
Di dalam kamarnya Arga kegirangan sendiri mendengar suara teriakan dari sang kakak yang di kiranya sedang melakukan olahraga malam.
"Yaampun apa gue sudah mau jadi paman?" gumam Arga yang membuat Rolan dan yang lain terkekeh mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Arga.
"Apa-apaan kalin ketawa kayak gitu? Ngak asik tau!" omel Arga kemudian kembali menempelkan kembali telingannya di dinding.
"Lanjutin aja ngak usah perduliin kita," sahut Rolan sambil berjalan ke arah kasur masih dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Heh, berisik," rancau Arga.
"Perihhh,"
"Aaahhh, pelan-pelan,"
"Sabar kalau gitu aku tutup dulu,"
"Tunggu! Apa nih yang mau di tutup?" batin Arga heran tapi tetap menguping.
"Sssttttss sakit bangett,"
"Jangan di gerakin nanti keluar lagi darahnya!"
"Makin seru nih!" Arga semakin menempelkan telingannya dengan tembok.
Sesil masih berada dalam pelukan Radit, sedangkan Radit menahan kapas untuk menutup luka Sesil agar darahnya tidak keluar lebih banyak, Karena merasa tidak ada pergerakan dari Sesil, dengan perlahan Radit menarik bantal guling lalu menaruhnya di lantai kemudian membaringkan Sesil dan langsung bergegas mengobati luka Sesil.
Setelah selesai mengobati luka, Radit kemudian hendak membangunkan Sesil agar pindah ke atas kasur tapi niatnya terhenti saat melihat wajah sembab Sesil, Radit menjadi tidak tega untuk membangunkannya kemudian dengan perlahan Radit menggendong tubuh Sesil ke atas kasur dengan hati-hati.
"Ar, mau sampe kapan lo nempelin kuping lo di tembok?" tanya G, sambil membawa segelas air putih.
"Bener banget udah sejam lo nempelin tu kuping di tembok," sahut Rolan sambil menyeruput kopinya.
"Lebih baik lo ikut kita main kartu!" timpal J.
"Awas tu kuping nempel beneran di tembok," goda Rolan lalu di sertai dengan tawa renyah.
"Berisik banget sih kalian,"
"Tapi gue udah ngantuk, jadi gue tidur aja," ucap Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menuju sebuah tikar yang sudah ada bantal dan selimut.
__ADS_1
"Ah terserah lo aja," sahut Rolan.
"Ahhh, gue menang... Ahahaha," teriak Rolan yang langsung mendapat lemparan bantal dari Arga.
"Berisik lo,"
"Kembalikan bantal gue," pinta Arga ketus.
"Ni,makan tu bantal," sahut Rolan lalu melemparkan bantal kembali ke pemiliknya.
"Lo kira gue apaan," ucap Arga dengan ketusnya kemudian menutupi dirinya dengan selimut.
"Udah kayak cewek aja lo! Ngambek segala," sewot J, kemudian melemparkan kartunya kelantai dengan semangat.
"Huhuyyy gue mau menang lagi nihh," seru Ronal dengan semangatnya dan wajah yang berseri-seri.
"Enak aja! Gue yang mau menang nih!" seru G, kemudian melemparkan kartu satu-satunya ke lantai.
"Aaaaakhhh, kalian semua berisik banget sih! Gue mau tidur aja ngak tenang!" rancau Arga dengan berlagak seperti anak kecil yang mengamuk.
"Eleh, lo ngak usah banyak bacot," Rolan melemparkan botol bekas minuman dingin ke wajah Arga.
Arga kemudian bangkit dari baringnya lalu duduk di samping Rolan dan langsung mengambil alih kartu milik Rolan yang tinggal satu dan dengan santainya Arga melemparkan kartunya dengan muka tanpa dosa ke lantai.
"Aaarrrrggghhhh, kannnn gue kalah gara-gara lo!" teriak Rolan frustasi, Arga dan yang lain pun hanya tertawa terbahak-bahak.
Tok tok tok tok
Arga kemudian membuka pintu dan nampak Radit yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang sedikit suram, Arga yang melihat itu seketika berpikir kalau Sesil tidak memuaskannya di ranjang jadi Radit ke sini untuk melepas kekesalan.
"Kalian bisa diam ngak? ini udah malam kalian sebaiknya tidur," ucap Radit dengan loyo.
"Iya, iya gue sama yang lain bakalan diam," sahut Arga ketus.
"Udah pergi ke kamar lo sana!" Arga dengan ketusnya mengusir Radit dari hadapannya.
"Emang gue mau balik ke kamar!" Radit berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung menuju kamarnya.
"Wissss, kalau gitu kak Sesil jago banget dong olahraga ranjangnya," batin Arga antusias.
__ADS_1
*****
*******
Pagi telah tiba dan jam sudah menunjukkan pukul 07:45 tapi Radit dan Sesil masih bertualang di alam mimpi masing-masing, tapi tidak lama kemudian mata Radit mulai terbuka dan seketika terkaget saat menyadari ada tangan yang menindis dadanya dan hembusan angin tepat di lehernya membuat Radit menoleh ke arah asal hembusan angin tersebut, seketika wajah Radit menunjukkan ke khawatiran tetapi sedetik kemudian tersenyum manis sembari melihat wajah Sesil yang masih terlelap.
"Wajahmu bagai musim semi yang sangat indah saat tertidur, tapi... Saat kau bangun seperti musim salju yang dingin pada diriku," gumam Radit sembari menatap secara itens wajah Sesil.
Radit membelai dengan lembut pipi, rambut serta bibir mungil Sesil tanpa Sesil risih sedikit pun, lalu Radit memegang dahi Sesil, seketika mata Radit melotot dengan cepat Radit mengambil sembarang kaosnya dari dalam lemari lalu mengelap keringat yang keluar secara tiba-tiba membuat Radit panik, setelah mengelap keringat Sesil dengan segera Radit keluar dari kamar menuju dapur dengan tergesa-gesa.
"Bi', Bi', Bi' Laras!" panggil Radit.
"Bi' Laras bisa minta tolong buatkan bubur nasi segera?" pinta Radit pada Bi' Laras yang tengah mencuci piring di dapur.
"Oh iya, tunggu ya," sahut Bi' Laras kemudian langsung meninggalkan cucian piringnya.
"Baik, terima kasih Bi' Laras, kalau begitu saya minta tolong setelah masak antar ke kamar ya Bi' Laras." Dengan tergesa-gesa Radit kembali ke dalam kamar.
"Yaampun, kenapa bisa jadi begini!" Radit melihat ngeri luka Sesil.
"Aku harus segera mengobatinya lagi." Radit bergegas mengambil kotak P3K lalu mengobati luka Sesil, di tengah-tengah Radit mengobati luka Sesil dengan tiba-tiba Sesil terbangun.
"Uuuumm, aawwwhh," pekik Sesil saat merasakan lukanya di sentuh.
"Apa yang lo lakuin di bawah sana?" tanya Sesil kaget, dengan spontan menarik kedua kakinya tapi untungnya Radit menahan kaki yang luka.
"Sabar! sedikit lagi akan segera selesai," ucap Radit masih fokus dengan luka Sesil.
"Auuwwwh," pakik Sesil.
"Sakit, apa yang lo lakuin sihh?" tanya Sesil sedikit menahan sakit.
"Aku lagi ngobatin luka kamu sayang, jadi ngak usah liat-liat ya,.... ada darahnya!" ucap Radit kemudian mencolek manja hidung Sesil yang membuat Sesil berdecak kesal.
"Apaan sih rese banget," ucap Sesil ketus, lalu menghapus bekas colekan Radit walau tidak terlihat.
"Yaampun, mengapa Sesil memasang wajah marah seperti itu, orang tidak akan ketakutan tapi malah sebaliknya, orang akan merasa gemas malihatnya," batin Radit, mengalihkan pandangannya kembali ke luka.
"Haduhhh, ngapain sih? tapi kenapa gue seneng ya Radit manjain gue, tapi ada rasa kesal juga dengan dirinya..... aaaaahhh sebenarnya ini perasaan apa?" batin Sesil merasa frustasi dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1