
"Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang ku alami," ucapnya lagi dengan melanjutkan aksinya menampar Amel, hingga Amel tersungkur ke lantai.
"Ya Allah, berikan kekuatan pada hamba. Jika memang ini takdir hamba aku ikhlas ya Allah," lirih Amel dalam hatinya dengan menitikan air mata.
Nadia memposisikan tubuhnya dekat Amel, dengan gaya jongkok dan tubuh condong ke depan, dia memposisikan pisau yang dipegangnya tadi ke arah wajah Amel, "Apa kamu mau dengar kelanjutan cerita wanita itu?" ucap Nadia seolah-olah bertanya, "setelah kehancuran keluarga kami, aku dan Bapakku merencanakan sesuatu untuk membalas dendam kepada kalian semua." Lanjutnya lagi dengan memegang erat rahang Amel dan tangan sebelahnya memegang pisau.
"Kamu tahu apa rencana kami?" tanya Nadia lagi pada Amel, "kami menjebak ayah mertuamu," ucap Nadia, "maksud kamu apa?" tanya Amel tidak mengerti ucapan Nadia, sambil menahan sakit di bagian wajahnya.
"Ayah mertua kamu belum menceritakannya?" tanya Nadia," oke, aku akan ceritakan semuanya sama kamu." Lanjutnya lagi.
"Setelah bangkrutnya keluarga kami dan meninggalnya ibu, kami ingin balas dendam dengan menjebak ayah mertua kamu tidur dengan wanita lain, dan pada akhirnya mereka harus menikah karena wanita itu tengah mengandung anaknya," ucap Nadia dengan senyum smirk nya, Amel sungguh tidak percaya.
"Kamu jahat! Sudah cukup kamu mengancurkan kami!" teriak Amel tidak terima dengan perlakuan Nadia, "ternyata Ayah tidak bersalah, maafkan kami karena sudah salah paham sama Ayah," ucap Amel dalam hatinya.
__ADS_1
"Belum, aku belum puas sebelum kamu mati!" Ucap Nadia dengan emosi menguasainya lalu menancapkan sebilah pisau di punggung tangan Amel.
"Argghhh," lirih Amel menahan kesakitan. Darah mengalir kemana-mana, keringat dingin pun sudah membanjiri tubuh Amel.
****
Di suatu gubuk kosong, tepatnya tempat orang tua Amel di sekap terjadi seperti yang dirasakan Amel. Ibu dan bapaknya di siksa sudah tidak berdaya. Mereka masih bingung siapa yang sudah menculiknya dan memperlakukannya tidak baik.
Sebelum penculikan Amel, Nadia sudah mengkerahkan anak buahnya sebagian untuk menculik orang tua Amel di rumahnya, tepatnya di Bandung.
Bruukkkk
Suara pintu didobrak paksa oleh seseorang, mengganggu Imron dari istirahatnya.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Imron saat melihat tiga sosok pria bertubuh besar masuk di dalam rumahnya dengan paksa. Orang itu tidak menjawab pertanyaa Imron dan langsung memukulnya hingga ia tersungkur ke lantai.
Istrinya, Fatma yang mendengar keributan dari dalam rumahnya langsung berlari memastikan kondisi suaminya, sesampainya di sana ia melihat suaminya sudah tersungkur di lantai tidak berdaya, Fatma menjadi panik dan ingin menghubungi anaknya tapi dihalau oleh salah satu pria itu.
"Siapa kalian?" tanya Fatma ketakutan, tapi tidak ada jawaban dari mulut mereka. Pria itu langsung membius Fatma dan membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian.
Setelah sudah sadar, mereka sudah melihat tangan dan kakinya sudah terikat dan sudah berada di tempat yang berbeda.Tapi tidak sampai situ, mereka kembali di siksa oleh anak buahnya Nadia.
Brukkk
Suara pintu digobrak oleh beberapa pria yang tidak bukan dan tidak lain adalah anak buah Jay. Mereka sudah berhasil menemukan lokasi penyekapan orang tua Amel setelah melacak nomor anak buah Nadia.
Perlawanan sempat terjadi, yang pada akhirnya semua anak buah Nadia tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Tolong kami," mohon Mama Amel pada para pria itu dengan suara lemas hingga akhirnya ia jatuh pingsan.