
Ting ting tong ting (nada dering ponsel)
Dengan Segera Alfin mengangkat telfonya dengan wajah yang berseri-seri yang ternyata dari sang Mamah.
"Halo, Mah gimana?" tanya Alfin langsung kepada intinya.
"Salam dulu kalau menjawab telfon, Alfin," sahut Ratna menasehati Alfin.
"Asalamualaikum Mah, gimana?" ucap Alfin tidak sabaran.
"Waalaikumsalam sayang, ngak usah terburu-buru juga nanyanya, tenang aja sudah dalam kendali semuanya," sahut Ratna dengan senyuman yang selalu menempel di wajahnya.
"Bagus deh kalau gitu, gue bakalan cepet punya keponakan," seru Alfin antusias.
"Kalau gitu jemput Mamah sama Papah, Mamah udah ngantuk, udah lapar dan udah gerah.." ucap Ratna.
"Siap Bos," sahut Alfin lalu mematikan telfon.
Sementara itu kini Sesil dan Radit sedang melakukan olahraga siang, Radit melakukannya seakan tidak memikirkan apapun begitu pula Sesil yang begitu menikmati permainan Radit, ruangan itu menjadi saksi bisu dari penyatuan mereka, setelah beberapa jam kemudian Radit berbaring di samping Sesil sambil menatap wajah seorang wanita yang menjadi pujaan hatinya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Terimakasih sayang," ucap Radit lalu mengecup mata kiri Sesil.
Sesil yang sudah tertidur karena kelelahan tidak menyadari Radit yang beranjak dari kasur, setelah selesai membersihkan diri Radit kemudian memunggut semua pakaian milik mereka lalu meletakkannya di atas sofa dan Kemudian menelfon Rati untuk mengambilkan satu set setelan jas dan membelikan baju hingga menutupi leher untuk Sesil.
"Bos, suruh gue beli baju lagi buat Non Sesil, jangan-jangan mereka... Sudah melakukan itu lagi..," ucap Rati malu-malu.
"Lakuin apa Rat?" tanya salah satu karyawan di kantor.
"Bukan apa-apa, lo kepo banget sih.." sahut Rati lalu pergi dengan bahagia.
"Idih..."
Kini malam pun tiba, Sesil terbagun dari tidurnya sambil memegang pinggangnya yang merasa nyeri, Sesil merasa bingung karena seluruh badannya terasa sakit semua, setelah sadar kalau sekarang dia tidak memakai sehelai benangpun dengan cepat menutup tubuhnya menggunakan selimut.
Radit yang mendengar ada sebuah pergerakan dari arah tempat tidur lalu langsung menoleh dan melihat Sesil yang tengah merutuki dirinya sendiri tentang kejadian semalam yang perlahan mulai bermunculan di kepalanya hingga membuatnya geli sekaligus kesal dengan dirinya sendiri.
"Apa kamu sudah bangun?" tanya Radit lalu meletakkan laptopnya di meja.
"Hah! Apa yang sudah lakuin ke gue? Lo masukin apa di dalam minuman itu?" tanya balik Sesil yang nampak marah.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau, aku sama sekali belum menyentuh minuman itu setelah Abang Alfin kasih ke aku," sahut Radit membela diri, lalu berjalan ke arah Sesil yang langsung mendapat penolakan tegas dari Sesil.
"Kenapa lo lakuin itu ke gue? Lo ngambil kesempatan dalam kesempitan ya?" tanya Sesil kesal sambil mempererat pegangan selimutnya.
"Aku melakukannya karena kamu yang maksa dan untuk menghilangkan efek obat di dalam tubuh kamu," jelas Radit lalu mengambil sesuatu dari plastik hitam di samping ranjang.
"Pakai itu, lalu nganti dengan yang ada di dalam plastik itu," lanjut Radit lalu berbalik.
"Ohya, sepertinya yang merencanakan ini semua adalah Mamah dan Abang Alfin," sambung Radit lalu keluar.
"Aku ngak nyangka akan mendapatkan Sesil dengan cara seperti ini, aku harus bertanya pada Abang dan Mamah segera," batin Radit lalu bergegas menuju lift.
Setelah sampai di lift ponsel Radit berbunyi yang menandakan ada yang menelfon, saat mengangkat telfon raut wajah Radit seketika menjadi serius mendengarkan orang tersebut, setelah selesai menerima telfon, Radit mengirim pesan pada Sesil.
"Heh, ternyata sudah mulai bergerak," ucap Sesil tersenyum meremehkan.
"Radit mengirim pesan apa ke gue? ah palingan dia pergi dan ninggalin gue di sini,"sambung Sesil lalu bergegas menuju tempat tujuannya.
Setibanya di lobi hotel, Sesil sudah di tunggu oleh Rangga, tanpa basa-basi mereka berdua kemudian pergi meminggalkan hotel menggunakan moge Rangga dengan kecepatan penuh.
__ADS_1