Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Lupa atau Pura-Pura Lupa


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah sakit, Indra memikirkan semua masalah keluarganya.


"Arggghhhh" teriaknya dengan frustasi


Bagaimana tidak? Ayahnya yang dibangga-banggakannya selama ini ternyata tega mengkhianati bundanya, wanita yang sangat dicintainya jatuh sakit dan mengalami sedikit gangguan karena perbuatan ayahnya, serta wanita yang sangat dicintai setelah bundanya tega bermesraan dengan laki-laki lain di belakangnya.


Pepatah mengatakan "sudah jatuh ditimpa tangga pula". Inilah pribahasa yang cocok dengan kondisi Indra sekarang.


Di lain sisi, ia juga kepikiran dengan tindakannya yang keterlaluan terhadap Amel dan ayahnya. Tapi, mau bagaimana ... karena keadaan sehingga ia harus berbuat demikian.


Sesampainya di Rumah sakit, ia segera menuju ke ruangan rawat bundanya dan mendapati Jay dan Alya yang masih setia menunggu di sana.


"Dimana Amel, bukannya dia tadi pergi mencari kamu? Kalian tidak ketemu yah?" tanya Alya saat melihat Indra datang dengan sendirinya.


"Oh itu, Amel sudah di rumah, dia tidak enak badan katanya," jawab Indra yang terpaksa berbohong, "masa iya aku  bilang mengurungnya di kamar," batin Indra.


"Syukurlah, aku tadi khawatir sekali sama dia," ucap Alya, "kenapa?" tanya Jay dengan polosnya.


"Kenapa katamu? ... kamu tidak sadar apa, kan Amel sudah tiga jam pergi setelah dia pamit mencari suaminya yang tidak lain dia," jelas Alya sambil menunjuk ke arah Indra, "jadinya aku khawatir sama dia," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Lebay, Amel kan sudah dewasa dia bisa menjaga dirinya dengan baik," ucap Indra menyela pembicaraan Amel.


"Lebay katamu?"


"Kamu suami macam apa sih? Tidak ada khawatir-khawatirnya sama istri sendiri," celoteh Alya, "kamu lupa atau pura-pura lupa yah, Amel kan sedang diincar oleh sosok misterius," lanjutnya lagi. Kini ia sangat geram dengan Jay dan Indra yang tidak khawatir dengan sahabatnya yang tidak lain Amel.


"Laki-laki macam apa mereka," gerutunya dalam hati.


Indra yang mendengar pernyataan Alya sontak teringat kejadian malam itu, dimana Amel yang sedang diteror dengan surat kaleng. Ia kemudian memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu.


"Jangan-jangan Amel berkata jujur tadi. Apa benar dia hampir ditabrak? dan jangan-jangan ini bukan sebuah kecelakaan tapi ada hubungannya dengan si peneror itu," batin Indra yang sudah menerka-nerka sendiri.


"Ahhhh aku harus cari kebenarannya," ucapnya  yang tidak sengaja.


"Ahhh tidak." elaknya.


"Jay kamu ada tugas sedikit, hubungi pihak CCTV yang di jalan depan rumah sakit dan minta rekaman hari ini," titahnya pada Jay.


"Siap, saya permisi laksanakan tugas," ucap Jay tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Alya yang berada di sana seperti nyamuk saja, dia hanya mendengarkan dua laki-laki itu seperti layaknya pengawal melaksanakan perintah raja.


"Aku bagaimana?" tanya Alya yang akhirnya mendapatkan celah untuk berbicara.


Baru sampai di ambang pintu, Jay berbalik kembali saat mendengar Alya mengangkat suara.


"Yaudah sih, kamu di sini saja bantu aku jagaian Bunda, "ucap Indra.


"Ogah," balas Alya


"Yasudah, kamu ikut aku saja," ucap Jay menawarkan."


Alya berpikir sejenak, "kalau ikut Jay aku nanti bisa mati tegang. Kalau tinggal sama Indra lebih-lebih berbahaya, bisa kumat darah tinggi saya kalau berdua sama dia dan nanti saya disebut pelakor lagi," batinnya sambil berpikir. Setelah berpikir matang akhirnya dia sudah mengambil keputusan.


"Ya sudah, lebih baik aku pulang saja. Malas juga tinggal sama kalian berdua," ucapnya.


"Terserah," balas Jay dan Indra bersamaan, "lagi pula kalau ada kamu bisa mengganggu istirahat bunda," lanjut Indra.


"Oke fine, perasaan dari tadi bunda tidak terganggu tuh dengan kehadiranku," ucapnya membela diri.

__ADS_1


"Sudah, pulang sana!"


"Iya ... iya aku pulang."


__ADS_2