
Amel mencoba mengenal wajah perempuan yang ada di depannya saat ini, meskipun agak gelap tapi ia masih mengenalnya. Karena cahaya matahari yang masuk lewat fentilasi, mengenai tepat wajah perempuan itu.
"Nadia!" ucapnya terkejut, "kamu Nadia?" tanya Amel lagi untuk memastikan, "iya ini saya," ucap Nadia.
"Kenapa muka kamu pucat begitu? Tidak perlu terkejut sayang. Aku kembali karena kangen sama kamu," ucap Nadia dengan berbisik di telinga Amel, sehingga Amel bergidik ngeri dibuatnya.
****
"Kemana perginya mobil itu?" tanya Indra sesampainya di lokasi Alya, "tadi aku lihat dia terus-terus, setelahnya itu aku tidak tau lagi kemana?" jawab Alya cemas.
"Yasudah, kamu kembali ke Rumah sakit saja dulu, biar kami yang mencari Amel," ucap Indra lagi, "dan kamu ... ikut aku!" lanjutnya sambil menarik tangan Anggita dengan geram.
"Baik, jangan lupa kabari aku kalau ada info tentang Amel," ucap Alya lalu naik ke mobil.
Alya pun akhirnya kembali ke rumah sakit bersama pak supir dengan rasa cemasnya. Meskipun ia cemas, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Allah.
__ADS_1
"Non tidak usah cemas, Non Amel akan baik-baik saja," ucap pak Supir pada Alya, lalu menjalankan kemudinya, "iya Pak," balas Alya.
"Naik kamu ke mobil," ucap Indra sambil mendorong Anggita dengan kasar. Anggita hanya bisa menurut, ia tahu semua orang menyalahkannya atas kehilangan Amel.
"Jay, tanyakan ke anak buahmu. Apakah ada kabar tentang Amel," ucap Indra setelah naik ke mobil, "baik, Tuan," balas Jay.
"Maaf, Tuan sampai saat ini belum ada kabarĀ tentang non Amel," ucap Jay hati-hati setelah menghubungi semua anak buahnya. Indra hanya mengangguk mendengarnya.
"Sayang kamu dimana?" lirihnya dalam hati.
"Jangan bohong kamu," ucap Indra geram dengan mencekal lengan Anggita, "sumpah, Ndra bukan aku yang menculik Amel," lirih Anggita menahan kesakitan, detik berikutnya tetesan air jatuh dari matanya.
Indra pun melepas cekalannya, "Kalau kamu terbukti bersalah, aku tidak akan memaafkan kamu. Dengar itu!"ucap Indra geram, Anggita hanya diam ketakutan, "siapa yang berani membangunkan singa tidur ini," ucapnya dalam hati.
****
__ADS_1
"Mau kamu apa sebenarnya?" tanya Amel ketakutan saat mengetahui sosok wanita yang di depannya, "mau aku? Aku mau kamu mati," ucap Nadia pelan dengan sorot mata yang tajam.
"Lepaskan aku! Salahku apa?" tanya Amel lagi yang berusaha menenangkan dirinya, "lepaskan?" ucap Nadia, "jangan mimpi kamu," lanjutnya lagi.
"Aku ada sesuatu buat kamu, kamu pasti sangat suka," ucap Nadia lalu menyodorkan ponsel miliknya ke Amel.
Amel histeris melihatnya, di dalam ponsel itu ada video orang tuanya yang juga disekap seperti dirinya.
"Lepaskan mereka!" ucap Amel histeris, "kau siksa saja aku, jangan kamu siksa mereka," lanjutnya lagi.
"Cup cup cup, jangan nangis. Kamu mau aku lepaskan mereka?" tanya Nadia dan Amel pun mengangguk, "tapi sayangnya itu tidak mungkin, karena aku senang lihat kamu tersiksa begini ha ... ha ... ha," lanjutnya lagi lalu tertawa.
"Kamu gila, Nad. Jahat! Tidak berperikemanusiaan" umpat Amel, "kamu bilang apa? Aku jahat? Tidak berperikemanusiaan?" ucap Nadia geram dengan menarik rambut Amel ke belakang.
"Lepaskan aku," lirih Amel menahan sakit, tapi Nadia tidak memperdulikannya, "menurut kamu aku jahat, terus bagaimana dengan suamimu?" ucap Nadia yang semakin menarik rambut kuat milik Amel.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Amel tidak mengerti.