Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
10. Ungkapan Hati 2


__ADS_3

Sedangkan Sesil hanya terdiam dan menundukan kepalanya, Radit yang melihat itu mencoba mendekat,Radit memegang bahu Sesil dan mencoba untuk mengangkat wajahnya, tapi usahanya itu gagal karena Sesil sudah mengangkat kepalanya terlebih dahulu.


" Kamu gak papa kan.? " Tanya Radit.


" Gue minta maaf kalau ada kata kata gue yang menyakiti hati lo. " Ucap Radit penuh dengan rasa bersalah.


" Gue gak papa kok, tapi gue minta maaf sama lo karena gue gak bisa membalas perasaan lo. " Jawab Sesil kemudian tersenyum untuk yang pertama kalinya di hadapan Radit.


" Lo bisa pikirin dulu baik baik, gue akan nungguin lo sampai kapanpun itu, mau itu besok, satu minggu, satu bulan hingga satu tahunpun akan gue tunggu, jadi pikirkan matang matang, oke. " Ucap Radit.


" Sebaiknya lo jangan terlalu berharap deh karena gue masih belum bisa lepas dari rasa kaitnya kehilangan dan gue blum bisa lupain sampai sekarang, dan hanya dia yang gak bisa gue lupain selama bertahun tahun lamanya. " Ucap Sesil.


" Tapi kenapa harus dia... " Ucap Sesil kesal yang kini sudah meneteskan airmatanya, melihat hal itu kemudian Radit membawa Sesil kedalam pelukannya.


" Kalau gitu gue yang akan jadi orang kedua sekaligus yang terakhir, yang bisa bikin lo gak bisa lupain seumur hidup lo. gue janji gue bakalan bahagiain lo dan ngak bakalan nyakitin lo. " Ucap Radit.


" Gue akan buktiin bahwa gue gak hanya sekedar nebar kata kata. " Sambung Radit sambil menepuk pundak Sesil penuh kasih sayang.


" Sekarang lo bisa menagis sepuasnya dan lepasin semua beban lo dengan cara ini, bahu gue bakalan selalu siap sedia jika di butuhkan. " Lanjutnya lagi.


Setelah puas menangis kemudian Sesil mengangkat kepalanya dan ketika itu pula matanya bertemu dengan mata sayu milik Radit, mereka bertatapan culup lama dan akhirnya tatapan itu berakhir karena tikus menjatuhkan gerdus kosong di belakang mereka.


" Hah sepertinya tikus tikus di sini harus di musnahkan. " Ucap Radit melihat keseliling.


" Terserah lo, gue gak peduli. " Ucap Sesil ketus.


" Masalah yang gue bilang tadi sebaiknya lo pertimbangin baik baik. " Ucap Radit.


" Kalau gitu gue balik ke yang lain, gue udah terlalu lama pergi. " Ucap Radit kemudian mengelus kepala Sesil.


Lalu berbalik meninggalkan Sesil, saat Radit melangkahkan kakinya keluar gudang, Radit berpapasan dengan Reskiya dan Rasya yang hendak masuk ke gudang


" Ngapain lo ada di gudang? " Tanya Reskiya kepo.


" Ngak lagi ngapa ngapain. " Jawab Radit.


" Hanya mau nyingkirin tikus. " Lanjutnya.


" Jangan bohong lo. " Ucap Rasya.


" Gue lagi PDKT sebenernya. " Saut Radit sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Aduhhh, nambah lagiiii. " Sendir Rasya sambil berjalan memasuki gudang.


" Yang semangat, banyak saingan jika ingin mendapatkan Sesil. " Ucap Reskiya sambil memegang pundak Radit lalu berjalan masuk kedalam gudang.


Radit kemudian berjalan meninggalkan gudang menuju Rangga dan yang lainnya di dalam cafe.


" Sesil gimana perkembangannya? " Tanya Rasya yang kini sudah berada di dekat Sesil.


" Perkembanganya baik, Tapi ada beberapa yang sedikit rusak jadi harus di serfis kembali, tapi tenang aja tukang serfis akan segera datang. " Jawab Sesil serius sambil melihat kearah bukunya.


" Lo bicara apaan sih, gak nyambung kali. " Ucap Rasya.


" Emang yang lo maksud apaan? " Tanya Sesil.


" Gue nanya gimana perkembangan hubungan lo sama si anak baru itu. " Jawab Rasya gemas.


" perkembangan gimana gue gak ngerti? " Tanya Sesil.


" Lagi ngomongin apaan nih? " Tanya Reskiya yang baru saja sampai di tempat Sesil dan Rasya.


" Gak tau Rasya, ngomongnya gak jelas. " Saut Sesil.


" Lo yang gak jelas Sesil. " Ucap Rasya nyolot.


" Radit lo kemana ajasih, ninggalin kita disini? " Tanya Rangga.


" Kan gue habis dari toilet. " Jawab Radit.


" Alah bohong, tadi si Ben ke toilet gak ada lo. " Ucap Rangga.


" Jangan jangan lo hanya cari alasan ya buat deketin sesil. " Tebak Ben.


" Mana mungkin gue nglakuin itu." Sangkal Radit.


" Ngak usah ngelak lo. " Bentak Ben yang kini sudah menarik baju Radit hingga kakinya terangkat dari lantai.


" Yooo... , Ben kalem, kalem. jangan langsung hajar aja Broo. " Ucap Aldo sambil menahan Ben yang hendak meninju Radit.


" Tenang Ben, jangan dulu emosi. " Ucap Rangga menenangkan Ben.


" Tenang Ben, lagian lo kenapa sampai emosi kek gitu? " Tanya Raka.

__ADS_1


" Dasar Radit s***** , berani beraninya dia melakukan hal itu. " Batin Ben kesal.


" Bukan apapa. " Jawab Ben kesal, kemudian melepaskan baju Radit dengan kasar, Radit kemudian merapikan bajunya.


" Ada apaan nih rame rame? " Tanya Rasya kepo di ikuti Reskiya dan Sesil di belakangnya.


" Ngak ada papa. yuk semuanya balik yuk. " Ucap Raka sambil mendorong yang lainnya menuju pintu keluar.


" Loh, kok semuanya pada pergi sihh? " Tanya Reskiya heran.


" Hei hei kenapa pada bubar? " Tanya Rasya pada semuanya.


Keesokan harinya di Cafe.


Kini mereka semua sedang berada di cafe nongkrong bersama.


" Hahahahaha, jadi lo masuk kedalam hahahaha gott. " Ucap Aldo sambil tertawa terbahak bahak di ikuti Rangga, Farhan, Raka, Rasya dan Reskiya.


" Hass.., Aldo, Raka! awas pulang nanti gue bakalan kasih kalian berdua pelajaran. " Ancam Ben merasa kesal pada Aldo karena telah menceritakan kejadian memalukan yang menimpanya kemarin saat pulang dari Cafe


" Terserah lo yang penting jagan main kroyokan seperti dulu. " Saut Aldo.


" Hallo sayang, kamu di sini ya ternyata, aku tadi telfon kamu tapi gak di angkat padahal lagi ngumpulya. " Ucap seorang wanita yang memeluk Ben dari belakang, Ben kemudian menoleh kearah wanita itu dan seketika wajahnya berubah bertambah kesal.


" Lepasin gak El. " Ucap Ben yang berusaha melepaskan pelukan wanita tersebut yang ternyata bernama Gabriel.


" Gak mau! kamu kenapa sih berubah gini? " Tanya Gabriel tambah mengeratkan pelukannya.


" Dulu lo gak pernah nolak pelukan aku, kenapa sekarang kamu malah mau lepasin sih, atau jangan jangan karena wanita bren***k itu ya? " Lanjut Gabriel emosi yang kembali bertanya pada Ben.


" Siapa yang lo bilang bren***k ha? " Bentak Ben yang langsung melepaskan pelukan gabriel paksa lalu berdiri menghadap kearah Gabriel.


Kursi yang di duduki Ben langsung terjatuh, Ben menatap lekat kearah Gabriel menuntut untuk menuntut jawaban.


" Anu itu... aku...," Jawab Gabriel ketakutan dengan tatapan yang di barikan oleh Ben. kemudian Gabriel menarik nafasnya kemudian ia hembuskan kembali dengan berat.


" Wanita bren***k itu adalah dia, Sesil, Sesil gue akan bunuh lo. " Teriak Gabriel yang di dengar oleh seluruh orang yang berada di cafe.Sesil yang baru saja datang pun bingung dengan apa yang telah terjadi.


" Mengapa lo ingin bunuh gue, gue gak pernah gangguin lo. " Ucap Sesil yang sedang berjalan kearah mereka.


" Sesil aja ngak kenal sama lo. " Timpal Rasya.

__ADS_1


" Hah jangan pura pura baik dan sok polos , lokan yang sudah ngerencanain pembunuhan Riska? " Ucap Gabriel yang membuat yang lain terkaget dan tidak percaya dengan apa yang telah di ucapkan oleh Gebriel.


__ADS_2