
"Hai! Jaga ucapanmu!," hardik Alya tidak terima.
Karena merasa kesal, dia pun beranjak hendak menyentil mulut Jay, namun naas sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh Alya pun terjadi.
Saat Alya ingin memberikan hadiah pada Jay, tangannya ditahan oleh Jay. Namun, tiba-tiba dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga pada akhirnya mereka berdua pun terjatuh. Namun, yang paling naas ... Alya tidak sengaja mendaratkan mulutnya di pipi Jay yang berada di bawahnya.
*Deg
Deg
Deg*
Dentuman jantung dari mereka berdua yang sudah tidak bisa berkompromi. Untuk sesaat mereka terdiam sejenak apa yang terjadi, hingga akhirnya mereka tersadar.
"Puih iihhh," jeritan Alya heboh, "kamu modus banget sih, mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Alya.
"Kamu bilang apa?Apa aku tidak salah dengar, bukannya kamu yang cium aku?" balas Jay.
"Kamu jangan geer dulu deh, itu cuma kecelakaan tidak ada unsur kesengajaan," ucap Alya, "bisa gatal- gatal nih bibir aku," lanjutnya lagi sambil mengelap bibirnya kasar.
"Idih, apa lagi muka aku, bisa rabies gara-gara kamu," sarkah Jay lalu beranjak dari posisinya meninggalkan Alya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Alya pada Jay, "ke toilet, kenapa? Kamu mau ikut?" jawabnya menggoda Alya.
"Pergi sana!"ucap Alya malu.
Di dalam toilet, Jay mengingat kembali apa yang terjadi barusan antara dirinya dengan Alya. Dia memegang pipinya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
"Dia menciumku?" ucapnya tidak percaya. Saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
Sedangkan di luar Alya pun demikian, dia menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian yang terjadi barusan.
"Aku kenapa? Tidak ... tidak ... tidak ini hanya ketidangsengajaan, aku tidak boleh memikirkannya," ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Astaga kamu kenapa sih? Kenapa sampai salting di depan pria aneh ini," kata Alya dalam hati.
****
Malam pun telah tiba, Amel dan Indra merasakan cacing di perutnya sudah memanggil meminta jatah, hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk memasak berdua setelah melaksanakan shalat isya.
"Mau makan apa, Mas?" tanya Amel pada suaminya, " terserah kamu saja," jawab Indra.
"Baiklah, kalau begitu nasi goreng bagaimana?" tanya Amel, "aku setuju," balas Indra.
__ADS_1
"Oke, tunggu sebentar yah, Mas," ucap Amel lalu hendak berlalu, "Mau kemana?" tanya Indra, "mau masak nasi goreng".
"Kenapa, kan sudah ada Bibi yang masak?" ucap Jay, "mending kamu duduk temani Mas," lanjutnya lagi.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mau masak untuk kita malam ini, kan sudah jadi tugas aku sebagai istri," jelas Amel, "aku juga mau bawakan untuk Bunda," lanjutnya, "tapi...."
"Sudah ... tidak apa-apa, Mas," ucap Amel.
Cup
Ia mengecup bibir suaminya sekilas kamudian berlari menuju ke dapur. Indra menggeleng-geleng melihat tingkah Amel, "Dasar," ucapnya dengan tersenyum lalu menyusul Amel.
Amel sudah sibuk berkutik dengan bahan-bahan memasak, hingga kedatangan Indra pun ia tidak menyadarinya.
Tiba-tiba dia sangat terkejut, ketika tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Ia pun berbalik dan ternyata milik suaminya.
"Astaga ... Mas, kamu ngagetin saja deh, "ucap Amel, "kamu yang serius sekali masaknya," ucap Jay yang masih memeluk Amel.
"Lepas, Mas. Kan malu kalau dilihatin sama Bibi," kenapa? aku cuma memeluk istri aku," ucap Indra menggoda Amel.
"Tuh kan, sosinya jadi gosong. Gara-gara kamu sih," ucap Amel sedikit cemberut, "sosis di kulkas sudah habis lagi," lanjutnya lagi yang masih sedih. Bagaimana tidak, nasi goreng dicampur sosis adalah makanan kesukaannya.
__ADS_1