Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Di Antara Dua Pilihan


__ADS_3

"Argghhh," lirih Amel menahan kesakitan. Darah mengalir kemana-mana, keringat dingin pun sudah membanjiri tubuh Amel. 


"Bagaimana rasanya?" tanya Nadia dengan tangan masih memegang sebilah pisau di tangan Amel, dengan sesekali mendorong pisau itu dengan keras. Terlihat di raut wajah Amel menahan rasa sakit di tangannya.


"Apa kamu tahu? Sudah lama aku menantikan ini," ucap Nadia lagi.


****


Tolong kami," mohon Mama Amel pada para pria itu dengan suara lemas hingga akhirnya ia jatuh pingsan.


Mereka sebagian membawa orang tua Amel ke rumah sakit terdekat dengan segera, dan sebagiannnya lagi tetap menahan orang yang menyekap orang tua majikannya.


Buk ... buk ... buk


Suara pukulan yang diberikan kepada orang yang menyekap orang tua majikannya


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya anak buah Jay itu dengan geram, namun belum ada jawaban yang dilontarkan dari mulut mereka.

__ADS_1


"Baik, kalau kalian tidak mau bicara, rasakan ini!" ucap anak buah itu lalu mengeluarkan cemeti dan mencambukkannya satu persatu pada mereka. Rintihan demi rintihan keluar dari mulut mereka, tapi mereka masih bungkam.


"Masih belum mau bicara? Berarti kalian memang lebih memilih mati," ucap salah satu anak buah Jay geram dengan mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya. Ia adalah Roy yang menjadi kepercayaan Jay untuk memimpin dalam kasus ini.


Terlihat wajah penculik-penculik itu sudah berubah jadi pucat dan keringat dingin bercucuran dari pelipis lantaran ketakutan.


"Bagaimana? Kalian punya dua pilihan, beritahu kami atau kalian ingin mati?" Lanjutnya lagi. Karena tidak ada jawaban, tanpa menunggu lama Roy menekan pelatuk pistol yang ada di tangannya.


Dorrr ... dorrr ....


Suara tembakan dua kali mencekam di dalam kubuh itu, Roy menembak dua penculik itu tepat di jantungnya dan satunya lagi ia sengaja membiarkannya hidup untuk melihat temannya meninggal.


"Jadi bagaimana, kau mau menyusul kedua teman kamu? Kamu jangan macam-macam sama saya, kamu belum tahu saya siapa?" ucap Roy membuat penculik itu ketakutan.


"Tolong ampuni saya," mohon penculik itu dengan suara gemetar, tidak lupa tangannya yang menengadah di depan.


"Jangan harap sebelum kau mau bicara," ucap Roy dengan menyodorkan pistol di kepala penculik itu.

__ADS_1


"Satu ..." ucap teman Roy di belakang secara bersamaan.


"Ayo jawab!" bentak Roy yang membuat nyali penculik itu semakin menciut, apa lagi dia melihat betapa kejamnya orang yang ada di hadapannya ini. Oh tidak, mereka tidak kejam akan tetapi penculik itulah yang tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan.


"Dua ..." lanjut mereka lagi, namun belum ada jawaban dari mulut pencuri itu, terlihat dia masih memikirkan sesuatu.


"Ti ...."


"Bos Nadia," ucap penculik itu gemetar sebelum teman Roy menyelesaikan hitungannya.


"Nadia?" ucap Roy memastikan dan penculik itu membenarkannya dengan enggukan.


Sesaat kemudian, salah satu HP milik penculik yang sudah meninggal itu berbunyi. Roy mengambil HP itu dari saku celana sang pemilik, lalu mengangkat dan tidak lupa untuk men-loudspeaker-nya


"Bicara!" titah Roy untuk memastikan orang yang menelphone penculik itu.


"Bagaimana, apa kalian sudah berhasil menculik mereka?," ucap suara itu dari seberang sana, "i ... iya," jawabnya dengan gugup, "bagus, kalian harus waspada karena Jay sudah mengerahkan anak buahnya ke situ. Sudah dulu, nanti aku ketahuan sama yang lainnya," ucap orang itu dengan suara sedikit pelan lalu mematikan panggilannya secara sepihak.

__ADS_1


Roy dan temannya jadi penasaran setelah mendengar pembicaraan mereka, "Apa maksud pembicaraan mereka? Apa ada pengkhianat di sela-sela kita?" ucap salah satu dari mereka menerka-nerka, tapi dibenarkan oleh yang lainnya.


__ADS_2