Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
26. Munculnya Rasa Kagum


__ADS_3

Mata Sesil terblalak melihat siapa orang yang saat ini tengah merada di hadapannya sambil membungkam mulutnya, Sesil sudah berusaha untuk menyuruh pria tersebut untuk melepaskan tangannya dari mulutnya dengan menggelengkan kepalanya dan mengoyang goyangkan tubuhnya tapi tetap tidak di tanggapi apa apa oleh pria itu, pria itu hanya menatap dari atas hingga ke bawah tubuh Sesil dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sekarang kamu ngak bisa kabur lagi, kamu bakalan jadi milik aku untuk selamanya," ucap pria tersebut dengan di selingi tawa menjijikan.


Pria itu kemudian melepaskan tangannya dari mulut Sesil lalu turun ke arah paha Sesil setelah sampai pria itu meraba masuk ke dalam rok Sesil. "Apa yang lo mau lakuin?" tanya Sesil mulai gelisah.


"Aku sudah katakan sayang, kamu akan menjadi milikku tidak lama lagi," sahut Pria tersebut.


"Lo ngak usah ngomong sembarangan deh, sekarang lo lepasin gue dan kita bicarakan baik-baik, oke!" saran Sesil meyakinkan pria yang ada di depannya saat ini.


"Ben," panggil Sesil pada pria itu yang ternyata adalah Ben.


"Gue bingung kenapa Ben berubah menjadi seperti ini. Seingat gue dia yang paling waras di antara yang lainnya," batin Sesil sambil memperhatikan tingkah laku dari Ben yang menutut Sesil sedikit aneh.


Ben berpikir sejenak kemudian memutuskan untuk melepaskan tangan dan kaki Sesil dari himpitannya, Sesil sedikit tersenyum lega tetapi sedetik kemudian senyuman Sesil langsung hilang seketika di karenakan Ben yang langsung merobek rok miliknya hingga memperlihatkan betis mulusnya tapi untungnya Sesil memakai celana sor hingga selutut.


"Apa yang lo lakuin? dasar b**n**ek!" teriak Sesil yang langsung memberikan bogem mentah ke arah perut Ben.


"Sayang kenapa kamu memukulku?" tanya Ben dengan raut wajah yang sangat aneh.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan "Sayang" kata itu sangat menjijikan jika terucap dari mulut pria sepertimu," ucap Sesil, seraya menatap jijik ke arah Ben.


"Kenapa begitu Sayang?" tanya Ben dengan nada bicara yang aneh.


"Gue ngak bakalan mau menjadi milik pria seperti lo," ucap Sesil tegas.


"Kalau begitu kenapa kamu ngak mati aja sama aku! supaya kita bisa sama-sama terus dan tidak akan terpisah!" saran Ben.

__ADS_1


"Lo pasti udah gila ya," ucap Sesil sambil terus menjauh dari Ben karena Ben yang terus menerus mencoba untuk menangkap Sesil.


"Ayolah sayang kemari." Ben terus merayu Sesil agar mendekat ke arahnya tapi Sesil sama sekali tidak menuruti permintaan konyol Ben.


"Aduh, Sayang baju kamu jadi merah gara-gara darah itu, mengapa kemarin kamu tidak ikut dengan tenang bersama mereka?" ucap Ben seraya terus berusaha untuk mendekat ke arah Sesil.


"Jadi dalang di balik semua itu lo?" tanya Sesil kesal.


Bukannya menjawab Ben malahan langsung menerkam tubuh Sesil hingga Sesil terbaring di tanah, lengan dan juga betis kirinya tergores akibat bergesekan dengan tanah dan juga akar yang cukup besar. kini pergerakan Sesil sudah di kunci semua, Sesil berusaha memutar otaknya agar bisa lepas dari terkaman Ben.


Selagi Sesil memutar otak yang di ikuti dengan pemberontakan yang sia-sia dan juga Ben yang terus menerus mengusap dan menatap wajah Sesil kini Radit tengah berusaha sekuat tanaga menyusuri hutan demi sampai di tempat Sesil, Radit terus menerus berjalan tanpa memperdulikan dirinya yang sudah memiliki banyak luka goresan akibat terjatuh saat berlari, terkena pohon berduri dan yang parahnya di kejar oleh ular berbisa.


"Sesil, kamu di mana sekarang aku sangat menghawatirkanmu," gumam Radit yang sudah berjalan terhuyung-huyung.


"Sedikit lagi dan aku akan tiba di pohon besar itu." Radit terus berjalan sambil terus berbicara yang tidak jelas berulang-ulang.


Ben yang mendengar suara seseorang yang jatuh kemudian mendongak melihat keseliling di rasanya aman Ben kemudian melanjutkan kembali aksinya dalam melucuti pakaian Sesil. Sedari tadi Sesil terus berdo'a agar ada yang datang untuk menolongnya.


"Biar pun usaha itu sia-sia yang terpenting aku harus mencobanya terlebih dahulu," batin Sesil, sambil menutup matanya kemudian berteriak sekencang-kenacangnya untuk meminta pertolongan.


"Tolongggg, apa ada orang."


"Tolong gue, gue ada di bawah pohon besar."


"Gue, mohon jika ada orang tol.. ..." Dengan segera Ben membungkam mulut Sesil dengan cara menciumnya. Sesil membelalakan matanya dengan lebar ketika Ben menciumnya.


"B**g**** , gue kecolongan lagi," batin Sesil frustasi.

__ADS_1


Selagi Ben terus mel*mat bibir Sesil tangan Ben bergerak nakal ke arah pinggang lalu naik ke arah dada Sesil, Sesil dengan sekuat tenaga memberontak agar bisa lepas dari terkaman Ben namun apa daya kekuatan Sesil tidak sebanding dengan Ben dan dengan terpaksanya Sesil menerima semua perbuatan bejat dari Ben sambil menitikkan air matannya.


"Das*r b**g****, b****g** lo Ben," teriak Radit lalu langsung menendang Ben hingga terbaring lumayan jauh di samping Sesil.


"Kamu ngak papa kan?" tanya Radit khawatir.


Radit menatap sendu ke arah Sesil namun Sesil menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Radit. Sesil merasa malu karena Sesil merasa dirinya sudah kotor dan tidak pantas untuk Radit, baju yang sudah hampir memperlihatkan lekuk tubuhnya karena sudah di sobek oleh Ben.


Radit menatap tajam ke arah Ben yang hendak berdiri, kemudian Radit membuka kaos yang dia pakai lalu memberikannya kepada Sesil. "Pakailah jika tidak orang lain akan melihat tubuhmu, karena yang lain akan segera sampai ke sini." Radit menyerahkan kaosnya dengan senyuman manis.


"Sedangkan b****g** ini biar aku yang urus, tapi sebaiknya kamu pindah ke pohon yang sana agar aku leluasa untuk menghajarnya," ucap Radit dengan senyuman.


"Tapi luka lo pasti belum sembuh kan?" tanya Sesil sedikit khawatir.


Radit kemudian merunduk agar sejajar dengan Sesil "Kamu menghawatirkan ku?" goda Radit dengan senyuman menggodanya.


"Aku tidak menghawatirkan mu," sangkal Sesil.


"Aku ...., kamu ...," gumam Radit masih dengan senyuman menggodanya


"Aku tau pasti kamu ngak akan pernah mau jujur, jadi tenang saja aku tidak papa," ucap Radit lembut kemudian merapikan rambut Sesil yang berantakan.


"Tapi kamu segitu menghawatirkan aku hingga tidak ingat luka sendiri," gumam Radit kemudian berdiri.


"Luka ...," batin Sesil, tidak lama kemudian Sesil baru ingat kalah tadi lukanya terbuka dan mengeluarkan darah dan hingga saat ini juga masih mengeluarkan darah yang membuat kaos hitam polos milik Radit berwarna hitam kemerahan.


Seketika tatapan Radit langsung berubah saat melihat Ben tatapannya seketika menjadi sangar dan aura membunuh terlihat jelas, Sesil terpana saat melihat tatapan Radit dan juga jagan lupa roti sobek yang tertata rapi di badan Radit.

__ADS_1


Radit berjalan ke arah Ben kemudian langsung menarik baju bagian depan Ben dengan kasar lalu memberikan bogem mentah tepat di pipi kanan Ben hingga memar tidak hanya itu Radit melempar, membanting, dan juga menendang tubuh Ben tanpa ampun.


__ADS_2