Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Menjadi Lucu


__ADS_3

Kemudian Indra pergi dan kembali ke rumah sakit untuk menemani Amel. Sedangkan urusan kantor dan Ririn dia serahkan ke Jay.


Sesampainya di Rumah sakit, dia langsung menuju ke tempat Amel


"Bagaimana keadaan Amel?" Tanya Indra ke semua orang yang ada di sana


"Belum ada perkembangan nak" jawab Fatma


"Kalau begitu Aku masuk dulu tante" pamit Indra untuk masuk melihat Amel


"Mel bangun, sampai kapan kau mau berbaring lemah seperti ini?" Ucap Indra sambil menggenggam tangan Amel dan meletakkan di pipinya


"Kau tidak kasihan sama aku. Sama tante om dan sama bunda ayah juga"


"Semuanya mengkhawatirkanmu. Kami sayang kamu Mel" ucap Indra lirih


"Oh iya... kamu tenang saja, orang yang mencelakai kamu sudah di urus semuanya sama Jay"


"Kamu cepat bangun Mel, semuanya kangen sama kamu termasuk aku"


"Aku kangen mau mencubit hidungmu" ucap Indra tersenyum saat melihat hidung mungil Amel


Tidak lama kemudian, Indra tertidur di dekat Amel karena dia benar-benar ngantuk. Semua orang yang melihat Indra tertidur dari dalam tidak tega untuk membangunkanny, akhirnya mereka menuju ke ruangan yang telah di sediakan, mereka istirahat di sana.


Jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Indra terbangun dari tidurnya


"Ternyata aku ketiduran" ucap Indra sambil merenggangkan tubuhnya karena sudah merasa pegal yang sedari tadi tidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala menunduk di tempat tidur Amel.


Karena bosan, dia memilih untuk menelfon Jay


"Hallo pak" jawab Jay dari seberang sana dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur


"Bagaimana... apa sudah beres?" Tanya Indra


"Iya pak. Saya pastikan Ririn tidak akan mengganggu nona, tapi...." Ucap Jay menggantung


"Tapi apa?" ucap Indra


"Kamu ke sini sekarang, jelaskan di sini saja nanti" ucap Indra tanpa melihat waktu


"Ba baik pak" jawab Jay ragu lalu Indra mematikan telfonnya


Setelah mendapat panggilan dari bosnya, Jay langsung bergegas menuju ke rumah sakit dengan muka bantalnya sambil menggerutu dalam hatinya, karena Indra memintanya ke sana tanpa melihat waktu.


Setibanya di Rumah sakit dia bergegas menuju ke tempat Amel di rawat yang sudah ada Indra dia lihat duduk di kursi tunggu depan ICU


"Apa ada kabar terbaru?" Tanya Indra saat Jay baru saja tiba


"Iya Pak. Saya dengar dari mulut Ririn tadi bahwa dia memiliki rekan dalam mencelakai Amel" ucap Jay

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Indra penasaran


"Maaf Pak, dia tidak mau memberitahukannya" ucap Jay


"Besok kamu cari tahu siapa orang di balik ini semua" ucap Indra penuh penekanan


"Baik pak" jawab Jay


"Kamu istirahat saja dengan yang lainnya di ruangan yang telah disiapkan" ucap Indra


"Baik pak" ucap Jay lalu pergi setelah Indra masuk ke dalam


3 hari kemudian


Dia selalu menemani Amel semenjak Amel masuk rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 06.00. Indra sudah bangun dari tidurnya, lalu dia menatap lekat wajah Amel dengan sedih. Tiba-tiba ada pergerakan dari jari telunjuk Amel


"Amel..." ucap Indra senang saat malihat pergerakan dari jari Amel


"Dokter... dokter" panggil Indra dan menekan panggilan darurat. Tidak lama kamudian dokter datang


"Tuan bisa menunggu di luar dulu biar kami memeriksa pasien dulu" ucap dokter lalu Indra keluar


Fatma, Irna dan Imron yang baru datang, jadi bingung saat melihat Indra keluar dari ruang ICU tempat Amel di rawat sekarang ini


"Ada apa nak?" Tanya Fatma khawatir


"Amel tante.... jari Amel tadi bergerak" ucap Indra


"Iya tante" jawab Indra, tidak lama kemudian suara pintu dari dalam terbuka


"Klek"


"Bagaimana keadaan Amel dok?" Tanya Indra


"Dia sudah sadar, detak jantungnya tadi sempat hilang dan sekarang dia sudah melewati masa kritisnya" kata Dokter


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan dan sangat senang mendengarnya


"Dan pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat" lanjutnya dokter lagi


"Baik dok terima kasih" ucap Fatma


"Iya bu ini sudah menjadi tugasku sebagai dokter" ucap dokter lalu pergi


Kemudian mereka semua menyusul ke kamar rawat Amel yang sudah dipindahkan oleh perawat tadi. Di sana sudah ada Amel berbaring dengan mata terbuka


"Alhamdulillah nak kamu sudah sadar" ucap Fatma senang dan memeluk Amel sambil menitikan air matanya


"Iya Mah... aku tidak apa-apa" jawab Amel. Sedangkan Imron, Indra dan Irna melengkingkan senyuman di bibirnya yang juga ikut bahagia.

__ADS_1


Namun, saat dia melihat ke arah Indra yang juga melihat ke arahnya, dia tiba-tiba membuang muka. Indra menyadari perubahan Amel


"Tante, Om, Bunda... bisa tinggalkan kami berdua. Aku mau bicara penting dengan Amel" ucap Indra dan di angguki oleh mereka lalu keluar meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Amel belum menatap ke arah Indra sedikit pun


"Dengarkan aku" ucap Indra namun tidak ada respon dari Amel


"Mel..."ucap Indra yang sedikit kesal karena tidak ada respon dari Amel


"Apa" ucap Amel ketus namun belum melihat ke arah Indra


"Amel..." kata Indra melemah dan membalikan badan Amel ke arahnya.


"Dengarkan, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Anggita. Aku hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih. Dan soal yang kamu lihat di ruangan kerjaku, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Waktu datang dia memang langsung memeluku, tapi aku melepaskan tangannya dari pundaku. Dan saat dia mengajaku keluar jalan aku juga menolaknya, karena apa? Itu semua karena ada perasaan yang harus aku jaga, ada hati yang harus aku jaga. Aku mencintaimu Mel. Aku tidak mau perjodohan ini dibatalkan" jelas Indra panjang lebar meyakinkan Amel


"Apa semua perkataanmu itu benar?" Tanya Amel


"Iya... Aku katakan dengan sejujurnya" jawab Indra lalu memeluk tubuh Amel


"Aku mencintaimu... benar-benar mencintaimu" ucap Indra lalu mencium kening Amel


Amel yang diperlakukan seperti itu akhirnya luluh juga


"Oh Iya Mel... apa kau tahu siapa yang berusaha mencelakaimu?" Ucap Indra


"Siapa?" Tanya Amel penasaran yang sudah melepas tubuhnya dari pelukan Indra


"Ririn" jawab Indra


"Ririn?" Ucap Amel tidak percaya mendengarnya


"Iya... katanya dia cemburu melihatmu dekat-dekat denganku" jelas Indra


"Oh iya aku ingat, dia pernah menamparku ternyata dia cemburu?" Ucap Amel


"Yah susah juga yah Mel kalau wajah tampan begini, banyak yang rebutin" ucap Indra tertawa


"Ceh dasar" Amel mendesis mendengarnya yang diikuti oleh senyumnya


"Kamu jangan marah-marah lagi seperti waktu itu, aku takut lihatnya seperti singa yang sedang mengamuk" ucap Amel tertawa


"Yah tergantung. Apakah kamu mendengarkan aku atau tidak" jawab Indra sambil mencubit hidung Amel


"Auuhh sakit Ndra" lirih Amel sambil mengusap hidungnya


"Biar saja, sudah lama aku mau mencubitnya" ucap Indra yang mencubit hidung Amel lagi


"Auuhh" teriak Amel lagi dan Indra yang melihatnya hanya tersenyum


"Tuh lihat jadi merah" ucap Amel kesal dan Indra masih saja tersenyum melihatnya

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi lucu begini?" Ucap Indra dalam hatinya yang melihat Amel masih sibuk dengan hidungnya


__ADS_2