Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Tabrak Lari


__ADS_3

"Amel..." teriak Indra saat melihat tubuh Amel yang sudah tidak berdaya di jalan raya.


Amel ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab dari belakang yang kabur begitu saja.


"Amel bangun" teriak Indra mendekap tubuh Amel. Di sana sudah banyak orang yang mendekat untuk membantu. Karyawan yang bekerja di kantor Indra juga berlari keluar saat mendengar tabrakan dari luar sana.


"Cepat panggil ambulance" teriak Indra yang sudah khawatir. Namun, tidak bisa menunggu lama dia pun membawa tubuh Amel ke dalam mobilnya kemudian membawanya ke Rumah sakit milik orang tuanya.


"Dokter" panggil Indra sambil menggendong tubuh Amel masuk dalam rumah sakit. Setah melihat kedatangan Indra, dokter dan perawat yang ada langsung bergegas menghampiri Indra


"Silahkan tuan baringkan nona di sini, biar kami yang membawanya" kata salah perawat yang membawa bangsal. Namun, Indra tidak memperdulikannnya, dia tetap membawa Amel sampai ke ruang ICU


"Cepat panggilkan dokter terbaik di rumah sakit ini" kata Indra khawatir


"Baik tuan. Maaf, tuan bisa menunggu di luar dulu" ucap salah satu perawat di sana. Kemudian Indra pun keluar dari ICU, tidak lama kemudian Jay datang


"Cari tahu siapa yang sudah menabrak Amel" perintah Indra kepada Jay


"Baik pak" jawab Jay


"Dan satu lagi, jangan beri dia ampun" lanjut Indra


"Baik pak" jawab Jay lalu bergegas pergi untuk mencari tahu orang yang menabrak Amel


Indra merasa bersalah atas kecelakaan Amel. Dia sudah sangat khawatir dan terpukul melihat Amel terbaring tidak berdaya, darah segar mengalir di tubuh Amel masih terbayang-bayang di ingatan Indra yang membuat air matanya jatuh. Sedangkan dokter masih di dalam menangani Amel


Tidak lama kemudian, orang tua Amel dan orang tua Indra sudah datang bersamaan.


Sebelumnya Indra telah menelfon orang tuanya tentang kecelakaan Amel lalu meminta orang tuanya untuk menjemput Imron dan Fatma di kos Amel karena dia tidak berani menelfonnya langsung


"Bagaimana keadaan Amel?" Tanya Fatma yang sudah menangis khawatir


"Dokter masih menanganinya tante" jawab Indra dengan mata sembabnya


"Sebenarnya apa yang terjadi nak?" Tanya Irna


"Ini kesalahan aku bunda. Kami tadi sempat berdebat lalu Amel berlari keluar ke jalan raya karena sedih, tapi tiba-tiba ada mobil dari belakang yang menabrakanya" jelas Indra yang merasa bersalah


"Sudah nak, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir" jelas Irna kepada anaknya. Karena dia kasihan melihat Indra yang sangat terpukul


"Klekk" Suara pintu terbuka.


Saat melihat dokter sudah keluar mereka semua dengan cepat menuju ke arah dokter


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Fatma khawatir


"Maaf bu, saat ini pasien dalam keadaan koma. Benturan di kepalanya yang sangat keras membuatnya tidak sadarkan diri sampai saat ini" jelas dokter


Semuanya sangat terpukul saat mendengar penjelasn dokter

__ADS_1


"Apa kami sudah bisa masuk?" Tanya Indra


"Bisa... tapi hanya 1 orang saja yang bisa masuk" jelas dokter


"Baik dok. Terima kasih" ucap Fatma


"Tante masuk saja duluan" ucap Indra


"Baik nak, makasih pengertaiannya" ucap Fatma lalu masuk ke dalam ruang ICU tempat Amel di rawat


Dia tidak mampu melihat anaknya terbaring lemah seperti sekarang ini. Air matanya jatuh ke pipinya yang tidak bisa dia tahan


"Bangun nak" ucap Fatma dengan isakannya lalu mencium kening Amel. Tidak lama kemudian dia keluar dari sana, karena dia tidak sanggup lagi melihat Amel


"Sudah mah?" Tanya Imron


"Iya pah..." jawab Fatma yang kemudian menangis di pelukan suaminya


"Pah.. Amel" ucap Fatma di sela-sela tangisannya


"Iya mah, mama yang kuat. Kita doakan Amel akan baik-baik saja" jelas Imron, padahal sebenarnya dia juga sangat terpukul dengan keadaan putrinya, tapi dia harus terlihat tegar untuk menenangkan istrinya


"Ayah... Bunda... aku masuk dulu" pamit Indra ke orangtuanya dan diangguki oleh mereka


"Om... tante.. aku masuk dulu" pamitnya lagi ke orang tua Amel. Biar bagaimana lun dia harus hormat kepada orang tua Amel


Setelah dia sudah berada di dalam ruangan, hatinya sangat hancur melihat Amel terbaling lemah dan tidak berdaya dengan bantuan pernapasan


"Maafkan aku, ini semua salahku" ucapnya lagi


"Bangun Mel" ucapnya dengan suara tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Amel


"Aku janji akan menemukan orang yang menabrakmu. Aku tidak akan memaafkannya" ucap Indra geram.


"Mel... bangun. Aku benar-benar tidak suka melihatmu begini"


"Aku tidak mau membatalkan perjodohan ini"


"Aku mencintaimu Mel. Hanya kamu seorang tidak ada wanita lain"


"Maafkan aku karena sudah kasar ke kamu"


"Bangun Mel...." lirih Indra dengan tangisannya, dia mengajak Amel mengobrol


"Mel... apa kamu ingat saat pertama kali kita ketemu, Kamu tidak sengaja menabraku. Sebenarnya waktu itu aku tidak benar-benar marah"


"Apa kamu ingat waktu aku minta nomor ponsel kamu? Sebenarnya itu hanya alasan aku saja biar bisa dapat nomor kamu" ucap Indra yang sesekali senyum-senyum mengingat itu semua


"Aku keluar dulu, cepat sembuh Mel" ucap Indra sambil mencium kening Indra lalu beranjak keluar.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruangan itu, dia mencari tempat untuk menelfon Jay supaya tidak ada yang mendengar ucapannya


"Hallo pak" jawab Jay dari seberang sana


"Bagaimana... sudah kamu temukan orangnya?" Tanya Indra yang sudah tidak sabar mendengar


"Iya pak saya sudah tahu orangnya. Mungkin bapak tidak akan percaya setelah mendengar namanya" jelas Jay


"Siapa?" Tanya Indra penasaran


"Ririn pak. Ririn yang telah menabrak Amel" jawab Jay


"Apa? " Ucap Indra dengan geram


"Sekarang dia dimana?" Tanya Indra lagi


"Dia sudah aku sekap" ucap Jay


"Kamu kirimkan lokasinya, Aku segera kesana" ucap Indra lalu mematikan panggilannya dan kembali bergabung dengan keluarganya


"Kamu dari mana?" Tanya Hendra


"Oh ini... tadi ada telfon dari klien" jawab Indra berbohong


"Oh iya... aku pamit dulu ada sedikit urusan, nanti aku ke sini lagi" pamit Indra ke orangtuanya dan orang tua Amel


"Iya nak" ucap Irna dan Fatma hanya mengangguk pertanda mengizinkan


Kemudian Indra beranjak dari rumah sakit menuju ke tempat penyekapan Ririn


"Di mana dia?" Tanya Indra setelah sampai


"Dia ada di dalam pak" jawab Jay


Kemudian Indra masuk ke dalam dengan emosi yang sudah tidak bisa dia tahan


"Plakkk"


Tamparan yang mendarat di pipih Ririn.


"Apa maksudmu mencelakai Amel"


"Ada urusan apa kamu dengannya?" Tanya Indra


Namun, Ririn tidak menjawab pertanyaan Indra, dia memilih untuk diam


"Jawab!" Bentak Jay, karena Ririn tidak menjawab pertanyaan Indra yang membuat Ririn ketakutan


"Aku melakukan ini karena aku tidak suka melihat Amel dekat dengan pak bos" ucap Ririn

__ADS_1


"Urus dia, jangan beri ampun" ucap Indra mentugaskan semuanya ke Jay lalu beranjak pergi dengan wajah kesalnya. Sebenarnya dia bisa saja dengan mudah mengurus Ririn dengan tangannya sendiri, tapi dia tidak mau mengotori tangannya hanya mengurus wanita itu. Dia mempercayai semuanya ke Jay


^_^


__ADS_2