
Sesampainya di Rumah keluarga Setiawan, mereka pun berkumpul di ruang keluarga dan berbincang-bincang.
"Bagaimana liburan kalian?" Tanya Irna, "berjalan lancar Bun" jawab Indra, "Walaupun ada yang menangis sesenggukan kemarin" lanjutnya lagi yang mengejek Amel
Amel yang merasa diejek oleh Indra hanya bisa membelalakan matanya pada Indra dengan tatapan mau menerkam Indra. Sedangkan orang yang ditatap hanya tersenyum
"Cih, ini kan juga gara-gara kau yang mulai sayang" gerutu Amel dalam hatinya yang mengingat kejadian kemarin.
"Menangis?" Tanya Irna penasaran, "Rahasia Bun" jawab Indra yang membuat semua orang di sana jadi penasaran kecuali Jay. "Ih kamu, kalau tidak mau bilang kenapa memancing jiwa kekepoan Bunda" ucap Irna yang sedikit kesal dengan putranya, Indra hanya tertawa mendengar ocehan Bundanya dan yang lainnya pun ikut tertawa melihatnya.
"Oh iya aku juga mau bilang kalau besok aku dan Fatma akan kembali ke Jakarta" kata Imron yang juga ada di sana, "kenapa secepat itu Pah, kalian tinggal lah beberapa hari dulu" ucap Amel memohon pada orang tuanya
"Iya Amel benar, kalian tinggal lah beberapa hari dulu, bahkan untuk selamanya kalian juga bisa tinggal di sini kalau mau" ucap Hendra
"Terima kasih atas kebaikanmu, tapi kami harus pulang ke Kampung, karena di sanalah mata pencaharian kami" ucap Imron, "Baiklah bagaimana baiknya menurut kalian, jangan sungkan memberi tahu pada kami kalau kalian butuh apa-apa" ucap Hendra dan diangguki oleh Imron. Hendra mengalah pada sahabatnya itu, karena dia tahu kalau itu sudah menjadi keinginannya tidak ada lagi yang bisa mencegahnya.
__ADS_1
Amel yang mendengar pembicaraan dua laki-laki di hadapannya itu hanya bisa cemberut. Imron yang melihar ke arah Amel mengetahui perasaan anaknya lalu mendekati Amel
"Jangan sedih nak, Bapak dan Mama akan sering-sering mengunjungimu, eh terbalik kamu yang mengunjungi kami" kata Imron sedikit tertawa dan mengusap lembut rambut anaknya. Mendengar ucapan Bapaknya, Amel sudah tidak cemberut lagi dan berganti menjadi senyuman. Meskipun dalam hatinya dia berharap orang tuanya bisa tinggal bersamanya.
****
Alya sudah keluar dari gedung tempat dia bekerja. Dia berlalu dan menuju ke Rumah Indra.
Saat menunggu taksi, dia dikejutkan dengan mobil yang berhenti di depannya dan menekan klakson bertubi-tubi yang membuat Amel jadi kesal dibuatnya.
"Kamu?" Kata Alya dengan suara sedikit keras karena terkejut yang membuat Jay segera menutup kupinnya
"Biasa saja, cepat masuk" ucap Jay datar, "masuk?" Tanya Alya yang tidak mengerti ucapan Jay, "Tidak usah kegeeran, ini tugasku" jawab Jay yang masih datar, meskipun dalam hatinya dia sangat senang diberikan tugas menjemput Alya, tapi masih bisa menjaga imagenya.
Sedangkan Alya yang berhadapan dengan Jay cuman bisa menggerutu kesal dalam hatinya, kemudian masuk dalam mobil dengan manyun dan duduk di samping Jay.
__ADS_1
Saat di perjalanan menujui ke Rumah Indra, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Jay yang tengah fokus menyetir, sedangkan Alya memilih melihat ke arah jendela dan sesekali mengumpat Indra dalam hatinya.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Indra. Tanpa menunggu lama, Alya dengan segera keluar dari mobil itu kemudian masuk ke dalam rumah.
"Dia kenapa?" Tanya Jay dalam hatinya yang melihat Alya keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, kemudian dia berlalu mengikuti Alya masuk.
Setelah memasuki rumah mewah itu, Alya mencari keberadaan Amel namun yang ditemukannya Irna
"Sore Bunda" sapa Alya saat melihat Irna, "eh Alya, sejak kapan kau datang nak?" Tanya Irna yang tiba-tiba melihat keberadaan Alya di rumahnya, "baru saja Bun, aku sudah janji sama Amel akan datang hari ini" jawab Alya dan diangguki oleh Irna diikuti oleh senyuman karena senang atas kedatangan Alya datang berkunjung.
"Amelnya mana Bun?" Lanjutnya lagi, "Dia ada di kamarnya"jawab Irna, "kalau begitu aku pamit dulu Bun, mau ketemu Amel" ucap Alya, "Iya nak" ucap Irna dengan membelai rambut Alya.
Alya yang mendapat perlakuan dari Irna merasa sangat bahagia dan terharu juga, karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang dan belaian dari orang tuanya. Mamanya yang sudah meninggal sejak dia masih kecil dan Ayahnya yang sibuk bekerja.
Mata Alya mulai berkaca-kaca karena terharu, "Kamu kenapa?" Tanya Irna yang melihat Alya, "tidak Bun, aku tiba-tiba mengingat Mama" ucap Alya yang berkilah kemudian menghapus matanya yang hampir menjatuhkan air mata
__ADS_1
Irna kemudian memeluk tubuh Alya "Jangan sedih lagi, ada Bunda di sini. Aku sudah menganggapmu sebagai anak Bunda dan kamu juga boleh menganggapku sebagai orang tuamu" ucap Irna, "Terima kasih Bunda" ucap Alya yang terharu lalu membalas pelukan Irna.