
Diapartemen
"Kak besok aku mau jenguk Rara'',ucap Ruby meminta izin.
''Iya'',jawab Sobri dengan mata tetap fokus pada layar laptopnya.
''Besok aku juga sudah mulai masuk kuliah lagi'',sambung Ruby memberitahu.
''Iya'',jawab Sobri tanpa menoleh kearah Ruby.
''Besok aku mau kencan'',ucap Ruby karena seperti diacuhkan.
''Iya'',jawab Sobri santai,dia tak melihat raut istrinya yang sudah bete.
''Dengan Ferdy'',ucap Ruby.
''Iy,Apa!!",kaget Sobri sontak menatap wajah cemberut Ruby.
"Ferdy hanya sekedar mengantar jemput isriku ini,bila suaminya memang benar-benar sibuk'',tutur Sobri mendekati Ruby yang tengah duduk ditepian tempat tidur.
''Makanya jangan duakan aku dengan laptop mu itu'',protes Ruby.
''Maaf,''ucap Sobri mengelus pipi Ruby,namun sang empu memanyunkan bibirnya,''Manjanya,''ucap Sobri sambil tertawa kecil.
''Apa salahnya bermanja dengan suami sendiri,''ucap Ruby.
''Tak ada yang salah sayang,besok mau jam berapa menjenguk Rara?'',tanya Sobri sambil duduk dan menyenderkan kepala Ruby dicerk lehernya.
''Setelah kuliah saja'',jawab Ruby sambil tangannya melingkar memeluk tubuh Sobri.
''Baiklah'',ucap Sobri,Sobri mulai fokus dengan ponselnya yang tidak berhenti bergetar,walaupun dengan sang istri yang terus mempererat pelukan''Kak'',panggil Ruby.
'''Hem'',sahut Sobri.
''Apa kakak bahagia bersama dengan ku?'',tanya Ruby,Sobri menatap wajah Ruby yang menatap nya,Sobri tak menjawab hanya mencium bibir sang istri dengan lembut,kemudian melanjutkan mengotak atik ponsel.
"Kak",Rengek Ruby.
"Bahagia sayang",jawab Sobri.
"Bohong",ucap Ruby.
"Mas mu ini,papa dari calon anak-anak mu ini,membuktikan cinta kasih sayang dan bahagia lewat tindakan tak perlu lewat lisan,karena lisan bisa saja berdusta,"ujar Sobri,Ruby hanya menatap tanpa respon.
"Atau jangan-jangan kamu yang tak bahagia denganku",goda Sobri,membuat Ruby menatap tajam dengan raut wajah tak suka.
"Kok jadi Ruby",sewot Ruby.
__ADS_1
"Ya,siapa tau hati mu masih bertaut dengan kakak ipar mu",ucap Sobri.
"Ck,mana ada,bang Furqon itu hanya Ruby anggap abang saja tak lebih,saat kakak mengucap ijab qobul disitu juga Ruby sudah mempatenkan cinta Ruby hanya untuk suami Ruby",jelas Ruby.
"Benarkah??,namun kalau hanya dianggap abang tapi saat dikhitbah mau",goda Sobri.
"Ruby belum memberi jawaban ''iya'',sangkal Ruby emosi,mungkin karena hormon kehamilan membuat Ruby jadi susah mengendalikan emosinya.
"Namun memberi harapan",ucap Sobri.
"Sebel sama kakak",
''Loh,mau kemana?'',
''Mau pergi,mau cari suami lagi'',
''Eh,''Sobri terkejut dan segera mengejar Ruby.
''Sayang'',panggil Sobri namun Ruby tetap melangkah.
''Mau kemana ini sudah malam'',ucap Sobri membuat Ruby berhenti melangkah.
''Hiks,hiks,aku capek kak dari dulu hingga sekarang tak ada yang pernah benar-benar percaya dengan apa yang aku katakan,seolah aku ini hanya pembual saja,perjuanganku jauh dari keluarga ku agar keluarga besar papa dan mama bisa memandangku kelak saat aku sudah sukses tanpa embel-embel nama besar papa,namun apa tiba-tiba beliau berniat menjodohkan ku,saat itu yang ada dalam fikiranku hanya bisa selesai kuliah mencari kerja atau membangun bisnis dari nol,aku memanfaatkan bang Furqon untuk menjadi tamengku,saat itu aku berbohong kepada papa bahwa bang Furqon calon imamku,beliau setuju namun diluar rencana dan mungkin takdir kejadian dimana bang Furqon tidur bersama kak Fira dan akhirnya mereka menikah'',
''Aku,aku ikhlas karena memang tak ada rasa dengan bang Furqon,namun kegelisahan hati kembali muncul saat mama kandungku menuduhku ingin merebut suami kakak ku,huuh mereka pikir aku mau dengan bekas kak Safira,''
''Apa kakak masih tak percaya pada ku?'',
''Tsssuutt,kakak percaya dengan mu saat ini dan selamanya'',ucap Sobri segera membawa Ruby kepelukanya,Dalam dekapan sang suami Ruby bingung kenapa dia bisa secengeng ini,dan apa tadi dia mengeluarkan unek-unek yang biasanya dia pendam atau hanya bercerita dengan Vilara saja,entahlah yang penting sudah plong,batin Ruby.
''Sudah lega?'',tanya Sobri,Ruby mengangguk.
''Mau jalan-jalan?'',tanya Sobrim
''Tapi sudah malam,dan aku hanya menggunakan daster'',ucap Ruby melihat kembali dirinya,daster dan sandal rumahan.
''Tak apa,kita bisa jalan kaki diluar gedung'',ajak Sobri supaya suasana hati sang istri kembali baik.
''Apa kakak tidak malu?'',tanya Ruby.
''Tidak,asal yang bersama kakak adalah dirimu'',hawab Sobri membuat Ruby tersipu.
''Baiklah'',ucap Ruby,dengan tangan yang bertaut mereka berdua keluar loby apartemen.
Sobri merangkul bahu Ruby,''Capek?'',tanya Sobri,Ruby menggeleng sambil tersenyum.
''Kakak bawa ponsel?'',
__ADS_1
''Bawa'',ucap Sobri menyodorkan ponselnya,Ruby mengambil dan mengarahkan kamera,cekrek.
''Satu lagi'',ucap Sobri memeluk Ruby dari belakang sambil mencium pipi putih Ruby,cekrek.
''Bagus'',ucap Sobri melihat foto selfie mereka berdua.
''Boleh aku posting disosial media kak?'',
''Boleh'',ucap Sobri,Ruby segera memposting dengan #Bahagia itu sederhana tak harus mahal yang penting bersama orang yang disayang itu sudah special.
''Boss'',
''Kau mengagetkanku'',ucap Sobri.
''Maaf boss'',
''Ada apa?'',
''Hanya mengantar beberapa dokumen bos'',
''Bawa sini'',
''Bukannya angin malam tak baik untuk wanita hamil'',
''Aku sudah tau ini juga mau masuk kedalam'',
''Ayo sayang'',
''Kalau begitu saya permisi bos'',
''Iya sana,mengganggu saja'',
Ferdiyan hanya mengangguk sambil tersenyum,kemudian pergi meninggalkan tempat itu.Ditempat lain,''Sok mesra banget'',jengkel Safira saat melihat postingan Ruby,kemudian menghubungi seseorang.
''Hallo,tante lihat foto yang aku kirimkan tadi,''ucap Safira saat sambungan telepon tersambung.
''Iya sayang tante melihatnya'',
''Menyebalkan bukan'',gerutu Safira.
''Apanya yang menyebalkan?,bukan kah wajar'',
''Ish tante,lihatlah dia seolah menunjukan bila dia lebih bahagia ketimbang aku'',ucap Safira.
''Terus mau kamu bagaimana sayang,keponakan tante yang sempurna'',
''Aku ingin membuat perhitungan'',ucap Safira dengan menahan amarah,sedangkan tantenya yang mendengar hanya tersenyum tipis.
__ADS_1