
"Apa maksud pembicaraan mereka? Apa ada pengkhianat di sela-sela kita?" ucap salah satu dari mereka menerka-nerka, tapi dibenarkan oleh yang lainnya.
"Siapa dia!" bentak Roy pada penculik itu membuatnya semakin menciut, "e ... itu ... di ... dia," ucap penculik itu gugup, saat ini dia berada di situasi simalakama. Mau jujur tapi itu sama halnya dia berkhianat, tidak jujur tapi nyawanya saat ini dalam bahaya.
"Siapa!" bentak Roy lagi, "To ... Toni," Jawab penculik itu dengan memejamkan matanya.
"Toni?" ucap semua teman Roy yang ada di belakangnya secara bersamaan, karena tidak asing dengan nama Toni, apa hanya kebetulan sama atau memang benar dia yang dimaksud.
"Toni siapa yang kau maksud?" tanya Roy lagi untuk menjawab kecurigaannya.
"I ... iya Toni, dia sepupu jauh dari Nadia dan menyusup masuk di rumah majikan kalian, dengan berpura-pura menyamar bekerja di rumah itu," jelas penculik itu.
"Apa lagi yang kau tahu?" tanya Roy lagi dengan memegang bahu penculik itu dengan tangan kekarnya, dia merasakan gemetaran dari tubuh si penculik itu, mungkin saat ini dia ketakutan, "kau jangan takut, aku akan membebaskanmu dari sini dan melindungimu dari mereka jika kau bicara," lanjut Roy serius.
__ADS_1
"Toni di suruh sama bos Nadia untuk masuk di dalam rumah itu untuk melancarkan aksi balas dendamnya," jelas penculik itu dengan detak jantung yang tidak beraturan lantaran takut dengan orang-orang yang ada di hadapannya saat ini, "dia selalu memberikan informasi terkini, seperti saat majikan kalian pergi ke Bali." Lanjutnya lagi.
"Peneroran yang terjadi di rumah majikan kalian juga karena bos Nadia dibantu oleh Toni, jadi informasi pribadi itu semuanya dari Toni termasuk rumah orang tua itu yang kami culik tadi," ucap penculik itu lagi," oke, cukup!" ucap Roy karena dia sudah mengerti, ia sangat murka dengan Toni karena sangat membenci dengan pengkhianatan. Mereka saja yang mendengarnya sangat murka, apa kabarnya dengan Indra dan Jay jika mengetahuinya?.
"Sekarang kau beritahu aku, di mana non Amel di sekap?" tanya Roy lagi yang terdengar nada suaranya sedang mengancam, "saya tidak tahu," jawab penculik itu.
"Kamu yakin?" ucap Roy lagi untuk memastikan," iya, saya tidak tahu. Kami hanya diperintahkan untuk menculik orang tuanya," jelas penculik itu, Roy berusaha mencari celah apakah penculik yang ada di hadapannya saat ini sedang berbohong, tapi ia tidak menemukan celah.
Selepas mendengar penjelasan dari penculik itu, Roy segera menghubungi Jay yang masih sibuk mencari keberadaan Amel bersama dengan Indra.
Dia menceritakan semuanya kepada Jay siapa pelaku dibalik semuanya, dan juga tentang pengkhianatan yang barusan ia dengar dari mulut penculik itu sendiri.
"Shiittt," umpat Indra setelah mendengar pembicaraan Jay dan Roy di via telephone, sama halnya dengan tuan sekaligus sahabatnya, Jay juga merasa geram mendengarnya.
__ADS_1
"Kau pergi urus pengkhianat itu! Jangan biarkan dia hidup, Amel biar aku yang cari," ucap Indra yang sudah diselimuti emosi, Anggita yang masih berada di dekat mereka pun jadi ketakutan.
"Baik Tuan," ucap Jay dengan formal, "dan kau ... pulanglah!" titah Jay dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah Anggita, "iya," balas Anggita seadanya.
****
"Apa kamu tahu? Sudah lama aku menantikan ini," ucap Nadia dengan puas, semakin Amel kesakitan ia semakin puas melihatnya.
Malam semakin larut, akan tetapi belum ada pertanda dirinya akan ditolong. Dia sudah tidak tahan lagi, badannya kesakitan serasa tulangnya sudah remuk.
"To ... long ... sa ... ya," rintih Amel dengan suara memelasnya, ia benar-benar kesakitan, untuk berbicara saja ia harus mengumpulkan kekuatannya terlebih dahulu, "Ya Allah, tolong hamba," ucap Amel dalam hatinya dengan derai air mata membasahi pipihnya, ia berdoa dan menyebut nama Allah dan berharap ada pertolongan dari-Nya.
"Jangan harap, tidak akan ada yang mendengarmu," ucap Nadia tanpa rasa iba lalu pergi meninggalkan dari tempat itu, "berdoalah! Karena besok pagi adalah hari terakhirmu di dunia ini," ucap Nadia sebelum keluar dari ambang pintu.
__ADS_1