
Di perjalanan, Indra melajukan mobil dengan kecepatan di atas normal. Dia benar-benar tersiksa melihat bundanya sakit. Wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Kenapa harus Bunda yang menanggung semuanya. Kalau bisa aku ikhlas menggantikan posisi Bunda," lirihnya dalam hati.
30 menit kemudian, ia sudah sampai di loby perusahaan milik ayahnya. Yah, kepergiannya dari rumah sakit karena ingin meluapkan kekesalannya kepada Hendra yang tidak lain ayahnya.
Dia berjalan dengan langkah cepat dan sorotan mata yang tajam, yang melihatnya bergedik ngeri. Karyawan yang ingin menyapa anak dari pemilik perusahaan mereka pun mengurunkan niatnya.
Dari pada cari mati mending cari aman saja. Itulah yang dipikirkan karyawan yang melihat aura emosional dari Indra.
Bruukkk
Indra masuk ke dalam ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bahkan ia membuka pintu dengan membantingnya.
Hendra yang tengah sibuk bekerja, sontak terkejut dengan kedatangan anaknya terlebih lagi datang dengan penuh emosi.
"Astaga ... setan apa yang merasuki putraku," ucapnya dalam hati dengan menelan salivanya.
Bug
Bug
Pukulan yang didaratkan Indra di wajah ayahnya.
"Kau kenapa, apa yang kau lakukan kepada Ayah?" tanya Hendra yang tidak mengerti dengan sikap anaknya.
"Cih ... Anda masih bertanya kenapa?" geram Indra yang masih menggenggam kerah kemeja milik ayahnya.
"Setelah yang Anda perbuat kepada kami, Anda masih bertanya kenapa! Wah Anda luar biasa sekali," lanjutnya lagi dengan tersenyum smirk.
Mendengar perkataan anaknya, Hendra sudah mengerti arah pembicaraan anaknya sekarang. Ia benar-benar menggerutuki kebodohannya.
"Maafkan ayah, Nak. Tapi ini tidak seperti yang kalian semua bayangkan," lirihnya dengan menunduk.
__ADS_1
"Maaf katamu? setelah Anda membuat bundaku menanggung akibat dari semua perbuatan Anda. Setelah Anda merenggut kebahagiaan bundaku. Setelah membuat bundaku merasakan sakit! Anda pikir aku akan memaafkanmu begitu saja, haaa?" teriaknya dengan penuh emosi. Bahkan orang bisa mendengarnya dari luar jika tidak ada penyadap suara di ruangan itu.
"Apa Anda tahu kondisi bundaku saat ini? Ohh aku lupa kalau Anda tidak bersama kami lagi," lanjutnya lagi dengan senyum smirk.
"Ada apa dengan, Bunda. Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Hendra yang merasa bersalah.
"Cih ... apa pentingnya kondisi Bunda bagimu?" ucapIndra lalu melepaskan tangannya dari kerah kemeja ayahnya.
"Sangat penting ... aku mencintai, Bunda. Aku suaminya jadi aku harus tahu kondisinya."
"Iya ... suami yang tega mengkhianati istrinya. Suami yang tega main belakang dari istrinya," ucap Indra yang sudah geram mendengar ucapan ayahnya.
"Cinta katamu? Jika Anda mencinta Bunda, Anda tidak akan menyakitinya dan mengkhianatinya," lanjutnya lagi.
"Tapi ini tidak seperti yang kalian bayangkan," jelas Hendra.
"Sudahlah ... satu lagi, kita tidak ada hubungan lagi dan jangan pernah temui kami lagi," ucap Indra sebelum meninggalkan tempat itu.
Di rumah sakit, Irna sudah di pindahkan ke ruang perawatan VIP. Di sana masih ada Amel, Alya dan Jay yang setia menemani bundanya.
"Dimana Indra?" tanya Alya kepada Irna karena dari tadi tidak melihat sosok Indra.
"Aku juga tidak tahu, dari tadi aku tidak melihatnya," ucap Amel, "Apa kau tahu?" tanyanya pada Jay. Jay hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu juga.
"Yasudah, kalian jaga Bunda dulu. Aku mau keluar sebentar cari makanan dan sekalian cari Mas Indra di luar," ucap Amel dan diangguki oleh Jay dan Alya.
Setelah keluar dari ruang rawat bundanya, Amel mencoba mencari Indra dia taman. Ia berpikir Indra ada di sana. Tapi, ternyata dugaannya salah, ia tidak menemukan sosok Indra.
"Lebih baik aku pergi cari makan dulu. Mungkin Mas Indra ada keperluan mendadak," gumamnya.
Amel ingin keluar mencari makanan di cafe seberang jalan yang ada di depan rumah sakit. Tepat di tengah jalan ....
Aaaahhhhhhh
__ADS_1
Teriak Amel yang melihat mobil dari arah kananya yang tiba-tiba sudah dekat.
Saat mobil itu tinggal setengah meter jaraknya dari tubuh Amel. Tiba-tiba ada tangan yang menarik pinggangnya menjauh dan tanpa disengaja Amel sudah berada di rengkuhan tubuh orang itu.
Amel masih memejamkan matanya di dalam pelukan orang itu karena masih terkejut.
"Silahkan buka mata, Anda baik-baik saja," ucap Andi dengan sopan karena Amel adalah atasannya.
Amel pun mencoba membuka matanya dan mendongak ke atas yang sudah ada Andi tersenyum ke arah wajahnya.
"Te terima kasih," ucapnya terbata-bata dan langsung melepaskan diri dari pelukan Andi.
Saat itu juga, Indra datang menghampiri mereka dari arah parkir.
Bug
Bug
Indra melayangkan pukulan ke wajah Andi dengan penuh emosi.
"Beraninya kau memeluk istriku," ucapnya dengan penuh emosi.
"Mas ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dia tadi menyelamatkanku yang hampir tertabrak," jelas Amel agar suaminya tidak salah paham. Namun karena emosi yang sudah menguasainya Indra sama sekali tidak mempercayainya.
"Alasan," ucapnya. Ia langsung menarik tangan Amel dengan kasar, Amel yang mendapat perlakuan kasar jadi ketakutan.
"Mas lepas!" lirih Amel yang merasakan kesakitan di pergelangan tangannya, namun Indra tidak menghiraukannya. Ia sudah diselimuti emosi yang menggebu-gebu. Setelah mendapat kenyataan pahit tentang ayahnya, kondisi bundanya yang tidak stabil, dan sekarang ia melihat wanita yang dicintainya setelah bundanya sedang berpelukan dengan laki-laki lain.
Setelah sampai di parkiran, Indra mendorong kasar tubuh Amel untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk!" perintah Indra dengan mendorong Amel masuk.
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun, hanya ada deruan kemarahan dan ketakutan dari mereka.
__ADS_1