Jodohku Masa Laluku

Jodohku Masa Laluku
Surat Kaleng


__ADS_3

Masih di suasana yang sama dan di ruangan yang sama.


Amel masih menerka-menerka dengan pikirannya sendiri. Sudah berapa kali Alya memanggil namanya dan melambaikan tangan di depan wajahnya, namun tidak ada respon dari Amel. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh Alya yang mulai iseng.


"Dorrr" ucap Alya dengan nada tinggi supaya Amel tersadar dari lamunannya.


Dan benar saja, dia sampai-sampai terpingkal lompat di tempatnya karena terkejut


"Kau apaan sih Al, untung aku tidak jantungan" ucap Amel, "Lagian kau dari tadi di panggil tidak menyahut" ucap Alya


"Kau lagi mikirin apa?" Lanjutnya lagi, "Mikirin kamu" ucap Amel, namun Alya tidak menganggap serius, ia kira Amel hanya bercanda


"Yang benar saja Mel, aku sudah ada di depanmu kenapa masih mikirin aku" ucap Alya, mendengar ucapan sahabatnya itu, Amel langsung menjitak kepala Alya


"Auuu sakit" lirih Alya, "Salahku apa?" Tanyanya lagi, "Kau tidak salah, tapi aku yang salah punya teman telmi kayak kau" ucap Amel, namun Alya belum mengerti dengan ucapan Amel


"Ah bodo amat" ucap Alya masa bodoh, dia tidak mau pikirkan lagi penyebab Amel melamun tadi


"Ini anak, tidak lama aku makan kau." ucap Amel membatin


"Oh iya, aku sampai lupa cerita sama kau" ucap Amel, "cerita apa?" Tanya Alya penasaran


"Waktu kami liburan di Bali kemarin, aku ketemu Anggita di sana" ucap Amel yang membuat Alya mengkerutkan dahinya, "Anggita?" Ucap Alya belum percaya

__ADS_1


"Iya Anggita, dia juga sepertinya sudah berubah bahkan kemarin dia meminta maaf sama aku" jelas Amel. Mendengar penjelasan sahabatnya itu, Alya terdiam sejenak memikirkan kejahatan Anggita pada Amel beberapa hari yang lalu.


"Kau kenapa?" Tanya Amel yang melihat Alya terdiam, "Tidak, aku hanya belum percaya sama dia" ucap Alya


"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi aku melihat dia meminta maaf dengan tulus sampai menangis kemarin" jelas Amel


"Kau jangan percaya begitu saja, kau boleh memaafkannya tapi kau juga harus waspada terhadapnya" jelas Alya, "kalau aku pribadi, aku belum yakin sama dia, setelah dia berusaha melenyapkanmu beberapah hari yang lalu" lanjutnya lagi


"Tapi bisa jadi dia diberi hidayah dan mengakui semua kesalahannya" ucap Amel


"Aku harap begitu, tapi akan lebih baik kita tetap waspada sama dia" ucap Alya, dan Amel menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya aku pulang dulu, ini sudah malam" pamit Alya, "Baiklah, tapi Kau diantar sama Jay" ucap Amel sambil tertawa


"Aku tidak apa-apa, ini juga belum larut malam" jawab Alya, "Baiklah aku tidak memaksamu lagi, tapi Bunda pasti yang akan memaksamu" ucap Amel yang cekikikan, karena dia tahu Bundanya tidak akan membiarkan Alya pulang sendirian.


"Aku lewat pintu belakang, blek" ucap Alya dengan entengnya, "Wah, kau mau durhaka sama bunda" ucap Amel yang membuat Alya merasa tidak enak. Jadi dia tetap harus pamit pada Irna, karena bagaimana pun Irna sudah dia anggap sebagi bundanya sendiri yang harus dia menghormatinya.


****


"Aku pamit pulang dulu Bunda" ucap Alya pamit pada Irna yang berada di ruang keluarga, "Kau akan diantar Jay" ucap Irna


Alya yang mendengar tawaran bundanya hanya bisa menghela nafas panjang. Amel benar, Irna tidak akan membiarkannya pulang sendiri

__ADS_1


"Baik Bunda" jawab Alya melemah kemudian salim sama bundanya lalu berlalu keluar menuju mobil


****


Prakkk


Suara pecah kaca jendela di kamar Amel, sontak Amel sangat terkejut mendengar suara pecahan tersebut.


Dia kemudian mendekati arah jendela itu dengan hati-hati, dan dia menemukan surat kaleng yang berisi ancaman


"Kau boleh bersenang-senang dulu sama suamimu, akan tiba saatnya aku akan melenyapkanmu. Tunggu saja!" isi pesan surat kaleng tersebut.


Setelah membaca isi pesan surat itu, wajahnya sudah mulai pucat karena ketakutan. Dia kemudian berlari keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Irna karena Indra belum pulang dari Kantor.


"Bunda... Bunda" teriak Amel yang berlari dari arah kamarnya. Irna yang melihatnya pun terkejut dibuatnya


"Ada apa nak?" Tanya Irna, "Bunda baca ini" ucap Amel yang memberikan surat kaleng itu pada Irna dengan tangan yang masih gemetar.


Setelah membacanya, dia melihat ke arah Amel yang sudah pucat dan ketakutan, dia kemudian berusaha menenangkan Amel


"Kau tenang dulu, jangan panik!"ucap Irna yang berusaha menenangkan Amel dan memeluk tubuh Amel


"Aku takut Bun, siapa yang mau melenyapkanku" lirih Amel yang sudah menetaskan air matanya karena ketakutan, "Kita tanya Indra nanti, biar dia mencari siapa pelakunya" lanjut Irna yang mengusap pelan punggung Amel.

__ADS_1


Amel yang mendapat pelukan dari Irna sudah sedikit agak tenang dari sebelumnya, meskipun masih ada kecemasan dari dalam dirinya.


__ADS_2