Jodoh Dalam Doa

Jodoh Dalam Doa
47


__ADS_3

Dirumah sakit.


Keysha tengah berkirim pesan dengan Gondrong tentang apa yang sebenarnya terjadi.


''Di tempat kejadian kecelakaan tak ada rekayasa,hanya saja sopir minibus yang mengerem mendadak tak bisa ditanyai keterangan karena mengalami buta,patah tangan dan yang mengejutkan ternyata dia bisu'',Keysha membaca secara cermat apa yang dikirim Gondrong.-


Keysha menghela nafas berpikir sejenak siapa saja korban dari kecelakaan ini,''Sopir minibus,''gumam Keysha.


Keysha segera mengambil air wudhu agar pikiran nya menjadi jernih,dia juga melaksanakan kewajibannya,melantunkan dengan merdu hafalan Qur'an nya hingga menggema diruang rawat Jouhari.


Setelah selesai Keysha mengirim pesan kepada Weding Organizer akan pengunduran acaranya dan memberitahu alasannya.


Dikediaman bu Sora.


''Mama'',teriak Dewi.


''Ada apa?,kenapa teriak-teriak?'',tanya bu Sora yang tergesa karena teriakan putrinya.


''Apa yang mama lakukan,kenapa mama menjadi jahat sich ma,apa salah bang Jou hingga mama mencelakainya,kasihan Keke ma.''ucap Dewi.


''Mama tidak melakukan apa-apa?,dan masalah kecelakaan itu mungkin sudah takdir Jou,kalau Keke kan masih ada mama Oma nya'',ucap bu Sora.


''Ma,aku berharap bukan mama dalang dalam kecelakaan ini,''ujar Dewi.


''Memang bukan mama,mama masih ada dipengadilan saat kecelakaan itu terjadi'',ucap bu Sora.


''Kenapa mama tau waktu kecelakaan itu?'',tanya Dewi curiga.


''S-sebab pengacara Jou masih disana dan mendapat kabar bila Jou kecelakaan dari ponsel yang terakhir kali Jou hubungi'',ucap bu Sora sedikit gugup.


''Benarkah itu ma?'',tanya Dewi seperti tak percaya.


''Benar dan bukannya bagus bila memang itu terjadi,jadi hak asuh Keke bisa jatuh ketangan mama,apa kamu tidak senang bila Keke putri Raya bersama kita?'',ucap bu Sora.


''Senang ma,tapi Dewi tak akan membela mama bila kira nya mama benar dalang dari ini semua'',ucap Dewi.


''Terserah kamu,kamu itu tak pernah percaya dengan mama,tak seperti kakak mu'',ucap bu Sora kesal dan meninggalkan Dewi.


Dewi menghela nafas,''Aku tak ingin mama menjadi penjahat berbuat semau mama tanpa memikirkan akibat nya'',lirih Dewi menatap punggung mama nya yang sudah menjauh.


Di kediaman Fikri.


Paman Imam dan bu Siti baru saja tiba,mereka langsung disambut oleh Fikri dan Vilara.


''Bagaimana nak kabar mu?'',ucap bu Siti memeluk Vilara.


''Baik bu,ibu juga sehat kan?'',tanya Vilara melerai pelukan.


''Alhamdulilah sehat nak'',ucap Bu Siti dan melangkah masuk kedalam rumah.


''Mbak Yu kemana nak?'',tanya paman Imam.


''Sedang ada dirumah ayah dan bunda paman'',ujar Fikri.


''Kenapa disana?'',


''Katanya ada sesuatu yang harus diurus bersama dengan Gondrong dan yang lainnya'',jelas Fikri.


''Pengantin baru tak ikut ini bu?'',tanya Vilara.

__ADS_1


''Mungkin nanti mereka akan menyusul nak''.ujar paman Imam.


''Minum dulu paman dan bibi'',ucap Fikri yang membawa nampan berisikan cemilan serta teh hangat.


''Wah,asistennya ganteng begini,berapa kira-kira gaji nya'',canda paman Imam.


''Gajinya hanya melihat senyum sang nyonya saja'',ucap Fikri sambil mengerlingkan sebelah mata kepada Vilara.


''Sekarang sudah kembali nakal lagi Fikrinya yah'',ucap bu Siti membuat Vilara tersipu sedang Fikri dan paman Imam terkekeh.


''Nak Vii,kapan baby Al dibawa pulang?'',tanya bu Siti.


''Lusa bu'',ucap Vilara.


''Orang tua mu sudah pulang nak?'',tanya paman Imam.


''Sudah paman,kalau disini kelamaan kasian Anan dan Mala nanti tertinggal jauh dengan pelajaran'',uhar Vilara.


''Bu,ayah dan Fikri mau menemui mbak yu Khodijah dulu,''izin paman Imam.


''Iya hati-hati yah'',ucap Bu Siti.


''Sayang,aku ikut paman dulu ya'',ucap Fikri lembut.


''Iya sayang,udah sana hus hus'',jawab bu Siti membuat Vilara tersenyum dan mengangguk kecil.


Sepeninggal paman Imam dan Fikri hanya bu Siti dan Vilara diruang tamu.


''Bu,kapan Naima pulang?'',tanya Vilara.


''Nanti nak,setelah masalah ini menemukan solusi nak'',jawab bu Siti memegang jari jemari Vii.


''Amin ya Allah'',ucap bu Siti.


Pagi hari dikampus.


''Santi'',panggil Rara,dan si empu melambai.


''Ada apa?,kok tumben ngajak ketemuan pagi-pagi?'',tanya Rara penasaran.


''Ingin saja'',jawab Santi santai sambil menyeruput teh hangatnya.


''Maya dan Ruby mana?'',tanya Rara clingak clinguk.


''Masih di jalan mungkin'',ucap Santi sambil terdiam sesaat


''Kok loe seperti memikirkan sesuatu San?'',tanya Rara.


''Ra,ini buat loe'',ucap Santi memberikan sebuah kotak kecil.


''Apaan ini?'',tanya Rara.


''Buka saja'',ucap Santi dengan senyum.


''Waaah,gila loe ini beneran loe kasih ke gue'',ucap Rara seperti tak percaya Santi memberikan jam tangan mahal.


''Beneran buat kenang-kenangan'',ucap Santi santai.


''Emangnya loe mau kemana?,kok kasih kenang-kenangan segala,loe jangan ingkar janji ya San,kita itu harus pakai toga sama-sama'',ucap Rara dan hanya ditanggapi Santi dengan senyuman.

__ADS_1


''Assalamualaikum guys'',ucap Maya setelah sampai.


'Waalaikumsalam Ruby mana May?'',tanya Rara dan Maya menghela nafas.


''Dia nya mau ikut suaminya terbang'',ucap Maya duduk disamping Santi dan meminum teh hangat milik Santi.


''Suami Ruby siluman burung ya?'',tanya Rara.


Santi terkekeh dan Maya menggaruk kepalanya.


''Teman loe tu San'',bisik Maya,


''Jelasin'',tutur Santi kepada Maya.


''Maksud gue,Ruby itu ikut naik pesawat keluar kota dengan suaminya'',jelas Maya dan Rara ber'O.


''Bagus lah kalau Ruby ikut suaminya'',ujar Santi.


''Kok bagus?,kita jadi enggak lengkap dong formasinya'',ucap Rara merengut.


''Jam siapa ini?'',tanya Maya melihat kotak jam.


''Jam gue dong'',sahut Rara mengambil jamnya dan memakainya.


''Ini juga buat loe''.ucap Santi mengambil kotak kecil dari dalam tas nya dan memberikan kepada Maya.


''Acara apaan nich,tumben sang perinci keuangan luber-luber'',ucap Mata mengambil kotak itu.


''Entah lah,gue merasa ada sesuatu yang akan terjadi,oh ya May ini nanti tolong kasih kepada Ruby ya'',ucap Santi menyodorkan kotak jam lagi.


''Loe saja lah,seperti loe mau pergi jauh saja'',ucap Maya menolak.


''Wah May,kita couplean'',ucap Rara girang dan Maya mengangguk.


''May,Ra dengerin gue,gue mau ngasih misi sama kalian berdua'',ucap Santi membuat Rara dan Maya saling pandang.


''Kalau misal gue enggak ada loe berdua harus menjaga Ruby,loe berdua harus bisa membuat Ruby tak keras kepala lagi,beri pengertian dia,gue tau loe berdua orang yang tepat yang bisa gue andelin untuk melaksanakan misi ini'',ucap Santi membuat Rara dan Maya hanya saling pandang dan mengerutkan dahi.


''Kenapa loe seolah seperti seorang agen atau apalah begitu sich San,dan kenapa Ruby harus kita jaga coba'',ucap Maya dan Rara mengangguk sedang Santi hanya tersenyum.


Di dalam pesawat.


''Kak'',panggil Ruby.


''Kenapa?'',tanya Sobri.


''Nanti disana kita foto-foto ya'',ucap Ruby.


''Untuk apa?'',tanya Sobri.


''Untuk memberitahu sahabat-sahabat aku kak,kalau aku punya suami'',jawab Ruby.


''Kalau hanya ingin pamer suami tinggal fotocopy saja buku nikah beres kan tanpa harus foto lagi'',ucap Sobri enteng dan memejamkan mata sambil menyederkan kepala nya membuat Ruby cemberut.


Ruby menatap kearah luar melihat sekumpulan awan,Ruby menghela nafas.


''Padahalkan aku ingin foto mesra seperti kak Fira bersama bang Furqon,setidaknya walaupun tak honeymoon ada potret berdua begitu'',batin Ruby yang tadi sebelum berangkat mendapat kiriman foto dari kakaknya membuatnya sedikit iri.


''Asstagfirulohalazim,hamba tak berniat iri ya Allah'',lirih Ruby sambil mengelus dada kemudian memejamkan mata.

__ADS_1


Sedangkan Sobri hanya melirik sang istri dengan senyum tipis penuh misteri.


__ADS_2