
Sementara itu kini Sesil tengah berada di atas motor bersama dengan Radit. Sebelumnya saat di kampus Radit mengajak Sesil ke suatu tempat yang katanya akan membuatnya merasa lebih tenang.
"Sebenernya lo mau bawa gue kemana sih?" tanya Sesil.
"Aku akan bawa kamu ke suatu tempat," jawab Radit, kemudian langsung melajukan mogennya.
Berharap Sesil akan memeluknya ketika ia menambah kecepatan tiba-tiba tapi apalah daya Sesil bahkan tidak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya. Sesil tidak takut ketika mengendarai atau di bonceng motor dengan kecepatan tinggi karena memang dia sudah biasa di bonceng oleh Arga dan biasa mengendarai mogen milik Arga dan anak buah Arga.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit dengan kecepatan tinggi akhirnya mereka sampai juga di tempat yang yang dimaksud oleh Radit, Sesampainya di sana Sesil nampak sudah terpana oleh pemandangan yang begitu indah, karena saat ini mereka sedang berada di Puncak gunung yang terletak lumayan dekat dengan Kompleks rumah Pamannya.
Yang dapat melihat berbagai macam bangunan pohon, taman bermain, dan juga kebun bunga, bahkan dari atas itu Sesil dapat melihat rumah Pamannya. Bahkan dari situ Sesil dapat memantau banyak hal yang terjadi di kota.
"Pemandangannya indah kan?, aku yakin disini kamu bakalan bisa menghilangkan sedikit beban pikiran yang ada dan rasa kesal kamu terhadap Kevin," ucap Radit sambil berjalan ke arah kursi yang berada di bawah pohon yang sangat rindang.
"Dari mana lo tau tentang masalah gue sama Kevin, Bukannya tadi lo nggak ada di kelas ya?" tanya Sesil sambil membalikkan badannya menghadap kearah Radit.
"Aku ada di tempat kejadian hanya saja kamu nggak lihat, dan aku tahu pasti kamu kan yang membawa dan menembakkan pistol tersebut," jelas Radit kemudian duduk di kursi tersebut.
__ADS_1
Radit kemudian menepuk bangku mengisyaratkan untuk sesil duduk di sampingnya tanpa berpikir panjang Sesil pun menanggapinya dengan baik, Sesil berjalan kearah Radit untuk duduk setelah sampai Sesil kemudian duduk di samping Radit sambil memainkan bunga liar yang ia petik di bawah kaki kursi tersebut.
"Sesil sebaiknya kamu tidur sejenak, agar pikiran kamu menjadi lebih rileks," saran Radit tapi tidak mendapat jawaban apa pun dari Sesil.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Sesil saat ini sungguh membuat Radit bingung karena sejak tadi Sesil sama sekali tidak menggubrisnya bahkan tidak menjawab apa yang Iya tanyakan, karena merasa diacuhkan Radit kemudian memutuskan untuk turun gunung mencari makanan karena Radit tahu kalau Sesil belum makan apa-apa Sejak pagi tadi karena sudah Sejak pagi Sesil berurusan dengan Kevin. Radit melajukan mogen nya dengan kecepatan sedang sambil memikirkan tentang keadaan sesil yang melamun sejak awal sampai di gunung.
"Apaan sih yang gue pikirin, gue bener-bener ngak ngerti kenapa gue ninggalin Sesil sendirian di gunung," oceh Radit yang di tuju pada dirinya sendiri.
Radit kemudian melanjukan mogennya dengan kecepatan tinggi menuju puncak gunung, setelah membeli beberapa gorengan dan minuman di warung pinggir jalan tidak jauh dari gunung tersebut, dengan raut wajah yang cemas Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatan yang sendiri,Radit sangat cemas karena di gunung itu sering kedatangan brandalan yang sering menggangu orang yang berada di sana bahkan mereka tidak segan segan untuk membunuh orang yang tidak menuruti permintaan mereka.
Saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Sesil seorang yang membuat pikirannya kacau hingga hampir saja keluar jalan dan hampir menabrak pembatas jalan yang menuju jurang, untungnya dengan cepat Radit sadar dan langsung membawa mogennya kembali ke dalam jalur, jika tidak maka dia di jamin tidak akan bisa melihat Sesil untuk selama lamanya.
"Sesil aku benar-benar minta maaf," gumam Radit terus mengikuti bercak darah tersebut.
"Kenapa aku benar-benar ceroboh? bagaiman bisa aku berpikir meninggalkannya sendirian di sini!" Radit menjambak rambutnya frustasi.
"Sesil aku harap kamu baik-baik saja, jika terjadi sesuatu padamu maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," batin Radit benar-benar merasa frustasi.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup jauh ternyata bercak darah tersebut berhenti di bawah sebuah pohon yang lumayan besar dan di sana nampak bercak darahnya nampak masih segar tidak seperti yang ada di dekat kursi yang sudah mulai kering. Tidak lama kemudian Radit mendengar seperti tetesan air, tapi di sekitar hutan itu tidak ada sumber air mengalir lalu Radit tidak sengaja melihat ke arah atas pohon dan betapa terkejutnya ternyata di atas pohon ada mayat seorang pria berkemeja putih yang sudah terkena bercak darah di bagian lengannya dan bahunya.
Karena sangking kagetnya Radit sampai tergelincir akar yang terdapat daun yang licin hingga membuat Radit kehilangan keseimbangan hinga terjatuh kesebuah jurang yang tidak terlalu dalam, saat sudah berada di dasar jurang Radit berbaring sejenak melihat ke atas langit tanpa awan dengan tatapan sendu. dahinya memar akibat terbentur tanah keras dan batang pohon, sikunya tergores yang mengeluarkan lumayan banyak darah dan juga lututnya yang memar dan sedikit luka yang membuannya susah untuk menggarakkanya.
Di saat Radit tengah menenagkan pikirannya tiba-tiba dia teringat kembali akan Sesil yang sedang dalam bahaya.
"Aku harus segera kembali mencari Sesil," gumam Radit kemudian mencoba berdiri tapi karena lututnya yang terluka parah membuatnya kembali ter duduk.
"Aku harus menemukan Sesil bagai manapun caranya," ucap Radit kemudian berpegangan pada satu pohon kemudian berdiri secara perlahan, Radit mencoba untuk memanjat agar bisa sampai ke atas.
Tapi dengan keadaan kaki dan tangannya yang seperti itu membuat usahanya beberapa kali gagal karena tergelincir tanah, kakinya meresa tidak kuat dan masih banyak lagi hingga percobaan yang ke dua puluh kali Radit pun kemudian berhasil memanjat walau baru di pertengahan jalan.
Saat Radit tengah fokus memanjat tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang wanita yang terdengar seperti suara Sesil dari atas jurang tersebut, karena kaget Radit hampir saja melepaskan peganannya.
"Aaaaaahhhh."
"Aku ngak boleh jatuh lagi, aku harus segera naik ke atas," ucap Radit terus berusaha manjat tebing.
__ADS_1
Setelah sampai di atas lagi lagi Radit menemukan jejak darah segar berceceran di mana mana tapi ada satu jejak bercak darah yang mengarah ke arah tempat ia dan Sesil tadi, di saat Radit kembali mengikuti bercak darah tersebut Radit menemukan potongan rambut wanita yang lumayan banyak dan sepotong kain bercorak kotak kotak seperti yang di gunakan oleh Sesil tadi, Radit bertambah cemas dengan keadaan Sesil, Radit meremas rambut dan kain tersebut lalu melanjutkan jalannya kembali.