
Di tempat kejadian, Andi masih terdiam memandang kepergian Amel dan Indra sampai benar-benar mereka hilang dari pandangannya.
"Maafkan aku karena sudah mencintai Anda," lirihnya dalam hati dengan sendu. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan tujuan utamanya untuk menjenguk ayahnya neneknya di rumah sakit.
Sebelumnya, Andi mendapatkan kabar bahwa neneknya masuk rumah sakit karena jatuh di dalam kamar mandi. Tanpa menunggu lama, ia segera bergegas minta izin kepada manager-nya untuk menjenguk neneknya. Dan untungnya manager-nya sedang berbaik hati dan mengizinkannya.
Sebelum masuk di dalam rumah sakit, ia berniat untuk membeli makanan untuk neneknya di cafe seberang jalan. Namun, di tepi jalan ia melihat wanita yang sedang menyebrang yang tidak lain adalah Amel. Ia segera berlari menghampiri Amel dan menarik tangannya saat melihat mobil yang sudah hampir menabrak Amel.
Tapi ... naas. Niatnya untuk menolong malah membuat masalah baru bagi Amel.
Sedangkan di tempat yang tidak jauh dari sana, ada wanita yang sedang mengumpat karena gagal menabrak Amel. Meskipun rencananya gagal, ia sedikit menyunggingkan senyum liciknya karena keberuntungan sedang berpihak kepadanya.
"Shiitttt ... sial," umpatnya dengan memukul stir mobil.
__ADS_1
Wanita itu memang sudah merencanakannya dari awal. Saat anak buahnya memberikan info keberadaan Amel, ia segera menuju ke rumah sakit untuk menunggu peluang di saat Amel sedang sendiri. Yah, sudah 2 hari ini ia selalu menunggu di luar dan mengamati keadaan di sana semenjak mengetahui Irna jatuh sakit. Dan ... saat melihat Amel keluar sendiri, ia tidak mau melewati kesempatan itu. Dengan kecepatan di atas rata-rata ia segera menancapkan mobilnya ke arah Amel. Dan naas, rencananya harus gagal karena Amel di selamatkan oleh seseorang.
"Rencanaku kali ini memang gagal, tapi lihatlah, Mel. Bahkan keberuntungan sedang berpihak kepadaku," ucapnya dengan tersenyum smirk. Ia mengingat bagaimana tadi Indra menyeret Amel masuk ke dalam mobil dengan kasar.
****
Sesampainya di rumah baru mereka, Indra menarik dengan paksa masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Para pekerja yang melihatnya hanya bisa diam membisu. Mereka takut ikut campur urusan tuannya.
"Lepas, Mas. Apa-apaan sih kamu," ucap Amel sambil berusaha melepaskan cengkraman suaminya. Namun, Indra tidak menggubrisnya sama sekali.
Tanpa menunggu lama, dengan raut wajah yang masih dipenuhi dengan emosi, Indra tiba-tiba menarik tengkuk Amel mendekat ke arahnya dan mencium bibir Amel dengan kasar.
Amel hanya bisa menangis sesenggukan yang diperlakukan tidak senonoh oleh suaminya. Tidak terasa matanya menitikan air mata. Indra tidak bergeming sama sekali, ia tetap melanjutkan aksinya yang brutal itu.
__ADS_1
Kemudian, dia mendorong Amel ke tempat tidur dan melucuti semua pakaian Amel. Dan terjadilah yang seharusnya terjadi, ia melakukannya dengan kasar. Membuat Amel meringis kesakitan dibuatnya.
"Kamu jahat, Mas. Kamu benar-benar sudah berubah," lirih Amel dalam hatinya dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
Setelah melakukan aksinya, Indra berlalu menuju ke arah kamar mandi.
"Itu hukuman untukmu. Kamu harus tahu aku tidak suka dengan pengkhianatan," ucapnya sebelum masuk ke kamar mandi.
"Hiks ... kamu salah paham, Mas," ucap Amel sesenggukan. Namun, Indra tidak mendengarnya karena sudah berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Indra juga menyesali perbuatannya terhadap Amel. Tapi, karena emosi yang sudah menguasai dirinya tidak bisa memaafkan Amel begitu saja. Ia memberikan sedikit pelajaran kecil kepada Amel. Yah, menurutnya kecil tapi bagi Amel itu sudah di luar batas normal.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Indra lalu keluar dan meninggalkan Amel di kamarnya. Tidak lupa dia juga menguncinya.
__ADS_1
"Hikss ... hiks ...."tangisan Amel semakin menjadi-jadi. Ia tidak habis pikir dengan Indra. Kenapa sikapnya berubah seketika.