
"Bangun ..." teriak Amel yang suara cemprengnya menggelegar di ruangan itu, membuat Indra, Alya, dan Jay segera terbangun mendengar suara teriakan Amel.
"Apa sih, Mel. Kau mau lihat kami mati karena jantungan apa?" geram Alya dan diangguki oleh dua laki-laki dalam ruangan itu yang menjadi korbannya.
"Maaf, aku hanya terlalu semangat soalnya," ucap Amel cengengesan dengan memperlihatkan gigi putihnya.
"Memangnya ada apa sayang?" tanya Indra yang penasaran dan diangguki oleh Jay dan Amel.
"Itu, Mas. Bunda sudah siuman ...." jelas Amel dengan bahagia, mereka pun ikut senang apa yang dikatakan Amel "Ayo cepat!" lanjutnya lagi sambil menarik tangan suaminya lalu diikuti oleh Jay dan Alya di belakang.
Mereka menunggu dokter di luar ruangan setelah mereka berada di depan pintu. Mereka berharap akan mendapatkan berita baik di pagi ini.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka, mereka menoleh ke arah suara tersebut yang sudah ada dokter keluar dari ambang pintu.
"Pasien sudah siuman, kondisi pasien sudah membaik dari sebelumnya," jelas dokter itu, mendengar penjelasan dokter membuat mereka bernafas lega dan tentunya senang. Tapi, semuanya seketika sirna setelah dokter melanjutkan ucapannya.
"Tapi ... dampak dari shock berat ini mempengaruhi fungsi otak beliau," lanjutnya lagi.
"Maksud dokter?" tanya Amel tidak mengerti, "Anda akan tahu semuanya nanti, masuklah!" ucap dokter.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, mereka dengan segera masuk untuk melihat kondisi bundanya, kecuali Indra karena dia dokter sudah menjelaskan sebelumnya kondisi bundanya.
"Maaf tuan, karena saya memberitahukan kepada mereka."
"Baiklah tidak apa-apa. Mereka juga akan tau yang sebenarnya meskipun Anda tidak memberitahukannya."
"Iya, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter itu pamit dan diangguki oleh Indra.
Di dalam ruangan terlihat Irna duduk bersandar di bed rumah sakit yang disuapi oleh suster. Sesekali ia melahap suapan suster itu dengan tatapan kosong.
Amel, Alya, dan Jay tidak kuat melihat kondisi bundanya saat ini. Bagaimana tidak? fisiknya sudah membaik tapi psikisnya yang terganggu. Yah, terlihat pandangannya kosong, tatapannya yang nanar, cairan bening ikut mengalir di pipihnya, dan sesekali ia juga tertawa kecut. Entah apa yang sedang dipikirkan bundanya saat ini.
"Biar saya yang lanjutkan, Sus," ucap Amel sambil mengambil mangkok dari tangan suster itu dan disetujui oleh dia.
"Bunda ..." sapa Amel pada bundanya, namun tidak mendapatkan respond sama sekali. Ia tidak menyerah dan mencoba menyapanya sekali lagi.
"Bunda ..." sapanya lagi dengan lembut. Kali ini Irna menoleh kearahnya, tapi dengan tatapan kosong dan tanpa bicara ataupun membalas sapaan Amel. Irna mengalihkan kembali pandangannya ke depan, yah setidaknya ia Amel sudah mendapat respond walaupun hanya dengan pandangan kosong.
"Bunda makan dulu yah, "ucap Amel sambil menyuap bundanya dengan tulus, Irna hanya melahapnya dan sesekali melirik mereka menggunakan ekor matanya terlihat seperti bocah kecil tanpa tahu apa-apa.
Yah kondisi bundanya saat ini tidak stabil, kadang sedih dan kadang ketawa dan kadang juga bertingkah seperti anak kecil.
__ADS_1
Tiba-tiba cairan bening menetes di pipih mulus Amel tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Ia menyuapi Irna sambil menangis, ia tidak bisa lagi menahan kesedihannya melihat kondisi ibu mertuanya saat ini. Meskipun Irna hanya ibu mertuanya, tapi ia sudah menganggp Irna seperti ibunya sendiri karena selama ini Irna bersikap baik kepadanya.
"Ya Allah, sembuhkanlah Bunda dari penyakitnya. Dan kuatkanlah Bunda untuk menghadapi semuanya, hamba yakin Engkau tidak akan memberikan cobaan kepada hambu-Mu di luar batas kemampuannya," lirih Amel memanjatkan doanya dalam hati.
Alya dan Jay yang ada di sana juga merasakan seperti yang dirasakan oleh Amel dan memanjatkan doa untuknya Irna.
Sedangkan di ambang pintu, sedari tadi Indra melihat kondisi bundanya.
Sedih? Yah, saat ini ia sangat sedih bahkan sangat terpukul.
Marah? tidak bisa dipungkiri lagi, saat ini ia sangat marah dengan situasi sekarang dan terlebih kepada ayahnya.
Tanpa berpikir panjang dan dengan emosi yang menggebu, ia segera berlalu dari rumah sakit tempat bundanya dirawat dan menuju ke suatu tempat, di mana ia akan meluapkan emosinya.
Hay salam hangat dari saya. Selamat menunaikan Idul Adha 1441 H/ 2020 M dan Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf yang sebesar\-besarnya jika ada kata\-kata yang kurang berkenang di hati kalian semuanya.
__ADS_1
\#Salam hangat dari Author❤