Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Maafkan Ayah


__ADS_3

Amel pun masuk dan segera menuju ke meja kerjanya yang dulu. Amel masih bekerja sebagai karyawan biasa dengan kemauannya sendiri. Itulah Amel, meskipun dia istri dari CEO, tetapi tidak mau memanfaatkan dan mengambil keuntungan berada di posisi itu.


Amel ingin bekerja layaknya karyawan biasa tanpa harus ada embel-embel dari suaminya, dia tidak ingin orang segan terhadapnya hanya karena dia seorang istri dari CEO.


Indra dengan terpaksa menyetujui kemauan istrinya itu.


"Pagi Ibu Bos" sapa Rini saat melihat Amel menuju ke meja kerjanya.


Rini merupakan salah satu karyawati di kantor Indra bekerja. Dia lumayan dekat dengan Amel sebelum menikah dengan bosnya. Posisi kerjanya juga tepat di samping meja Amel. Namun, karena sekarang sudah menjadi istri CEO tempatnya bekerja, dia harus sopan dan hormat terhadapnya.


"Husstt ... panggil Amel saja seperti biasanya" ucap Amel yang membuat Rini jadi kebingungan, "Maaf, aku rasa sangat lancang jika memanggil nama Ibu secara langsung" ucap Rini


"Aku akan benar-benar marah jika aku mendengar kau memanggilku dengan sebutan itu lagi" ucap Amel dengan serius, "Apa ada yang salah dari ucapanku?" Tanya Rini yang masih kebingungan


"Iya ... pertama, aku tidak suka jika harus dipanggil dengan ibu, secara aku masih muda begini" ucapnya sambil membalikan badannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian, seolah-olah memperlihatkan bentuk tubuh idealnya itu.


"Kedua, aku tidak ingin orang segan terhadapku hanya karena aku istri dari CEO dari perusahaan ini", "dan yang ketiga, kita juga sama-sama karyawan yang bekerja di perusahaan ini, dan yang lebih penting kita sama-sama manusia yang memiliki derajat yang sama di mata Tuhan" lanjutnya lagi yang membuat Rini jadi terharu


"Anda benar-benar wanita yang sangat luar biasa" ucap Rini kagum terhadap Amel, "jangan memujiku lagi" ucap Amel lalu duduk di kursinya. Sedangkan Rini masih berdiri di belakang Amel dengan senyum yang terukir dari wajahnya.


"Anda benar-benar hebat, tidak heran jika bos sangat mencintaimu" batin Ririn memuji Amel lalu duduk di kursi kerjanya.


Tidak jauh dari sana, ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan mereka. Siapa lagi kalau bukan Andi.

__ADS_1


Andi sangat beruntung telah menaruh rasa tethadap wanit seperti Amel, yang hatinya sangat lembut dan tidak sombong dengan apa yang ia miliki.


"Astaghfirullah ... tidak! Aku tidak boleh begini, aku harus melupakannya" batin Andi yang tersadar dengan perasaannya, dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya agar pikiran tentang Amel hilang dari kepalanya.


****


"Kenapa Ayah memanggilku?" Tanya Indra kepada Ayahnya setelah berada di ruang kerja milik Hendra


"Duduk dulu nak" ucap Hendra dengan wajah yang terlihat sangat gusar karena cemas. Mendegar ucapan Ayahnya, Indra segera duduk karena sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang ingun disampaikan Ayahnya sampai-sampai membuatnya cemas begitu.


Hendra masih berjalan berbolak-balik di depan Indra dan sesekali menghela nafas panjang, dia bingun harus memulai dari mana. Indra yang melihatnya pun semakin penasaran dibuatnya.


"Ayah kenapa?" Tanya Indra yang sudah mendekat ke arah Ayahnya dan memegang pundaknya yang masih terlihat sangat gusar.


"Apa maksud Ayah?" Tanya Indra yang pikirannya masih menerawang ke mana-mana. Hendra lalu mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Sebenarnya...." ucap Hendra menghentikan ucapannya sejenak, sedangkan Indra mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan ucapan Ayahnya, karena sedari tadi dia sudah penasaran ingin mendengarnya.


"Sebenarnya, Ayah memiliki istri selain Bundamu" lanjutnya dengan suara lirih. Dia tidak siap untuk memberitahukan semuanya kepada Indra, tapi sampai berapa lama lagi dia akan menyembunyikan semuanya. Dia sudah siap dengan konsekuensinya.


Mendengar ucapan Ayahnya barusan, Indra masih mematung karena tidak percaya apa yang barusan dia dengar. Karena selama ini keluarganya baik-baik saja dan dia percaya Ayahnya sosok yang sangat setia.


"Apa yang Ayah katakan tadi, Aku pasti salah dengar kan?" Tanya Indra untuk memastikan, yang sebenarnya jantungnya sudah berdegub kencang karena tidak bisa menerima kenyataannya.

__ADS_1


"Maafkan Ayah nak" lirih Indra dengan penuh penyesalan lalu memegang pundak Indra, Indra yang sudah mendengarnya seketika aliran darahnya mendidih karena emosi.


"Lepaskan!" Teriak Indra dengan menepis tangan Hendra dari pundaknya lalu berdiri hendak meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu! Dengarkan penjelasan Ayah dulu" ucap Hendra menghentikan Indra setelah berada di muka pintu


Indra berhenti sejenak dan menghela nafas panjang untuk bisa mengontrol emosinya "Aku tidak butuh penjelasan dari Anda, semuanya sudah jelas" ucapnya dengan penuh penekanan sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.


Hendra hanya bisa melihat ke arah punggung Indra yang sudah menghilang dari hadapannya.


"Maafkan Ayah, ini bukan kemauanku, aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi" lirih Hendra membatin.


.


.


.


**Assalamu'alaikum. Apa kabar semuanya? Aku mohon maaf karena sekian lama baru bisa up. Ada alasan tertentu yang tidak bisa aku utarakan di sini.


Dan jangan lupa dukungannya yah


Terima kasih**

__ADS_1


__ADS_2