Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Penuh Kekhawatiran


__ADS_3

"Yang sabar sayang, kita sudah mau sampai," ucap Indra mengelus pipi istrinya, ia sangat murka dengan orang-orang yang sudah mencelakai istrinya.


Kurang lebih 1 jam, akhirnya mereka sampai di loby RS milik keluarga Indra, dokter dan perawat yang melihat pemilik RS tempat mereka bekerja tiba, bergegas menolong Amel dan membawanya ke ruang IGD untuk diberikan pertolongan dan perawatan terbaik.


Tidak lupa Alya dan Anggita sudah menunggu di sana dan memberikan intrupsi kepada dokter dan perawat sebelum sahabat dan suaminya tiba. Sudah banyak yang menunggu di sana, diantaranya adalah ayahnya Indra.


Terlihat raut cemas nan gusar dari wajah Indra, ia sangat khawatir dengan keselamatan istrinya itu,


"Nak, ayo duduk dulu!", ucap Hendra kepada putranya, yang sedari tadi bolak balik di depan pintu,  menunggu kabar dari dokter. Hendra ikut sedih melihat putra kesayangannya hancur berantakan.


Namun ucapan ayahnya itu dihiraukannya, ia sudah tidak sabar lagi melihat keadaan istrinya. Sudah setengah jam semenjak Amel masuk di ruangan UGD, tapi belum ada kabar dari dokter. Hal itu yang membuat semuanya semakin khawatir.


"Iya Ndra, kamu tenang dulu yah, lebih baik kita doakan supaya Amel baik-baik saja," sahut Alya untuk menenangkan Indra, "InsyaaAllah semuanya akan baik-baik saja, Amel kan wanita kuat," lanjutnya lagi. Mendengar penuturan Alya, akhirnya ia sedikit tenang dan duduk di samping ayahnya, namun pikiran yang masih kacau. Ia berjanji akan membalaskan perlakuan mereka karena sudah mencelakai istrinya.


"Ceklek"


Mendengar suara pintu terbuka, Indra dan lainnya segera menghampiri dokter


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Indra cemas,  "Alhamdulillah, non Amel baik-baik saja. Saya sudah berikan ia obat bius supaya non Amel tidak terlalu merasakan sakit akibat sayatan pisau ditangannya, besok pagi dia sudah membaik," jelas dokter. Indra yang mendengarnya sedikit lega atas penjelasan dokter barusan, begitupun dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap syukur mereka bersamaan.


"Apa saya boleh masuk melihat istri saya, Dok?" Tanya Indra memastikan, "sudah bisa, Tuan. Tapi, hanya satu satu yang bisa jenguk. Karena keadaan non Amel belum stabil, sebentar non Amel sudah bisa dipindahkan ke ruangannya, " jelas dokter lagi.


"Kalau begitu, saya izin pamit tuan," ucap Dokter, "Iya dok, terima kasih sudah membantu istri saya," jawab Indra dengan senyuman.


Selepas kepergian dokter, Indra meminta izin kepada semuanya untuk masuk melihat keadaan istrinya terlebih dahulu. Meskipun dokter berkata semuanya baik-baik saja, tetap saja Indra merasakan cemas teramat dalam dengan kondisi istrinya.


Dia masuk dengan hati gelisa, di tempat pembaringan sana, ia melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya, muka pucat nan memar menghiasi wajahnya, serta selang infus dan perban yang melingkar di tangan istrinya, ia tahu betul selama disekap istrinya disiksa.


"Sayang, lekas sembuh yah. Aku tidak bisa melihatmu terbaring lemah tak berdaya seperti ini," ucap Indra sedih sambil mengelus pipi mulus istrinya dengan lembut. Ia meneliti lebam di wajah istrinya satu per satu dan berpindah ke tangan istrinya yang terlilit perban.


"Kamu jangan khawatir sayang, aku akan memberikan pelajaran kepada mereka yang sudah menyakitimu," lanjutnya lagi.


"Pemisi ... Maaf tuan, non Amel mau dipindahkan ke ruangan yang sudah disediakan," jelas perawat yang masuk dan diangguki oleh Indra mempersilahkannya.


'Drttt ... drrttt"


Suara getaran dari handphone Indra

__ADS_1


"Maaf, Tuan saya mau mengabarkan keadaan orang tua non Amel," ucap Roy di seberang sana, selepas membebaskan orangtua Amel dari anak buah Nadia, Roy segera membawa mereka ke RS untuk diberi tindak lanjutan oleh dokter,


"Iya Roy, bagaimana keadaan mertua saya?" Tanya Indra dengan khawatir, ia sampai lupa dengan keadaan mertuanya,


"Maaf, Tuan ayah non Amel kritis. Ditengah perjalanan pulang, tiba-tiba penyakit ayah non Amel kambuh," jawab Roy harap-harap cemas.


"Apa? Sekarang kamu diamana?" Jawab Indra khawatir dengan kondisi mertuanya,


"Di RS Wisma Airlangga, Tuan. Karena ini RS yang terdekat dari lokasi kejadian," jawab Roy lagi


"Baik tunggu, saya segera kesana," ucap Indra lalu mematikan teleponnya.


Indra segera keluar dan memberikan kabar ini kepada yang lainnya, semuanya semakin sedih dibuatnya.


"Kamu disini saja temani istri kamu, biar Ayah kesana lihat Imron dan istrinya," jelas Hendra kepada putranya,


"Iya, Yah. Kalau ada apa-apa hubungi saya," jawab Indra mengiyakan, "kalian 4 orang temani Ayah, jaga baik-baik Ayah, jangan sampai ada yang lecet," lanjutnya lagi memberikan intrupsi kepada pengawal yang ada di sana.


"Siap, Tuan," jawab mereka serempak.

__ADS_1


Hendra yang mendengar kekhawatiran dari putranya, sangat senang dan terharu dibuatnya, "Kamu sudah maafkan ayah, Nak?" tanya Hendra tidak percaya pada putranya, "iya, Yah. Aku sudah tau semuanya. Maafkan aku karena tidak percaya sama Ayah," jawab Indra merasa bersalah.


"Iya, Nak," ucap Hendra lalu memeluk putranya, Indra pun membalas pelukan ayahnya dengan kehangatan, semua yang melihatnya ikut terharu.


__ADS_2