
"Tidak apa-apa kah, Mas aku tinggal sebentar?" tanya Amel, ia merasa tidak enak pada suaminya, "tidak apa-apa, kan ada Jay temani aku. Yang penting kamu jaga diri baik-baik," ujar Indra, "iya, Mas."
"Yasudah, ayo istirahat. Ini sudah larut malam," ucap Amel.
****
Keesokan paginya, Amel dan Alya sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Aku pake baju apa?" tanya Alya, "tenang, ini aku bawakan pakaian untuk kamu tadi malam," jawab Amel sambil memberikan kantong plastik untuk Alya.
"Makasih, Mel. Kamu memang sahabat yang paling pengertian sama aku," ujar Alya, "iyalah aku mengerti, kan dari kemarin kamu temani bunda di sini, tidak pernah balik," ucap Amel.
"Mkasih yah, Al karena sudah mau menjaga bunda," ucapnya lagi, "iya, kan aku sudah anggap bunda sebagai ibu kandungku sendiru," ujar Alya.
Amel dan Alya kini sudah di perjalanan menuju ke lokasi, tempatĀ mereka bertemu dengan Anggita. Sebelumnya Amel sudah mengkonfirmasikannya dengan Anggita.
"Ko' aku merasa cemas yah?" tanya Alya, "sudah, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama aku, dia sudah berubah," ujar Amel, "semoga saja benar," ujar Alya lagi.
__ADS_1
"Ayo turun, kita sudah sampai," ucap Amel, "lah, ternyata di pantai? Aku kira kita mau ke mall atau restoran gitu," ucap Alya, "iya, ayo turun."
Mereka pun turun dari mobil hendak menunggu Anggita.
"Hai, apa kabar?" sapa Anggita setelah datang, "Alhamdulillah, baik," balas Amel.
Setelah menyapa Amel, ia melirik ke arah Alya, "Hai," sapa Anggita pada Alya dan dibalas senyuman.
"Dia temanku, aku sengaja mengajaknya," ucap Amel," well, tidak apa-apa. Makin rame makin seru," ucap Anggita.
"Ayo kita ke sana," ajak Amel sambil menunjuk ke arah pantai. Mereka bertiga pun berjalan ke arah sana.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Amel penasaran, "tidak, mungkin hanya firasat aku saja seperti ada yang ngikutin kita," ucap Alya.
Amel pun menoleh seperti yang dilakukan Alya tadi, tapi tidak ada seorang pun yang mengikuti mereka, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Mungkin hanya firasat kamu saja, ayo!" ucap Amel dan diangguki oleh Alya.
__ADS_1
Mereka menikmati pemandangan ciptaan sang khaliq, sesekali mereka berpose ala remaja pada umumnya. Menggambar di atas pasir dan yang paling seru, mereka saling bercanda melempar pasir.
"Aku ke toilet dulu," ucap Amel, "mau aku temanin nggak?" tanya Alya menawarkan, "tidak usah, kamu di sini saja sama Anggita." Alya pun menurut.
Amel pun bergegas meninggalkan mereka, tidak jauh dari sana Alya melihat dua pria berjaket hitam tengah mengikuti Amel. Karena merasa khawatir, ia pun mengikuti sahabatnya itu.
"Mau kemana?" tanya Anggita, "mau nyusul Amel," jawab Alya seadanya, "aku ikut," ucap Anggita lagi dan diangguki oleh Alya.
Amel merasa ada yang mengganjal, ia pun berhenti dan menoleh ke belakang secara perlahan. Tiba-tiba ....
"ehhmm," suara Amel, ia sudah di bekap dari belakang oleh dua orang dengan menggunakan obat bius. Beberapa detik kemudian tubuh Amel ambruk dan mereka segera mengangkatnya ke mobil.
"Amel!" teriak Alya dan Anggita secara bersamaan dari kejauhan, mereka segera mengejar Amel tapi tidak sempat, lantaran mereka ketinggalan jejak.
Tanpa menunggu lama, Alya dan Anggita segera ke arah parkiran ingin mengejar mobil itu.
"Cepat kita ke parkiran," ucap Alya lalu berlari dengan cekat menggunakan jalan pintas.
__ADS_1
"Pak, ayo kejar mobil itu!" ucap Alya cemas, "ada apa non?" tanya pak supir yang tidak tahu apa-apa.
"Sudah, Pak jangan banyak tanya. Cepat kejar mobil itu! Amel diculik," ucap Alya lagi. Dia benar-benar sangat cemas begitu pun halnya dengan Anggita, "baik, Non."