Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Antara Percaya dan Tidak


__ADS_3

Amel dan Alya duduk di kursi yang berada di pojok ruangan. Mereka sedikit bercerita sambil menunggu Indra pulang dari kantor. Sesekali mereka melihat ke arah Irna yang belum terlihat tanda-tanda untuk siuman.


"Alya ...." ucap Amel melemah.


"Iya?" Tanya Alya setelah mendengar namanya diucapkan, "aku kasihan sama Indra dan Bunda." Ucap Amel dengan ekspresi yang masih sama. Ia terngiang-ngiang dengan masalah beberapa jam yang lalu. Ia masih mengingat kesedihan bercampur emosi dari raut wajah suaminya. Begitu pun dengan mertuanya bahkan sampai masuk rumah sakit karena masalah ini.


Alya yang mendengar ucapan sahabatnya jadi bingun dibuatnya, "kasihan kenapa?" Tanya Alya.


"Sebenarnya ... ada sedikit masalah dalam keluarga kami. Ternyata Ayah memiliki istri lain selain bunda dan kami baru mengetahuinya tadi pagi," jelas Amel dengan menghela nafas panjang.


Alya tersontak kaget mendengarnya, antara percaya dan tidak.


"Aku percaya sama kau, jadi jangan sampai ada orang luar yang tahu." Ucap Amel seolah memperingati Alya.


"Ceh, aku mau cerita ke siapa coba? Aku kan cuman dekat sama kau dan Widya," tutur Alya yang membuat Amel tersenyum. Setelah ia pikir-pikir memang Alya tidak memiliki orang dekat selain ia dan Widya.


"Baiklah, kali ini aku percaya sama kau," ucap Amel, "jadi kemarin-kemarin kau tidak percaya sama aku, begitu?" Ucap Alya yang sudah cemberut. Alya jadi terkekeh dibuatnya.


"Nah gitu dong. Kan enak lihatnya lihat kau senyum begitu," ucap Alya, "udah! Jangan dipikirin lagi. Mungkin ini ujian yang diberikan oleh Allah untuk keluarga kalian. Kalian pasti bisa melewati semua ini." Lanjutnya lagi dengan serius.


"Mulai deh," ucap Amel, "mulai apa?" Tanya Alya yang lagi-lagi gagal mengerti.

__ADS_1


"Jiwa bijaknya mulai kambuh lagi," ucap Amel, "iyalah, kan aku dari dulu emang bijak." Ucap Alya yang percaya diri.


"Iyakan aja deh." Balas Amel menyerah.


"Ceklek"


Suara pintu terbuka, terlihat Indra sudah datang dan diikuti oleh Indra di belakangnya.


"Bagaimana keadaan Bunda?" Tanya Indra setelah berada di dalam ruangan itu, "Bunda masih belum sadarkan diri, Mas." Jawab Amel dan diangguki oleh Indra.


"Mas bersihkan diri dulu baru istirahat. Mas pasti capek kan." Ucap Amel, tanpa menunggu lama Indra segera keluar dan menuju ke ruang privat untuk mandi setelah beraktivitas sepanjang hari.


Saat Jay masuk di ruangan itu, ia langsung duduk di kursi tempat Amel juga duduk. Sedangkan Amel mendekat ke arah suaminya.


"Teeetttt"


Terdengar suara dari monitor yang dipasangkan kepada Irna. Semuanya yang ada di sana merasa khawatir. Segera Jay menekan tombol darurat sedangkan Indra masih mandi di ruang privat keluarganya.


Semuanya histeris melihat kondisi Irna, tidak menunggu lama para medis datang menangani Irna.


"Silahkan kalian keluar dulu!" Titah salah satu suster yang ada di sana. Tanpa ingin menunggu lama mereka dengan segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Aku takut, Al." Ucap Amel yang bersandar di pundak Alya.


"Jangan takut, Bunda akan baik-baik saja. Kita berdoa yang terbaik untuknya dan serahkan semuanya kepada Allah." Ucap Amel yang berusaha menenangkan Amel.


Tidak lama kemudian, Indra muncul dari arah depan. Ia terlihat sudah fresh setelah mandi.


"Kenapa kalian di luar?" Tanya Indra saat berada di sela-sela mereka, "Bunda ...." ucap Jay melemah.


"Bunda kenapa?" Tanya Indra yang mulai khawatir dan sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, "Bunda tiba-tiba kritis." Jawab Jay


Seketika badan Indra lunglai setelah mendengar ucapan Jay. Ia sangat terpukul dengan keadaan bundanya. Sekali lagi ia menggerutuki kekesalannya kepada ayahnya.


Sedangkan di dalam ruangan, dokter dan suster bekerjasama untuk melewati masa kritis Irna. Pertolongan segera berupa CPR dan kejut jantung untuk membantu penanganan Irna.


.


.


.


Hay readers! mohon dukungannya :)

__ADS_1


__ADS_2