
Malam yang cerah, bulan di temani oleh bintang, langit di temani oleh awan, banyak remaja dan orang dewasa yang berpasangan membuat suatu rasa yang ada di hati bergejolak merindukan seorang belahan jiwa yang entah tak kunjung tiba, hati selalu merindu, menunggu dan menanti tibanya seorang pangeran berkuda putih.
Reskiya berjalan menyusuri sepanjang jalan raya dengan menunduk menatap ponselnya enggan rasanya melihat keseliling yang 90% penghuninya adalah para pasangan yang sedang berbahagia. sekiranya setengah jam Reskiya berjalan kaki tapi belum juga kunjung sampai entah kenapa rumahnya terasa jauh.
Rasa ingin di perlakukan istimewa oleh seorang pria selalu senantiasa bergejolak di dalam dadanya tapi keinginan bebas dan tidak terikat oleh sebuah hubungan juga lebih besar keinginannya, terasa serba salah apa pun yang ingin dia lakukan, rasa takut akan kehilangan dan di hianati oleh seorang pria selalu terlintas di pikirannya saat ada niat untuk memiliki seorang kekasih.
Reskiya melihat kesekitarnya dan dirasanya sudah tidak ada orang Reskiya langsung mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya dengan cukup lantang, "Ahhhhhhh, kenapa sih jadi kayak gini, gue hanya ingin bahagia ..., gue hanya ingin bahagia dengan orang yang gue sayang, t-tapi gue takut untuk kehilangan dan tersakiti lagi ..., AAAAAAAHHHHHHH ini semua gara-gara laki-laki ngak tau diri itu ...,"
"Dasar cowok ngak tau diri, br****** , ngak tau malu. emang ya semua cowok itu sama! hobinya cuman gonta-ganti cewek, peluk sanalah, peluk sinilah, cium sana dan apalah sebagainya itu, cowok emang ngak tau malu banget apalagi dia ihhhhhhhhhh," Reskiya mengoceh sendirian hingga dia sampai di depan sebuah rumah kosong yang terlihat sangat suram.
"Eh, kenapa aku bisa sampe rumah angker ini?" Reskiya langsung melihat keseliling dan tidak ada orang di sekitar situ jalanan terlihat menyeramkan.
Dengan cepat Reskiya berbalik dan berjalan dengan cepat sambil sesekali berlari, setelah lama berjala. Reskiya kembali ketempat di mana Raka menurunkannya tadi, "Yaampun kenapa gue bisa sampai di sini lagi sih," ucap Reskiya kemudian berbalik dan kembali menyusuri jalan yang sama lagi.
"Hay, mau kemana malam-malam gini? sendirian pula," tanya Alfin yang kebetulan lewat dan melihat Reskiya yang sedang berjalan di pinggir jalan dan seketika saat mendengar ada suara motor Reskiya langsung berhenti.
"Eh, Kak Alfin, kebetulan banget ketemu sama kak Alfin di sini," ucap Reskiya merasa sangat bahagia bertemu dengan Alfin di situ.
"Lo ngapain di sini sendirian? bukannya katanya Raka yang mau antar pulang lo ya? tapi kenapa lo sekarang ada di sini? Raka di mana?" tanya Alfin beruntun kemudian turun dari mogennya.
"Sekarang itu ngak penting, yang terpenting sekarang antar gue ke apartemen Sesil ya," sahut Reskiya sambil menggoyang-goyangkan lengan Alfin.
"Ngak baik tau kalau cewek jalan sendirian malam-malam di pinggir jalan kayak gini, banyak begal, copet, dan hantu, apalagi kawasan ini terkenal karena angker. Hiii," ucap Alfin sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ngak usah nakut-nakutin dong," saut Reskiya melihat keseliling memastikan tidak ada hantu atau pun yang lainnya.
__ADS_1
"Iya gue antar tapi jawab dulu kenapa Lo sekarang belum sampai di rumah dan di mana Raka sekarang?" tawar Alfin.
"Oke, gue di suruh turun sama Raka di dekat pohon besar bagian sana dan sekarang gue ngak tau Raka ada di mana," sahut Reskiya.
"Udahkan sekarang ayo antar gue pulang, gue udah ngantuk dan besok gue ada kelas pagi," ucap Reskiya sambil memukul-mukul kecil pundak Alfin.
"Iya, iya tapi kenapa ke apartemen Sesil bukan ke rumah?" tanya Alfin bingung.
"Sekarang udah tengah malam, pintu pagar udah di tutup sama pak satpam jadi gue ngak bisa masuk. udah cepetan pake helemnya," ucap Reskiya sembari menyodorkan helem milik Alfin yang berada di atas motor.
"Emang punya kunci apartemennya?" tanya Alfin yang langsung mendapat pukulan di punggunya cukup keras.
"Aduhhh, kok gue di pukul sih?" tanya Alfin bingung sambil berusaha mengelus punggungnya.
"Gimana ngak di pukul, dari tadi nanya terus kapan antar gue pulang!" ucap Reskiya kemudian berusaha naik keatas motor.
"Mau nyalahin gimana kalau lo aja belum naik ke motor," sahut Alfin kemudian menyalakan motornya.
"Pegangan yang erat ya," ucap Alfin dan hanya mendapat jawaban hembusan angin yang lewat.
Alfin kemudian langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang tapi lama kelamaan Alfin terus menambahkan kecepatan motornya hingga Reskiya memukul-mukul pundak Alfin dengan cukup keras.
"BERHENTI, BERHENTI,"teriak Reskiya masih memukul-mukul pundak Alfin.
Dengan segera Alfin memberhentikan mogennya di pinggir jalan lalu bertanya mengapa Reskiya memukulnya. "Lo, kenapa mukul gue lagi? katanya tadi mau buru-buru, ya gue balab, terus apa yang salah coba?" tanya Alfin merasa serba salah.
__ADS_1
"Kak Alfin liat ni rambut gue jadi berantakan kayak gini," omel Reskiya sambil merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Bfff, bwahahahahaha." Alfin tertawalepas melihat model rambut Reskiya yang berdiri dan acak-acakan, dengan kesalnya Reskiya turun dari motor.
"Kenapa turun? nanti malah ngak bisa naik lagi lo," goda Alfin terus saja tertawa.
"Ketawa aja terus, ketawa," ucap Reskiya kesal masih terus merapikan rambutnya.
"Maaf, maaf abisnya rambut lo lucu," sahut Alfin masih terus terkekeh.
"Ini juga ada helem di sini ngak di kasih," ucap Reskiya kesal sembari mengambil dengan kasar helem yang tergantung di samping kakinya.
"Ini juga helem susah banget di pakek," omel Reskiya sambil berusaha memakai helemnya.
"Sini gue pakein," ucap Alfin kemudian turun dari motor lalu berdiri di hadapan Reskiya.
Alfin sedikit menunduk agar bisa sejajar dengan Reskiya, selagi Alfin memakaikan helem Reskiya terus menatap wajah Alfin dengan intens. "Yaampun ternyata wajah kak Alfin ganteng juga kalau di perhatiin dari dekat," batin Reskiya tanpa berkedip sedikit pun.
"Masih mau di tatap?" tanya Alfin, yang kini tatapan mata mereka sudah bertemu.
"Masih," jawab Reskiya tanpa sadar, Alfin tersenyum mendengar jawaban dari Reskiya.
"Udah, yuk katanya mau di antar, kok masih bengong juga sih?" ucap Alfin yang sudah berada di atas motor sambil memakai helemnya.
"Ah, iya," sahut Reskiya kemdian naik ke atas motor.
__ADS_1
Kembali Alfin melajukan mogennya dengan kecepatan tinggi dan setelah beberapa menit perjalanan Alfin memarkirkan motornya di dekat warung yang masih buka. Reskiya bingung kenapa Alfin berhenti di sini, Reskiya celingak-celinguk melihat keseliling.