
Rara masih terpana,namun seorang itu berjalan acuh meninggalkan Rara.
''Wanita aneh'',gumam Ferdiyan alias Gondrong.
''Mbak,mbak enggak apa-apa kan'',seorang berseragam orange pembawa sapu menyadarkan Rara.
''Enggak apa bu,terimakasih'',ucap Rara mengambil beberapa lembar uang dan disakukan kepada ibu-ibu tukang bersih-bersih.
''Eh,enggak usah mbak'',tolak ibu-ibu.
''Tak apa buat ibu'',ucap Rara kemudian berlari kecil menuju mobilnya.
Persidangan berjalan lancar,dari semua bukti dari rekaman bu Sora dulu waktu menyatakan tak menerima kehadiran Keke sampai kapan pun dan juga video Keke saat dirumah sakit yang sangat membutuhkan Jouhari ayah kandungan hakim memutuskan hak asuh Keke jatuh kepada Jouhari selaku orang tua tunggal dan ayah kandung Keke.
Seruan hamdalah terucap dari Sobri Fikri serta ayah Imam,tak lupa juga ucapan terikasih kepada tim pengacara dan juga kepada Hakim pengadilan.
Sedangkan bu Sora mendapatkan kekalahan telak menatap sinis orang-orang tersebut,''Tak akan ku biarkan Jou mendapatkan kebahagian,aku akan membuat perhitungan'',gumam Bu Sora penuh amarah.
''Permisi bu'',sapa Sobri.
''Apa!!'',ketus bu Sora.
Sobri mendekat dan berbisik,''Saya hanya mengingatkan jauhi keluarga kakak ipar saya,atau bukti kejahatan yang ibu Sora lakukan terhadap saudara ipar saya Jouhari,akan saya buka disini,''ucap Sobri membuat bu Sora melebarkan kedua matanya,kemudian tanpa ba bi bu segera meninggalkan tempat itu.
''Bocah tengik sialan''.umpat bu Sora setelah memasuki mobilnya.
''Apa yang kau bicarakan?'',tanya Fikri.
''Hanya peringatan saja bang,ayo kita segera pulang aku tak sabar melihat gadis kecil kita'',ucap Sobri.
''Tak sabar melihat Naima atau rindu dengan istri mu,''goda ayah Imam.
''Dua-duanya ayah'',timpal Fikri dan Sobri hanya nyengir.
''Ayo segera pulang,ayah juga kangen dengan ibu'',ujar ayah Imam dan diangguki oleh Sobri serta Fikri.
Dibandara
Seorang gadis berjalan anggun dengan menyeret koper dengan dibuntuti seorang lelaki.
''Bu,bukankah itu mbak Naima'',ujar Ruby.
''Oh iya,dan panggil Naima saja,dia itu adik mu'',ujar bu Siti tegas.
''Hehe iya bu'',ucap Ruby
''Tapi dari segi umur dan wajah aku ini tetap adik kelasnya'',batin Ruby.
''Ibu'',panggil Naima menuju bu Siti dan berhambur memeluknya.
''Bagaimana perjalanannya?'',tanya bu Siti.
''Menyenangkan ibu mertua'',sahut Imran membuat Ruby dan Bu Siti menganga memandang Naima meminta penjelasan.
''Dia mahasiswa asal tanah air yang juga pulang berkunjung bu'',jelas Naima sedang Imran nyengir kuda.
''Berkunjung tempat calon mertua pastinya,perkenalkan nama saya Imran'',ucap Imran mencium punggung tangan bu Siti.
''Ibunya Naima'',ucap Bu Siti
''Ruby,kakak ipar mbak Naima'',ucap Ruby mengatupkan kedua tangan didada.
''Heay,aku ini adik mu,panggil Nai saja'',ucap Naima bergantian memeluk Ruby
''I-iya Nai'',canggung Ruby.
''Akh,kenapa abang-abang ku mempunyai istri lebih muda dari ku,apa aku harus operasi plastik agar lebih muda dari kalian,'',ucap Naima setelah melerai pelukan.
''Kami duluan nak Imran'',ujar Bu Siti setelah dirasa cukup basa basi.
''Iya ibu mertua,hati-hati dijalan'',ucap Imran sopan dengan senyuman manis sedang Naima memutar bola matanya malas.
''Siapa pemuda tadi nak?'',tanya bu Siti saat didalam mobil.
''Bukan siapa-siapa bu'',ucap Naima.
''Sepertinya dia menyukaimu'',ujar Ruby menatap Naima.
__ADS_1
''Hahaha,mbak Ruby bisa saja,tidak mungkin dia hanya pelajar yang kebetulan pulang dan duduk berdekatan dengan ku bu,mbak'',jelas Naima.
''Lumayan'',ucap Bu Siti.
''Ibu,dia bukan siapa-siapa'',rengek Naima membuat Ruby tersenyum seketika ingat dengan kakak nya yang suka merengek kepada mama Ratih.
''Mbak sudah isi belum?'',tanya Naima.
''Hah?'',bingung Ruby.
''Nai,tidak sopan bertanya seperti itu nak'',tegur bu Siti.
''Maaf bu,maaf mbak,hanya penasaran saja'',ujar Naima.
''Belum Nai,doa kan segera tapi jangan secepatnya,soalnya tugas kuliah masih banyak-banyak nya hehe'',ucap Ruby.
''Dikasih cepat juga enggak apa nak,rezeki'',ucap bu Siti dan Ruby mengangguk.
''Ok,aku tiba-tiba rindu dengan baby Al,sudah bisa apa sekarang'',
''Sudah bisa memiringkan badan tapi belum bisa berbalik'',tutur ibu Siti.
''Gara-gara Nai bu'',lirih Naima sedih.
''Yang sudah buat pelajaran jangan diulangi'',
Naima mengangguk,''Untuk acaranya berkonsep apa mbak?'',tanya Naima.
''Aku tidak tahu,coba nanti tanyakan kepada kakak mu'',ucap Ruby.
''Hanya acara kumpul keluarga nak,kita memperkenalkan keluarga baru,seperti Ruby,Jouhari juga baby Al,''jelas bu Siti.
''Aku kira acara resepsi bu'',ucap Naima.
Ruby hanya tersenyum kikuk,''Apa papa tak menginginkan resepsi pernikahan ku ya,disini aku diperkenalkan sebagai anggota keluarga namun dikeluarga kandungku....'',batin Ruby diam termenung.
''Bu,kita cari makan dulu yuk'',ajak Naima.
''Bagaimana nak?kita cari makan dulu apa langsung pulang?'',tanya bu Siti kepada sang menantu.
''Mbak Ruby'',panggil Naima membuyarkan lamunan Ruby.
''Mbak melamun ya?,''tebak Naima.
''Tidak,tidak,''elak Ruby.
''Kita makan dulu ya nak,sudah waktu makan siang'',ujar bu Siti.
''Boleh bu'',jawab Ruby.
''Mbak mau makan apa?'',tanya Naima.
''Apapun boleh,aku tak pernah memilah-milah soal menu makanan'',ucap Ruby.
''Mang ke resto abang Sobri saja'',ujar Naima.
''Baik non'',ucap sang supir.
Sedangkan Sobri bergegas mencari Ruby setelah sampai dikediaman Fikri.
''Mbak Vii,Ruby belum pulang ya?'',tanya Sobri saat Vii hendak ke dapur.
''Belum,mungkin masih dijalan,coba kamu hubungi ponselnya'',ucap Vilara.
''Tak aktif mbak,''ucap Sobri gelisah.
''Hubungi ibu coba'',ucap Vilara memberi ide.
Sobri segera menghubungi ibunya,''Assalamualaikum bu,ibu dimana?'',tanya Sobri.
''Ibu,Naima dan Ruby sedang makan siang di restauran mu nak'',jawab bu Siti.
''Sobri segera kesana'',ujar Sobri kemudian mematikan ponselnya.
Bu Siti mengerutkan dahi menatap ponselnya''Ada apa bu?'',tanya Naima.
''Abang mu mau menyusul'',ucap Bu Siti.
__ADS_1
Sobri yang keluar rumah tergesa-gesa membuat ayah Imam dan Fikri hanya menggeleng-geleng.
Vilara mencium punggung tangan Fikri saat suaminya menghampiri,''Sobri kenapa mas?'',tanya Vilara heran.
''Oh,itu dia sedang penasaran dan berharap dan bahagia dan...''belum selesai bicara Ayah Imam menyahut sambil bergeleng kecil melihat Fikri,Fikri hanya nyengir kuda.
''Tadi didalam mobil bertanya pada kami apa kiranya yang diberikan Keysha kepadanya nak'',sahut paman Imam karena melihat Fikri hendak mengerjai Vilara yang penasaran.
''Memangnya apa paman?'',tanya Vilara.
''Alat penguji kehamilan'',ucap Ayah Imam.
''Jadi Ruby,,,.'',ucap Vilara ikut bahagia.
''Belum yakin sayang,kata Sobri Ruby itu masih datang bulan'',ujar Fikri
''Makanya dia penasaran langsung mencari istrinya'',timpal ayah Imam.
Vilara mengangguk.
Di restauran.
Sobri berjalan menuju meja sang istri tanpa menjawab sapaan setelah mendekat kemudian memeluk Ruby,Ruby tersentak kaget.
''Eehheeemmm'',deheman Naima membuat Ruby tersenyum kikuk.
''Kakak kenapa?'',bisik Ruby,namun sepertinya sang suami enggan menjawab.
''Abang,waktunya yang dipeluk itu Nai'',sindir Naima.
''Hehe,kamu itu sudah besar tak perlu dipeluk abang lagi,bagaimana kabarmu gadis kecil'',tutur Sobri setelah melepas pelukan,dan Naima hanya memanyunkan bibirnya.
''Baik,mbak,ibu ayo kita pulang,''Ajak Naima.
''Ibu dan Nai saja yang pulang,Ruby biar disini denganku'',ucap Sobri.
Bu Siti hanya tersenyum dan mengangguk,''Ayo bu,lama-lama disini bisa-bisa kita jadi obat nyamuk'',kelakar Naima.
Bu Siti menggeleng kecil''Kita pulang dulu nak'',pit bu Siti.
''Iya bu,hati-hati'',ujar Ruby.
''Mbak,aku pulang'',teriak Naima sambil melambaikan tangan,sedang Ruby htersenyum dengan membalas lambaian.
''Ayo ikut aku'',ajak Sobri setelah adik dan ibunya pergi.
''Kita mau kemana kak?'',tanya Ruby namun Sobri tetap menuntun istrinya masuk kedalam ruangan.
''Cepat kekamar mandi dan gunakan ini'',perintah Sobri membuat Ruby mengerutkan dahi namun menerima kantong kresek.
''Cepat'',ujar Sobri mendorong pelan agar Ruby masuk kedalam kamar mandi,''Tapi ini apa?'',tanya Ruby.
''Itu tes apa ya?,pokoknya tes kehamilan,apa perlu aku temani'',ujar Sobri.
Ruby menghela nafas''Tapi Ruby enggak mungkin hamil kak'',ujar Ruby.
''Coba dulu,''kekeh Sobri,karena mbak Keysha memberi ini pasti ada sesuatu.
''Tapi kalau hasil nya tak sesuai harapan kakak bagaimana?'',tanya Ruby
''Tinggal kita bercocok tanam lagi'',jawab enteng Sobri,kemudian Ruby melangkah menuju kamar mandi mencoba alat yang diberikan suaminya.
Ceklek.
''Bagaimana hasilnya?'',tanya Sobri antusias
''Tunggu dulu beberapa menit'',ucap Ruby.
''Kenapa kakak berpikir aku hamil,hingga membeli tespeck segala?'',tanya Ruby sambil duduk disebuah kursi.
''Itu dari mbak Key,''ujar Sobri,Ruby hanya ber'O.
''Pasti mbak Vii'',batin Ruby.
''Aku yang akan melihat'',ucap Sobri masuk kedalam kamar mandi.
''Ruby...Ruby..'',panggil Sobri saat keluar membawa tespecknya.
__ADS_1
''Bagaimana?garis berapa?'',tanya Ruby pebasaran.
''Enggak ada garisnya'',jawab Sobri membuat Ruby terkekeh.