Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Meninggalkan Kami


__ADS_3

Hendra yang mendengar kekhawatiran dari putranya, sangat senang dan terharu dibuatnya, "Kamu sudah maafkan ayah, Nak?" tanya Hendra tidak percaya pada putranya, "iya, Yah. Aku sudah tau semuanya. Maafkan aku karena tidak percaya sama Ayah," jawab Indra merasa bersalah.


"Iya, Nak," ucap Hendra lalu memeluk putranya, Indra pun membalas pelukan ayahnya dengan kehangatan, semua yang melihatnya ikut terharu.


Di RS Airlangga, tempat orangtua Amel di rawat terlihat kekhawatiran dan kecemasan yang melanda, Roy dan mamanya Amel sudah menunggu di depan ICU dengan penuh kekhawatiran.


"Bagaimana kondisi Imron, Mbak?" tanya Hendra kepada Fatma sesampainya di RS, "belum tau, Mas. Dokter masih memeriksa mas Imron," jawab Fatma dengan raut wajah yang cemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Imron tiba-tiba kambuh?" Jawab Hendra lagi, mendengar pertanyaan besannya itu, Fatma mengingat kembali kejadian saat penculikan mereka.


Di dalam gubuk kosong itu, mereka sempat dipukul oleh orang yang menculiknya sebelum Roy dan Jay datang, dan naasnya mereka sempat mengenai bagian dada suaminya.


"Ditengah perjalanan, mas Imron merasakan nyeri di dadanya, Mas sampai pingsan," jelas Fatma sambil menitikan air mata, karena khawatir dan bersedih melihat kondisi suaminya.


Ia sangat khawatir mengingat suaminya itu memiliki penyakit, yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan besannya.


"Kamu tenang dulu, Mbak. InsyaaAllah mas Imron akan baik-baik saja," ucap Hendra menenangkan Fatma.

__ADS_1


"Iya, Mas," balas Fatma, "oh iya, Amel bagaimana, Mas?" Tanya Fatma lagi, "Amel baik-baik saja,  dia sudah ditemukan dan sekarang sedang di rawat di RS milik saya," jawab Hendra.


"Alhamdulillah,,, terima kasih,Mas," ucap Fatma pada besannya karena sudah berjasa sangat besar selama ini kepada keluarganya.


Ditengah perbincangan itu, mereka dikejutkan oleh perawat yang tiba-tiba keluar dengan tergesa-gesa dari ruangan ICU, tempat Imron dirawat. Dan kembali lagi  dengan seorang dokter laki-laki bersamanya. Sepertinya dia dari memanggil satu dokter lagi untuk menangani Imron.


"Suster, ada apa ini?" Tanya Fatma merasa cemas, "detak jantung pasien melemah, bu" jawab suster itu dengan tergesa-gesa lalu melanjutkan langkahnya masuk lagi kedalam ICU.


Di ruangan ICU, terlihat dokter dan perawat bergulat dan bekerjasama untuk menyelamatkan pasiennya,  sesekali dokter memberikan shock jantung kepada Imron, namun sepertinya hal itu tidak membuahkan hasil.


Suara dari monitor pertanda detak jantung pasien sudah berhenti.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un," ucap Dokter dan perawat secara bersamaan, semuanya menghela nafas kekecewaan karena tidak berhasil menyelamatkan pasiennya.


Dua dokter yang menangani Imron keluar dari ruangan itu dan menemui keluarganya dengan rasa campur aduk.


"Bagaimana kondisi suami saya, Dok," tanya Fatma tidak sabar, karena ingin mengetahui segera kondisi suaminya, dua dokter itu menghela nafas dan sesekali menunduk "ibu dan keluarga yang sabar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain," jawab dokter itu, "maksud dokter apa?" tanya Fatma lagi tidak percaya, air matanya sudah bercucuran keluar, "yang sabar, Bu. Allah lebih mencintai suami ibu, supaya dia tidak merasakan sakit lagi," jelasnya lagi lalu berpamitan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Mas, ini tidak benar kan? Mas Imron tidak bakalan meninggalkan saya dan Amel kan?" Tanya Fatma sesenggukan dan menjatuhkan badannya di lantai,  Hendra yang mendengar penjelasan dokter barusan pun sama halnya dengan Fatma, dia belum percaya sahabat sekaligus besannya akan meninggalkannya secepat ini.


"Mbak, aku juga tidak percaya mas Imron akan meninggalkan kita secepat ini, tapi takdir tidak ada yang tahu kecuali Alla" ucap Imron lalu berusaha untuk mendirikan Fatma.


"Tidak, Mas. Tidak ...," ucap Fatma lagi, "Mas Imron masih hidup, saya mau lihat mas Imron," lanjutnya lagi dan berlalu masuk ke ruangan ICU.


Di dalam sana, terlihat sekujur badan Imron terbaring kaku dan pucat, suster bersiap untuk menanggalkan semua alat bantu yang ada di badan Imron, namun dihalangi oleh Fatma.


"Stop ... suami saya masih hidup, kalian jangan mencoba untuk menanggalkan itu semua," ucap Fatma saat memasuki ruangan itu dengan tangisan sendunya.


"Mbak, istighfar ... ikhlaskan mas Imron, InsyaaAllah mas Imron sudah tenang di sana," ucap Hendra menenangkan Fatma


"Tapi, suami saya masih hidup, Mas," lanjut Fatma lalu memeluk suaminya dengan isak tangis, "Mas, bangun ... bangun, Mas," lanjutnya lagi dan mengguncang badan suaminya, namun tidak ada pergerakan dari si empunya. Fatma semakin hitsteris dibuatnya.


Sesungguhnya kami milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami kembali


~Q.S. Al-Baqarah (156).

__ADS_1


__ADS_2