Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
48. Penyangkalan sebuah perasaan.


__ADS_3

Kediaman Martadinata.


Pintu terbuka dengan kasar dan menampakkan seorang lelaki sambil berteriak minta tolong dengan darah yang menempel di jasnya.


"Tolong... uhuk uhuk... tolong aku... mereka akan membunuh keluarga ini!" ucap pria itu yang ternyata adalah Rangga dengan penuh luka memar dan tembakan.


"Apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Bram khawatir, Bram kemudian hendak mendekati Rangga yang sudah terkapar di lantai tapi di halangi oleh Josua.


"Mengapa kita harus percaya sama orang seperti lo?" tanya Josua menunduk di hadapan Rangga.


"Karena gue sama seperti kalian." Josua dan Bram bingung dengan jawaban Rangga.


"Korban," lanjut Rangga lalu bangun dengan susah payah.


"Apa maksud lo?" Josua masih tidak mengerti dengan ucapan Rangga.


"Pramudja Wijaya adalah pembunuh di balik kematian kedua orang tua Sesil," jawab Rangga berusaha untuk berdiri tegak.


"Tenang mereka tidak mengikuti ku sampai ke sini... uhuk uhku." Rangga memuntahkan darah.


"Sebaiknya lukanya kita rawat terlebih dahulu," ucap Bram yang langsung menelfon seseorang.


"Ikut gue," Josua kemudian memapah Rangga kedalam kamar tamu.


Beberapa jam kemudian Rangga selesai di rawat, terdapat dua peluru yang berada di bahu dan betisnya, 15 jahitan di punggung, 22 jahitan di pinggang dan memar di punggung, perut dan bahu.


Setelah dua jam kemudian Rangga terbangun dari tidurnya setelah obat biusnya habis, karena tadi saat lukanya selesai di jahit Rangga langsung ngotot mau menemui Sesil untuk meminta maaf.


"Bagaimana lo bisa tau kalau mereka adalah orang di balik kematian Om dan Tante?" tanya Josua yang mulai serius lalu duduk di samping Rangga.


"Karena gue pernah dengar kalau Papahnya Yuna mengatakan sangat dendam dengan keluarga Martadinata," sahut Rangga.


"Gue juga pernah melihat sebuah foto mobil dan orang yang memegang tang di dinding markas Pronex, dan juga gue mendengar kalau mereka akan melakukan sesuatu pada kalian dalam waktu dekat ini," jelas Rangga.

__ADS_1


"Gue mau tanya sesuatu sama lo," ucap Rangga menatap tajam ke arah Josua.


"Apa lo tau sesuatu tentang dendam lama antara dua keluarga?" tanya Rangga penuh selidik.


"Gue ngak tau tentang apa pun itu jika bersangkutan dengan dendam lama dua keluarga, tapi pasti Papah tau sesuatu!" Josua kemudian beranjak dari duduknya dan menunggalkan Rangga yang masih terbaring tak berdaya di ranjang.


"Ibu, Ayah, Kakak, dendam kalian akan aku balaskan dengan segera....., sungguh aku ingin mereka merasakan apa yang mereka telah perbuat kepada orang lain." batin Rangga lalu berusaha untuk meraih henfonya.


Sedangkan kini Radit dan Sesil tengah melihat-lihat rumah mereka yang baru saja mereka tempati sudah terbakar dan kini sudah selesai di perbaiki dan besok mereka akan kembali tinggal di rumah mereka.


"Sudah siang, kita cari restoran terdekat untuk makan setelah itu baru kita mencari hadiah untuk Raka dan Rasya," ucap Radit kemudian mendorong kursi roda milik Sesil munuju mobil.


"Semoga saja kali ini mereka benar-benar menikah," ucap Sesil lesu sambil melihat ke arah luar mobil.


"Kamu khawatir mereka tidak jadi melangsungkan pernikahan mereka?" tanya Radit kini sudah mulai fokus menyetir.


"Seperti itu lah," sahut Sesil.


Setelah beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di salah satu testoran mewah, dengan perlahan Radit mendudukan Sesil di kursi roda membuat para gadis yang kebetulan lewat merasa iri dan kagum melihat kegiatan mereka berdua.


"Bener banget, kalau gue yang punya cowok kaya gitu pasti bakalan bahagia banget," sahut remaja U dengan gemas.


"Beruntung banget ya perempuan itu, punya suami yang setia dan sayang sama dia walau sekarang dia udah berada di kursi roda," ujar remaja H, kemudian memeluk remaja U.


"Heh, kalian udah mau terlambat kerja paruh waktu masih aja ngagumin suami orang, awas lo nanti kalian jadi pelakor," ucap remaja laki-laki W.


"Huuuu, amit-amit gue jadi pelakor," seru remaja U.


"Bener banget, tapi jangankan jadi pelakor, yang mau sama aku aja ngak ada," sahut remaja H.


"Tenang aja kan ada gue!" ucap remaja W, menaikkan poninya.


"Idih,, najis," seru ketiga remaja itu bersamaan.

__ADS_1


"Tapi ya.."


"Kita tinggalin aja dia, kita udah terlambat nih," ucap remaja G, lalu mereka meninggalkan W yang sedang memgoceh sendirian.


"Kalau gue jadi cowok itu tetap bakalan mau sama cewek secantik dia," lanjut remaja W sambil menatap Radit dan Sesil yang sudah masuk kedalam restoran.


"Yekan!" W kemudian membalikkan badanya dan seketika dia kaget karena teman-temannya sudah tidak ada.


"Yaelah gue di tingalin lagi!" ucap pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu pergi.


Kini semua mata tertuju pada Radit dan Sesil, banyak para wanita dan pria yang iri dengan Sesil dan kagum dengan Radit. setelah pesanan mereka tiba Sesil langsung menyantap makananya hingga tanpa sadar ada saus spageti di ujung bibir Sesil melihat itu Radit mengelap saus tersebut menggunakan jarinya lalu memakan saus yang ada di jarinya tersebut membuat para gadis merasa salah tingkah.


"Apaan sih?" tanya Sesil menatap tajam ke arah Radit sambil mengusap ujung bibirnya menggunakan tisue.


"Ngak usah buru-buru kali makannya, santai aja entar blepotan lagi loh," ucap Radit sambil memasukkan spageti kedalam mulutnya.


"Gue risih tau dengan tatapan mereka." Sesil melirik ke arah kumpulan gadis-gadis yang sedari tadi menatap mereka.


"Mereka suka sama kamu paling," ucap Radit santai sambil menyedot minumannya.


"Yang ada itu mereka suka sama lo," ucap Sesil sambil nenusuk-nusuk spageti yang ada di piringnya dengan kesal.


"Kamu cemburu?" tanya Radit menatap jail ke arah Sesil membuat Sesil sedikit tersipu.


"Siapa juga yang cemburu, gue ngak ngelarang lo deket dengan cewek manapun, .... lagian hubungan kita hanya sebatas kontrak kan." sahut Sesil kemudian melahap suapan spageti terakhirnya dengan sedikit kesal.


"Tapi kenapa gue kesal liat para gadis itu melihat ke arah Radit? apa gue udah mulai suka ya sama Radit? tapi ngak mungkin lah, ini mungkin hanya sebuah perasaan ngak nyaman aja," batin Sesil menepis semua perasaannya pada Radit.


"Kamu memang bener, tapi ngak baik loh bohongin perasaan sendiri." Radit kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri para gadis itu.


Entah apa yang di katakan oleh Radit hingga membuat para gadis itu terlihat sangat senang dan antusias membuat Sesil merasa muak dengan Radit, setelah Radit memberikan sesuatu pada salah satu gadis itu lalu menunjuk ke arah tempat Sesil berada kemudian pergi meninggalkan para gadis yang sedang membicarakan sesuatu.


"Huh semua cowok emang sama aja, lebih baik gue pergi aja dari sini!" batin Sesil lalu berdiri yang langsung membuat Sesil terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Radit kemudian langsung bergegas mengangkat Sesil kembali ke kursi roda dengan khawatir, Radit kemudian membuka sepatu Sesil seketika langsung membuat Radit sedikit panik karena luka Sesil yang semulanya sudah mulai mengering malah terbuka karena ada tekukan yang mendadak membuat lukanya mengeluarkan darah.


"Kenapa kamu sangat ceroboh hmm," ucap Radit sambil mengelap darah Sesil mnggunakan sapu tangan miliknya dan tidak lama kemudian ada seorang gadis yang menghampiri mereka membuat Sesil mendongak dengan kesal.


__ADS_2