
Alya membuka pintu dengan pelan diikuti Jay di belakangnya lalu memberikan rekaman itu kepada Indra.
"Puas kamu?" ucap Alya dengan suara pelan agar tidak mengganggu istirahat bundanya.
"Maksud kamu?" tanya Indra dengan penasaran.
"Kamu lihat sendiri! aku benar-benar tidak menyangka kamu berbuat seperti itu sama Amel," ucap Alya.
Karena penasaran apa yang diucapkan dengan Alya, Indra pun segera duduk di kursi lalu membuka rekaman itu.
Sungguh, ia sangat menyesal dengan perbuatannya terhadap Amel setelah melihat rekaman itu. Dimana Amel yang hampir ditabrak mobil dan dirinya malah berbuat kasar apalagi di tempat umum.
"Maafkan aku sayang, seharusnya aku mendengarkan penjelasan kamu," ucapnya lalu mengusap wajahnya dengan gusar, "seharusnya aku melindungi kamu bukannya merendahkanmu seperti ini."
"Makanya jadi cowok itu jangan emosian," ucap Alya, "aku sadar seharusnya aku tidak ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian, tapi kamu jangan lupa kalau aku sahabatnya Amel. Aku tidak mau melihat ada yang menyakiti sahabatku baik itu Amel maupun Widya," jelasnya dengan penuh penekanan. Iya, saat ini Alya benar-benar kesal.
__ADS_1
"Sudah, Mel," ucap Jay menyela pembicaraan mereka. Karena tatapan Alya yang kurang bersahabat terhadapnya, Jay pun berusaha menjelaskan kembali.
"Eh, maksud aku bukan begitu. Maksud aku kita juga harus mengerti posisi Tuan. Eh, itu kita sebaiknya jangan ikut campur biarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua," jelasnya gugup.
"Apa sih, bicara yang jelas," ucap Alya yang mulai meredah.
Iya, Jay juga tidak tahu apa yang dia katakan. Entah kenapa saat ini dia merasa sangat gugup. Apa karena melihat sorotan mata Alya yang kurang bersahabat atau karena hal lain, entahlah.
"Kalian jaga Bunda yah," ucap Indra lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Kamu mau kemana?" tanya Alya, tapi sayang Indra berlalu begitu saja.
Di tempat tidur terlihat Amel yang berbaring dengan menatap ke arah langit-langit. Saat mendengar suara langkah kaki, ia berpura-pura untuk tidur dan membelakangi pintu.
"Sayang," suara lembut Indra memanggil Amel setelah masuk dalam kamar. Namun, tidak ada jawaban dari Amel.
__ADS_1
Indra dengan perlahan mendekati Amel dan membelai lembut rambutnya.
"Sayang ... aku tahu kamu tidak tidur, aku minta maaf," ucapnya dengan lembut, "aku menyesal sudah berbuat kasar sama kamu, maafkan aku," lanjutnya lagi dengan penyesalan.
Ia kemudian mengambil posisi ikut berbaring di belakang Amel lalu memeluknya dari belakang. Karena merasa risih, Amel menggerakkan tubuhnya untuk terlepas dari pelukan Indra.
"Maafkan aku. Seharusnya aku percaya sama kamu," lirihnya lalu memeluk kembali Amel dengan erat. Kali ini tidak ada penolakan dan tidak ada suara.
Amel masih merasakan pelukan Indra, hatinya sangat sakit saat mengingat perlakuan kasar Indra. Tapi, dia juga tidak bisa pungkiri, saat ini ia tersentuh dengan kelembutan Indra. "Apakah Indra benar-benar menyesali perbuatannya?".
Mereka berdua masih hanyut dengan perasaannya masing-masing. Tiba-tiba isak tangis Alya yang sangat pilu terdengar ditelinga Indra. Kali ini Indra benar-benar merasa bersalah atas perbuatannya.
Indra bangkit dari posisinya dan mengambil tempat di depan Amel. Saat ia hendak berbaring, Amel malah bangkit duduk.
Indra tidak menyerah, ia memposisikan tubuhnya dengan Amel. Saat ini mereka duduk berhadapan, Indra meraih tangan Amel dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku harus bagaimana supaya kamu memaafkanku?" lirihnya.
"Tidak semudah itu, Mas. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Dengan mudahnya kamu menuduhku selingkuh," ucap Amel, "kamu anggap aku apa, Mas. Serendah itu kah aku di mata, Mas?" lirihnya. Indra benar-benar tidak bisa melihat Amel menangis seperti ini. Dan penyebab Amel menangis karena dirinya sendiri.