Terimakasih dok'',
''Sama-sama,saya permisi dulu'',
''Silahkan dok'',
Maya menghembuskan nafas lega,''Bagaimana kondisinya?'',tanya Sobri kepada Ferdiyan.
''Saya tak tau bos,''jawab Ferdiyan dan Sobri hanya berdecak.
''May,bagaimana kondisi Rara?'',tanya Ruby.
''Rara tak apa Rub,hanya pingsan saja'',jawab Maya.
''Syukurlah'',ucap Ruby menelesik wajah Rara.
''Kondisinya sudah baik-baik saja kan,sekarang kita pulang ya,kamu juga butuh istirahat sayang'',bujuk Sobri.
''Tunggu Rara sadar dulu kak'',ucap Ruby.
''Tapi tadi'',
__ADS_1
''Please'',mohon Ruby,Sobri menghela nafas,''Kemari dan duduklah,ingat ada baby kita disini'',ucap Sobri menuntun Ruby untuk duduk disofa yang disediakan.
''Apa perlu kita periksa juga'',ucap Sobri sambil mengelus perut datar Ruby.
''Tidak perlu kak,aku dan dia baik-baik saja'',ucap Ruby memegang tangan suaminya yang masih menempel diperut.
''Kenapa Rara bisa pingsan Rub?'',tanya Maya.
''Saat hendak masuk ke toilet Rara mendahuluiku,kejadiannya begitu cepat dia terpeleset dan terjatuh kemudian tak sadarkan diri,'',jelas Ruby,Sobri yang didekat Ruby memeluk istrinya.
''Apa ada orang lain selain kalian berdua?'',tanya Sobri,Ruby menggeleng.
''Ini harus diselidiki,aku tak mau terjadi hal buruk pada istri dan calon anak ku'',batin Sobri.
''Oh mungkin Rara menggunakan sepatu yang licin,aku mau hubungi ayah Rara dulu'',ucap Maya keluar dari kamar rawat.
''Aduh,kepala ku'',desis Rara
''Ra,kamu sudah sadar'',ucap Ruby segera menghampiri brankar Rara.
''Auw,sakit kepala ku,sepertinya benjol'',ucap Rara sambil memegang kepalanya.
''Ra'',panggil Ruby,
''Hemm'',
''Siapa gue?'',tanya Ruby konyol.
''Gue enggak amnesia Rub'',ucap Rara menatap sahabatnya.
''Alhamdulilah,syukurlah kalau begitu'',ujar Ruby senang.Kemudian Rara tersentak'',Loe enggak kenapa-kenapa kan Rub?'',tanya Rara khawatir dan Ruby hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.
''Loe sudah sadar Ra,gue kira besok loe sadarnya'',celutuk Maya saat masuk kedalam kamar rawat.
''Ck,sakit tau,''
''Coba lihat,hahaha semakin cantik loe Ra'',ucap Maya kemudian menoyor bagian kepala yang dirasa sakit oleh Rara.
''Auw,sakit May'',pekik Rara.
''Sayang ayo kita pulang,Rara sepertinya sudah baik-baik saja'',ucap Sobri.
''Iya Rub,aku sudah tak apa,kamu pulang dan istirahat,kasihan calon keponakanku dia pasti juga capek'',ucap Rara.
''Wah,tumben lempeng ngomongan loe Ra,''ucap Maya dan mendapat tatapan tajam dari Rara.
''Baiklah,aku pulang dulu'',
''Iya,dan hati-hati Rub'',ucap Maya.
''Tolong jaga Ruby bang'',pinta Maya.
''Pasti,kami duluan'',ucap Sobri dan Diangguki oleh Rara serta Maya.
Setelah Ruby dan suaminya pulang,''May tadi yang bawa gue kerumah sakit siapa?'',tanya Rara.
''Gue lah,''jawab Maya.
''Oh'',
''Loe ngarep yang bawa loe kesini asistennya bang Sobri ya'',tebak Maya.
''Hehehe kok loe tau'',ucap Rara.
''Jangan-jangan loe tadi pura-pura pingsan ya'',tuduh Maya.
''Mana ada,gue beneran pingsan May,''ucap Rara menyangkal.
''Tapi kok gue tadi merasa melayang ya'',ucap Rara sambil tersenyum.
''Nah kan,loe pura-pura pingsan kan tadi'',ucap Maya.
''Gue beneran pingsan May,tapi waktu gue ditaruh brankar tadi memang sudah sadar sich'',ucap Rara sambil cengengesan.
__ADS_1