
Setelah sampai di atas lagi lagi Radit menemukan jejak darah segar berceceran di mana mana tapi ada satu jejak bercak darah yang mengarah ke arah tempat ia dan Sesil tadi, di saat Radit kembali mengikuti bercak darah tersebut Radit menemukan potongan rambut wanita yang lumayan banyak dan sepotong kain bercorak kotak kotak seperti baju yang di gunakan oleh Sesil hari ini, Radit bertambah cemas dengan keadaan Sesil.
"Das*r br***** siapa yang berani ngelakuin ini semua." Radit meremas rambut dan kain tersebut dengan kuat.
"Siapa pun itu aku ngak bakalan maafin dia." geram Radit lalu melanjutkan jalannya kembali sambil menahan sakit pada kakinya.
Saat sudah hampir dekat dengan tujuannya tiba-tiba saja ada suara tembakan yang berasal dari arah tujuannya yang sepertinya ada adegan baku tembak di sana, Radit kemudian memakasakan dirinya untuk berlari sekuat tenaga menuju tempat kejadian hingga beberapa kali terjatuh karena tersandung dan tidak seimbang.
"Sesil aku harap kamu baik baik saja, aku akan segera datang." Radit bergumam sambil berusaha sekuat tenaga untuk sampai lebih cepat.
Setibanya di sana Radit terdiam melihat bayak mayat yang tergeletak di atas tanah dengan bekas luka tembak dan senjata tajam, Radit berjalan perlahan menyusuri mayat mayat tersebut untuk mencari Sesil dan berharap dia baik baik saja. Setelah berjalan hingga dekat pohon Radit melihat ada seorang wanita yang duduk bersandar di sana, Radit kemudian bergegas menuju pohon tersebut dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui orang tersebut adalah Sesil dengan luka yang cukup parah.
"Sesil, Sesil, Sesil bangun ...."
"Sesil aku mohon bagun, jangan nakut nakutin aku kayak gini! Aku mohon bangun, aku mau jelasih apa sama Om Bram?" pinta Radit yang kini sudah memangku dan memeluk tubuh Sesil.
"Lo bisa diam bentar ngak? gue baru mau istirahat lo nganggu aja ....," ucap Sesil kemudian pingsan karena lumayan mengeluarkan banyak darah.
"Sesil, Sesil bangun ....," pinta Radit sambil menepuk pelan pipi Sesil tapi tetap saja.
"Aku harus memberitau pada yang lain, karena dengan kondisiku yang saat ini aku ngak bisa bawa motor," ucap Radit kemudian merogoh saku celannya lalu mengambil handphone-nya lalu menelpon seseorang.
"Angkat, ayolah ...., bagus di angkat."
"Hallo Radit Sesil sama lo kan?" tanya orang di sebrang sana, yang ternyata adalah Reskiya.
__ADS_1
"Res, ini gawat kalian sekarang jemput gue pake mobil dan beritahu pada Aldo dan yang lain untuk kesini juga," sahut Radit.
"Jemput lo di mana? emang ada apaan sih?" tanya Reskiya mulai kesal.
"Lokasinya nanti gue shere look, .... saat ini keadaan Sesil sangat buruk, Sesil terluka parah," jelas Radit yang membuat Reskiya langsung berteriak kaget.
"APA!!!! SESIL TERLUKA PARAH?? LO APAIN SESIL SAMPE BISA DIA TERLUKA PARAH???" teriak Reskiya yang membuat semua orang yang sedang berada di caffee langsung rusuh semua, saat ini semuanya baru saja istirahat setelah para pengunjung pergi dan caffee pun tutup.
"Gue jelasin nanti, sekarang pergi ke lokasi yang gue kirim sekarang juga," ucap Radit kemudian mematikan telpon secara sepihak.
"Sesil aku mohon kamu bertahan sedikit lagi." Hatinya merasa sakit melihat Sesil terbaring lemah di pangkuannya.
Radit kemudian melakukan pertolongan pertama pada Sesil, setelah membalut hampir semua luka Sesil menggunakan bajunya sendiri yang ia robek, tapi yang menjadi kendala adalah luka tembakan yang berada di bagian dada, Radit secara terus menerus melihat kearah jalan berharap yang lain segera datang untuk menjemput mereka.
Reskiya langsung melajukan mobilnya menuju rumah paman Sesil dan langsung segera menelpon dokter pribadi keluarga Martadinata untuk segera ke rumah Bram setelah menceritakan tentang keadaan Sesil dan Radit. Radit terus mengelus wajah Sesil dengan tatapan bersalah.
"Maafkan aku Sesil, karena diriku kamu menjadi seperti ini, karena aku meninggalkanmu di sana kamu jadi di serang oleh para berandalan itu ....," batin Radit merasa sangat bersalah atas kejadian hari ini yang menimpa Sesil.
"Tapi kenapa para berandal itu memakai pakainan formal seperti itu? bukanya mereka biasanya memakai pakaian santai dan yang paling aneh adalah orang yang menyerang Sesil menggunakan pistol sedangkan para berandalan itu hanya membawa senjata tajam dan tongkat bisbol sebagai senjata mereka," batin Radit bertanya tanya pada dirinya sendiri mengenai hal yang menimpa Sesil barusan.
"Ini semua benar benar aneh!! pasti ada yang salah dengan semua ini ...., Atau semua ini sudah di rencanakan oleh seseorang dan memanfaatkan aku yang sedang pergi, jadi Sesil tidak mempunyai bantuan untuk melawan orang orang tersebut," batin Radit, hingga tanpa sadar mengumpat.
"Dit lo baik baik aja kan?" tanya Raka dari luar pintu mobil.
"Gue baik baik aja," jawab Radit di sertai dengan senyuman.
__ADS_1
"Sesil di mana?" tanya Radit ketika sadar kalau Sesil sudah tidak berada di pangkuannya lagi.
"Sudah di angkat sama Aldo tadi, lo nya aja yang ngak sadar," jawab Raka kemudian masuk kedalam mobil.
"Lo mikirin apaan sih? sampe ngak rasa kalau Sesil udah di angkat sama Aldo?" tanya Raka penasaran.
"Gue tu ngerasa kalau apa yang menimpa Sesil semuanya sudah di rencanakan dengan seseorang," jawab Radit serius kemudian Radit menceritakan semua yang ia pikirkan tadi.
"Jadi seperti itu ..., kalau begitu kita harus mencari taunya agar orang lain tidak salah paham terutama Reskiya," ucap Raka serius.
"Tapi sekarang kita harus mengobati luka luka lo terlebih dahulu," ucap Raka kemudian memapah Radit masuk kedalam rumah.
Radit kemudian di tempatkan di kamar tamu dan kini sedang di obati oleh dokter dan di bantu oleh Farhan karena dia sedikit mengerti tentang kedokteran.
"Dok, saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Radit pada dokter Salsa.
"Boleh saja, mau bertanya tentang apa?" sahut dokter Salsa ramah sambil membereskan alat alatnya.
"Sesil baik baik saja kan?" Tanya Radit cemas.
"Ohhhj, Non Sesil, keadaanya sekarang sudah semakin baik. luka tembakan di bagian dadanya tidak terlalu dalam jadi tidak terlalu parah, hanya saja ia kehilangan banyak darah dan juga terkena racun ringan di bagiqn kakinya," jelas dokter Salsa.
"APA RACUN!!!!" Teriak spontan Radit dan Farhan bersamaan.
"Iya racun, Tapi tidak usah khawatir racunya tidak berbahaya dan untung segera di tangani jadi racun bisa langsung di keluarkan." jelas dokter Salsa kemudian pamit undur diri.
__ADS_1