
"Tidak semudah itu, Mas. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Dengan mudahnya kamu menuduhku selingkuh," ucap Amel, "kamu anggap aku apa, Mas. Serendah itu kah aku di mata, Mas?" lirihnya. Indra benar-benar tidak bisa melihat Amel menangis seperti ini. Dan penyebab Amel menangis karena dirinya sendiri.
"Sayang, Mas minta maaf. Mas tidak bermaksud menyakiti kamu, seharusnya aku mendengarkan penjelasan kamu," ucapnya dengan menundukkan kepalanya, ia benar-benar malu kepada istrinya.
"Kenapa, Mas. Apa karena Mas sudah tau kejadian yang sebenarnya?" ucap Amel
"Iya, Mas sudah tahu kebenarannya. Mas sangat menyesal, maafkan aku" ucap Indra.
"Karena sudah tahu kejadian yang sebenarnya, makanya sudah menyesali perbuatan Mas. Lantas bagaimana jika Mas tidak tahu kejadian yang sebenarnya, apa kamu akan menyesali dan meminta maaf kepada istrimu ini?" tanya Amel dengan emosi, dia sudah tidak bisa membendungnya lagi, "aku ini istrimu, Mas. Istri yang seharusnya kamu jaga, yang seharusnya kamu lindungi, dan istri yang seharusnya kamu percaya. Bukan istri yang bisa kamu berbuat seenak jidat terhadapnya, yang bisa kamu permalukan di depan umum, yang bisa kamu rendahkan, dan yang tidak kamu percaya," lanjutnya lagi dengan air mata yang tidak bisa berhenti jatuh di pipinya.
Indra semakin merasa bersalah setelah mendengar penuturan dari istrinya. Dengan sigap, ia segera memeluk Amel dengan erat. Ia salurkan semua penyesalan dan rasa cintanya. Suara isak tangis sangat jelas terdengar di telinganya, membuat Indra semakin mempererat pelukannya, "Kamu jahat, Mas," ucap Amel di balik pelukan Indra dengan suara isakannya.
"Iya, Mas yang salah. Seharusnya aku percaya sama kamu. Maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan.
Sejenak Amel berpikir, setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, ia sudah mengambil keputusan.
__ADS_1
Amel mengangguk dengan pelan di balik pelukan suaminya. Iya, Amel memutuskan untuk memaafkan suaminya.
Indra melepaskan pelukannya dan memperbaiki posisinya, tangannya memegang wajah Amel dan pandangannya ke arah mata Amel, "Serius?" tanyanya sangat senang, Amel mengangguk menanggapinya. Indra sangat senang, akhirnya Amel memaafkannya.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya lembut dengan tangan membelai wajah istrinya, "iya, jangan diulang lagi," ucap Amel dan diangguki oleh Indra.
Mereka berdua sekarang sedang beradu pandang, Indra menarik tengkuk Amel dengan pelan dan wajahnya ia dekatkan ke arah wajah Amel secara perlahan.
*Deg
Deg
Detak jantung Amel sudah tidak terkontrol lagi, wajahnya pun kini sudah berubah sedikit merona.
Amel memejamkan matanya saat jarak pandang mereka berdua tinggal 5 centi saja hingga akhirnya tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua. Mereka hanyut dengan perasaannya masing-masing, setelah ketegangan karena kesalahpahaman diantara mereka.
__ADS_1
****
Sedangkan di rumah sakit tepatnya di ruang rawat bunda Indra, ada sepasang insan duduk bersebelahan di sofa. Meskipun begitu, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Alya yang sibuk chatting dengan Widya yang jauh disana, sedangkan Jay sibuk dengan tugas kantor yang seharusnya menjadi tugas Indra, tapi karena Indra izin beberapa hari sehingga semua pekerjaan dialihkan ke Jay.
Saat Alya berniat untuk mengambil air dia tidak sengaja tersandung dengan kaki yang sebelahnya, sehingga dia tidak sengaja terjatuh ke arah Jay. Kepalanya kepentok di dada bidang Jay.
Jay seketika merasakan tersengat listrik, orang yang sudah mencuri hatinya sekarang berada di pelukannya, "Apa ini mimpi?" tanyanya dalam hati, ia pun mencubit kulit tangannya, "sakit, berarti ini nyata," matanya beralih ke arah Alya yang sedang melihat kearahnya juga, senyumnya merekah dan hatinya berteriak seolah mengumumkan 'aku sangat senang'.
Seketika Alya tersadar, ia segera bangkit dari posisinya dan seolah-olah lompat-lompat, "Ihhh jijik, dasar modus," ucap Alya memperbaiki pakaiannya yang sebenarnya tidak ada yang perlu diperbaiki.
"Modus? Bukannya kamu yang pura-pura jatuh dan sengaja berlama-lama," ucap Jay dengan senyum liciknya menggoda Amel.
Amel membulatkan matanya mendengar penuturan dari Jay.
"Hai! Jaga ucapanmu!," hardik Alya tidak terima.
__ADS_1