Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
50. Masa Depan Yang Terancam Hilang.


__ADS_3

Sesil kemudian memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya sedangkan tangan radit kini sudah mulai sibuk di celananya.


"Buka mata kamu sekarang," pinta Radit, saat Sesil membuka matanya tanpa melihat apa yang Radit perlihatkan Sesil langsung menendang area sensitif Radit hingga Radit terguling jatuh ke lantai.


"Aakkkhhh, aw aw aw arrgggghhh," rancau Radit sambil memegang bagian bawahnya.


"Sial, masa depanku hancur sudah," batin Radit masih berguling-guling di lantai.


"Lo ngak papa kan?" tanya Sesil berhati-hati dari atas kasur.


"Arrrggghh, Sesil kamu kenapa tega... arrggh banget sih..." ucap Radit sambil menahan sakit.


"Aku hanya mau ngasih kalung ini." Radit memperlihatkan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati dengan permata di tengahnya, liontin hati itu berwarna silver.


Sesil terdiam sejenak lalu langsung turun dari atas kasur kemudian langsung membantu Radit untuk bersandar di samping ranjang, Sesil nampak cemas dengan Radit karena tadi Sesil menendangnya dengan cukup kuat.


"Apa kita harus bawa ke rumah sakit?" Tanya Sesil panik.


"Panggil dokter aja ke sini," ucap Radit masih menahan sakit.


"Kalau gitu gue telfon dulu bentar ya," ucap Sesil melihat ke seliling.


"Duh ponsel gue ketinggalan di mobil lagi." Sesil kemudian berjalan terburu-buru menuju mobil dengan pincang.


Liana yang melihat Sesil keluar kamar dengan terburu-buru langsung bergegas menuju kamar Sesil untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, saat dia sudah tiba Liana kaget melihat Radit yang hendak naik ke kasur dengan raut wajah kesakitan.


Dengan cepat Liana berlari membantu Radit naik ke atas kasur dengan bingung karena Radit terus memegang bagian bawahnya, Liana kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya pada Radit tentang apa yang sakit.


"Ummmhh... apa yang barusan terjadi? dan... dan... apa yang sakit? di bagian mana?" tanya Liana berhati-hati.


"Arrgggh, lo ngak perlu tau, cepat ambilin es," pinta Radit.


"Es? dimana? rumah ini baru selesai di perbaiki pasti ngak ada isinya tuh kulkas kan?" tanya Liana bingung.


"Dimanapun, cepat cari!" ucap Radit yang kini sudah mulai tenang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Sesil kembali dengan dokter pribadi keluarga Martadinata dengan segara dokter tersebut memeriksa keadaan Radit tapi sebelum memeriksa dokter tersebut melihat Radit dan Sesil secara bergantian dengan tatapan yang sulit di artikan.


Setelah beberapa menit kemudian dokter keluar dari kamar Sesil dan segera menghampiri Sesil yang tengah memonton Tv sambil memakan cemilan.


"Gimana keadaan Radit?" tanya Sesil.


"Tidak terlalu buruk, hanya saja untuk beberapa minggu ini kalian jangan melakukan hubungan suami dan istri," sahut dokter tersebut yang membuat Sesil terdiam.


"Tapi maaf ya Non, saya ingin bertanya sesuatu?" ucap dokter sedikit berhati-hati.


"Bertanya apa? ya tanya saja," sahut Sesil masih asik meminum minumannya.


"Nona dan Tuan Radit belum melakukan hubungan badan ya?" tanya dokter yang membuat Sesil menyemburkan minumannya hingga membasahi meja yang ada di hadapannya.


"Apa ada yang salah Non?" tanya dokter itu panik.


"Ngak, ngak ada papa, ngak ada lagi yang perlu di beri tahu bukan?" tanya Sesil memgelap bibirnya.


"Kalau begitu saya undur pamit," ucap dokter itu lalu meninggalkan Sesil.


"Gawat nih kalau dokter Hendra memberi tahu yang lain," batin Sesil kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Hendra.


Kini Radit tengah berkutik dengan laptopnya di atas tempat tidur dengan fokus tanpa memperdulikan Sesil yang tengah bermaskeran di sampingnya, tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar dan dengan segera Sesil mempersilahkan masuk, pintu terbuka dan menampakkan Liana sambil membawa nampan yang berisikan dua gelas dan satu mangkuk yang berisikan buah yang sudah di potong.


"Kak ini taruh di mana ya?" tanya Liana.


"Taruh di sini," sahut Sesil sambil menepuk meja riasnya.


"Aku ikutan juga dong kak, maskerannya," ucap Liana antusias sambil menaruh nampan yang ia bawa.


"Yakin?" tanya Sesil mengambil mangkuk buah.


Liana kemudian melirik Radit yang tengah sibuk bekerja dengan laptopnya langsung menatap Sesil lesu sambil berkata.


"Gue kayaknya masih ada sisa episode drakor yang blum di tonton, jadi gue balik ke kamar dulu,.... kalau ada perlu nanti hubungi aja," ucap Liana canggung lalu keluar kamar.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Radit masih fokus dengan laptopnya.


"Emang lo ngak denger sendiri apa, tadi Liana ngomong apa?" sahut Sesil masih sibuk merapikan maskernya.


"Denger, tapi tadi kenapa dia tatap aku seperti kesal gitu," ucap Radit kemudian menutup laptopnya lalu melihat ke arah Sesil.


"Mana aku tau," sahut Sesil melahap potongan buah menggunakan sendok.


"Kamu mau ke pesta ya?" tanya Radit menatap Sesil dengan tatapan aneh.


"Enggak," sahut Sesil.


"Itu ada kopi, lo minum tapi jagan di minum susunya karena untuk gue," ucap Sesil mulai menahan mulutnya agar tidak terbuka lebar.


"Lalu kamu mau kemana?" tanya Radit bingung.


"Ngak ke mana-mana!" sahut Sesil masih menjaga maskernya agar tidak retak.


"Lalu kenapa kamu mek-up seperti itu?" tanya Radit mulai memperhatikan dengan teliti wajah Sesil.


"Kalau mau keluar bilang aja aku akan izinin asalkan Liana ikut sama kamu,biar ada yang jagain," lanjut Radit menunggu jawaban Sesil.


"Lo bisa diem ngak sih? gue lagi maskeran, nanti masker gue retak," ucap Sesil geram menatap tajam ke arah Radit.


Mendapat tatapan tajam dari Sesil membuat Radit langsung membuka kembali laptopnya lalu menyeruput kopinya tidak berani menatap ke arah Sesil, setelah beberapa menit berlalu tanpa sadar Radit mengambil gelas yang berisi susu dan bersamaan dengan Sesil yang mengambil pipet hendak meminum susunya.


Karena tidak mendapatkan gelas yang di inginkannya Sesil lalu menoleh dan betapa herannya dia tidak menemukan gelas susu miliknya di atas nampan, setelah di carinya Sesil menemukan gelas susunya berada di tangan Radit yang masih fokus membaca sesuatu.


Karena kesal Sesil kemudian mengambil botol parfumnya dengan kesal lalu melemparnya ke arah Radit yang jatuh tepat di tangan kanan Radit, karena kaget Radit langsung menumpahkan susu hangat itu ke pahanya dan untung saja tidak mengenai laptopnya.


Amarah Radit sudah hampir sampai di puncak dan bersiap untuk marah ke pada Sesil, tapi saat Radit melihat ke arah Sesil seketika nyalinya menciut dan menjadi kucing basah kembali menerima nasibnya yang kini pahanya sudah tertumpah susu.


Radit kemudian perlahan turun dari kasur menahan rasa sakit di bagian bawahnya lalu menarik selimut beserta sprei dan di taruhnya di pojokan ruangan, tidak lama kemudian Sesil berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi lalu tidak lama kemudian Sesil mengambil boneka miliknya.


"Lo tidur di kamar gue dan gue tidur di kamar lo," ucap Sesil lalu berjalan menjauhi Radit.

__ADS_1


"Tapii, gue... masa tidur di kamar kamu sih?" tanya Radit tidak mau bertukar kamar.


"Lo sudah numpahin susu ke sprai gue dan gue ngak akan tidur di kasur itu terkecuali lo sudah beresin semuannya," ucap Sesil dingin.


__ADS_2