
seorang gadis menghampiri mereka berdua membuat Sesil mendongak dengan kesal, gadis itu lalu berjongkok di samping Radit lalu membuka kotak P3K yang dia bawa tadi, ternyata gadis itu salah satu dari kumpulan para gadis yang menatap mereka sedari tadi.
Sambil menahan perih Sesil terus melihat ke arah gadis itu dengan tatapan tidak suka membuat gadis itu merasa gelisah dan gugub, menyadari hal itu Radit kemudian menggenggam tangan Sesil yang berada di pahanya dengan erat membuat Sesil sedikit keget lalu berusaha melepaskan tangan Radit memggunakan tangannya yang lain tapi malah dengan cepat Radit mengenggam kedua tangan Sesil dengan tangan besarnya.
"Jangan bergerak atau luka kamu akan kemasukan kotoran," ucap Radit serius.
"Liana, setelah itu kamu balut dengan kain kasa, tapi harus pelan-pelan," ucap Radit pada gadis itu yang bernama Liana.
"Jadi lo namanya Liana! bagus deh jadi gue bisa cari lo dengan mudah," batin Sesil masih menatap tajam ke arah Liana.
"Sumpah gue udah bener-bener ketakutan hanya di tatap kayak gini, gimana gue mampu buat liat matanya nih, gue nunduk aja masih berasa kalau lagi di tatap," batin Liana merasa gugub setengah mati hingga tangannya berkeringat.
"Tapi kenapa gue harus cari dia? kan gue ngak punya masalah apapun sama dia?" batin Sesil bertanya pada dirinya sendiri.
"Lo sedang gak sehat ya Liana?" tanya Radit yang sadar kalau tangan Liana berkeringat.
"Enggak kok, gue hanya kepanasan aja, gue sehat kok," sahut Liana merasa gugub saat di tanya oleh Radit.
"Sepertinya setelah ini gue harus nyuruh kak Radit buat ngejelasih ini semua ke Kak Sesil agar kedepannya tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan," batin Liana menyeka keringatnya.
Setelah selesai membalut luka Sesil seketika seperti beban berat di angkat dari pundak Liana membuatnya tersenyum bahagia tapi saat melihat tatapan kesal Sesil seketika beban yang baru saja di angkat kini di taruh di pundaknya lagi dengan berat dua kali lipat.
Melihat tatapan Sesil ke Liana membuat Radit merasa senang tapi dia mengerti dengan perasaan Liana saat ini yang merasa canggung sekaligus tertekan dengan tatapan Sesil, kerena itu Radit kemudian menunda membelikan hadiah untuk Raka dan Rasya karena hendak menjelaskan pada Sesil siapa Liana sebenarnya.
Setelah beberapa menit kemudian Radit dan Sesil tiba di rumah mereka bersama dengan rombongan Liana yang membawa mobil sendiri, Radit kemudian menggendong Sesil menuju kamar yang di ikuti rombongan Liana yang berjumlah tujuh orang.
"Sayang, kenalin ini Liana, sepupu aku beserta teman-temannya," ucap Radit memperkenalkan Liana ke Sesil.
"Ternyata sepupunya toh, kalau gitu buat apa gue kesal sama dia, tapi! lagian biarpun dia ceweknya gue ngak berhak buat marahkan," batin Sesil mulai berpikir lagi.
"Salam kenal kak Sesil!" Secara serentak mereka ber delapan menyapa Sesil dengan kompak.
"Maaf ya kak Sesil, gue tadi langsung ngobati kaki kakak, soalnya gue khawatir jadi ngak sempat kenalin diri deh," ucap Liana menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ngak papa, maaf ya gue yang seharusnya ngak ber prasangka buruk sama lo," sahut Sesil dengan senyuman nya.
"Waaahhhh senyum kakak cantik bangett," ucap V sambil memegang kedua pipinya.
"Pantesan kak Radit rela mau nikah kontrak sama kak Sesil, padahal kak Sesil cantinya luar dalam," ucap Liana yang membuat Sesil langsung menatap tajam ke arah Radit meminta penjelasan.
"Ahhh! gini... itu.." Radit menggeruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Ehh kak Sesil jangan marah sama Kak Radit, sebenernya gue yang jail masuk ke dalam kamarnya kak Radit dan nemuin kontrak pernikahan kalian.... maaf." Lagi-lagi Liana menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Oke, gue ngak bakalan marah sama kalian tapi dengan satu syarat," sahut Sesil merasa kasihan pada Liana.
"Kalian ber delapan tidak boleh memberitahu pada siapa pun tentang masalah nikah kontrak ini," lanjut Sesil yang membuat Liana dan kawan-kawan merasa lega.
"Gue kira apa persyaratannya, ternyata hanya itu, kalau itu ngampang buat kita,... iyakan teman-teman?" ucap Liana dengan semangat.
"Iya dong," seru semua temannya dengan yakin.
"Apapun ke adaannya?" ucap Sesil berusaha untuk percaya dengan Liana.
"Baiklah, .... sekarang bagaimana tawaran kakak tadi? apa lo setuju atau enggak?" tanya Radit tiba-tiba.
"Jelas gue setuju, tapi sekolah gue? kan gue masih harus sekolah," jawab Liana.
"Ya lo tinggal sekolah aja, nanti gue yang antar," ucap Radit meyakinkan.
"Memangnya lo kelas berapa?" tanya Sesil penasaran.
"Gue kelas XI," jawab Liana dengan senyuman manis.
"Kalau gitu adik kelasnya Arga ya," gumam Sesil yang terdengar oleh mereka semua.
"Apa yang kakak maksud itu Kak Arga yang belum lama ini di tikam ya kak?" tanya Liana antusias.
__ADS_1
"Iya, lo kenal?" tanya balik Sesil.
"Kenal lah kak, siapa yang ngak kenal sama idola sekolah itu," ucap J.
"Kak Arga ganteng banget, pengen deh jadi pacarnya," ucap R mulai berkhayal.
"Sebaiknya kalian jangan tertipu dengan wajahnya, dia sangat nakal dan tidak berperilaku baik, jadi kalian jangan coba-coba jatuh hati sama dia," ucap Sesil menasehati Liana dan kawan-kawannya.
"Aku baru bertemu dengan seorang kakak yang menjelekkan adiknya sendiri di depan orang yang kagum pada adiknya," ucap Radit yang membuat Liana dan kawan-kawannya menatap Radit tidak percaya.
"Kak Arga itu adiknya kak Sesil?" tanya V tidak percaya.
"Iya, Arga itu adiknya," sahut Radit.
"Pantesan aja kak Arga ganteng, kakaknya aja cantik bnget," ucap R.
"Tapi ngomong-ngomong lo setuju tentang apa sama Radit?" tanya Sesil yang tertuju pada Liana.
"Mulai saat ini Liana akan tinggal di sini, dia yang akan menjaga kamu saat aku sedang berada di kantor, untuk berjaga-jaga sesuatu yang buruk nantinya," ucap Radit yang di angguki oleh Liana.
"Tenang aja kak Gue tau bela diri kok, taekwondo, silat, karate, gue bisa semuannya," seru Liana semangat.
"Baiklah, tapi dia akan tidur di mana?" tanya Sesil.
"Dia akan tidur di lantai atas," jawab Radit kemudian mengelus kepala Sesil lalu mengecup pucuk kepala Sesil yang membuat ke delapan gadis itu menjerit gemas sambil memukul kecil orang yang di sampingnya.
"Kalau gitu kita ke kamar baru aku dulu ya, ngak mau jadi obat nyamuk kita," ucap Liana lalu langsung meninggalkan mereka berudua di kamar dan menuju lantai atas.
"Apa sih yang lo lakuin?" tanya Sesil yang sudah tersipu malu sambil memegang pucuk kepalanya.
"Ngusir mereka lah, biar tinggal kita berdua di sini," jawab Radit sambil mendekatkan wajahnya ke Sesil.
"Jangan macam-macam, awas kalau lo berani macam-macam sama gue!" Sesil memperingati Radit tapi tidak di hiraukan oleh Radit.
__ADS_1
Radit semakin mendekatkan wajahnya pada Sesil tapi dengan cepat Sesil menahan wajah Radit menggunakan tangannya, dengan mudahnya Radit menggenggam kedua pergelangan Sesil lalu di taruh di atas kepalanya.
"Radit... lo jagan macem-macem sama gue ya!" ucap Sesil kini sudah mulai ketakutan. sedangkan Radit terus mendekatkan dirinya, Sesil kemudian memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya sedangkan tangan radit kini sudah mulai sibuk di celananya.