
Pagi yang indah dengan matahari yang selalu mengawali pagi yang cerah, semua makhluk yang berada di bumi merasa bahagia dengan pagi yang cerah ini tapi tidak dengan Reskiya yang kini sedang pusing memikirkan bagaimana dia akan keluar dari apartemennya sedangkan dosen yang mengajar kali ini adalah dosen killer, mana Reskiya harus pulang ke rumah terlebih dahulu.
Reskiya terduduk di pintu dengan pasrah menatap ke layar ponselnya yang menyala menunjukkan riwayat telfonnya, Reskiya sudah menelfon nomor siapapun yang ada di kontaknya terkecuali Sesil karena ponsel Sesil masih tertinggal di rumahnya, tapi dia tidak punya pilihan lain lagi. dengan lesu Reskiya mengambil ponselnya lalu menekan nomor Sesil. tidak lama kemudian ada yang menjawab telfon tersebut.
"Hallo, dengan siapa ini?" Terdengar suara pria yang terdengar seperti baru bangun tidur.
"Harusnya gue yang nanya siapa lo! kenapa nomor temen gue ada sama lo?" tanya balik Reskiya tiba-tiba saja langsung beranjak dari duduknya.
"Temen? memangnya siapa temen lo dan siapa lo?"
"Lo ngak perlu tau siapa gue, gue nanya sama lo kenapa nomor temen gue ada sama lo?"
"Denger baik-baik ya, gue manusia, ini nomor kka gue dan ada perlu apa lo nelfon,"
"Lo Arga!"
"Darimana lo tau nama gue, jangan-jangan lo penguntit ya?"
"Ngak usah asal nuduh, ini gue Reskiya,"
"Ooooooh,"
"Sesil udah sadar atau belum?"
"Katanya sih udah, soalnya gue belum kesana, ada apaan?"
"Mintain kunci apartemen dong di Kak Alfin atau di Sesil kalau dia udah sadar."
"Kok bisa ada di Kak Alfin kuncinya? atau jangan-jangan kalian ...,"
"Ngak terjadi papa hanya saja semalam dia yang memegang kuncinya, dan sekarang gue terkunci di aparteman,"
"Bantuin gue ya Arga, gue sebentar lagi mau masuk kelas,"
__ADS_1
"Gimana ya!!"
"ARGA, CEPETAN," teriak Reskiya sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
"Baik-baik, gue cari kuncinya buat lo,"
"Oke," sahut Reskiya dengan suara lembut membuat Arga sedikit tersipu.
30 menit kemudian .....
Cklek
Akhirnya pintu apartemen terbuka seketika sebuah senyuman bahagia terukir di wajah Reskiya, Reskiya langsung merampas tasnya dan langsung memeluk Arga spontan Arga langsung tersentak kaget karena ini pertama kalinya bagi Arga di peluk oleh seorang wanita.
Setelah memeluk Arga dengan cepat Reskiya meninggalkan Arga yang masih berdiri membeku di tempatnya dengan wajah yang masih bingung dengan apa yang barusan terjadi, Arga bergerak setelah mendengar teriakan dari Reskiya, setelah sampai Arga melihat Reskiya yang sudah bersandar di samping mogenya.
"Cepetan, gue udah mau telat tau," ucap Reskiya sambil menarik Arga agar segera naik keatas motor.
"Iya tapi kemana?" tanya Arga yang masih linglung.
"Ah, iya," sahut Arga yang masih saja linglung.
Arga kemudian langsung menyalahkan mesin mogenya dan melajukannya ke rumah Reskiya dan setibanya di sana Reskiya langsung meninggalkan Arga setelah mengucapkan terimakasih yang masih berada di atas mogenya, Reskiya dengan buru-buru mengambil semua bukunya lalu langsung bergegas menuju garasinya.
Setelah keluar dari garasi Reskiya terkaget melihat Arga yang masih berada di depan rumahnya Reskiya pun langsung menghampirinya lalu membunyikan klakson yang membuat Arga terkaget.
"Ngapain lo masih ada di sini? Pulang sana! ngak sekolah apa?" tanya Reskiya dari dalam mobil.
"Eh, gue kira di suruh nunggu nyatanya di usir,"
"Gue lagi ngak sekolah, lagi malas masuk sekolah," sambung Arga kemudian menyalahkan mogenya.
"Emang lo ngak terlambat ya?" tanya Arga, Reskiya kemudian langsung buru-buru naik ke atas motor.
__ADS_1
"Cepetan jalan," ucap Reskiya.
Arga kemudian mengabulkan apa yang di ucapkan oleh Reskiya dengan kecepatan sedang, karena tidak merasa cukup cepat Reskiya meminta Arga untuk menambahkan kecepatan motornya dan dengan senang hati Arga menuruti ucapan Reskiya karena dia sudah tidak tahan untuk menambah kecepatan di jalan yang sepi, dengan spontan Reskiya langsung memeluk Arga dengan erat.
Arga seperti sedang berada di alam mimpi indah, jantungnya tidak henti-hentinya berdetak dengan kencang selama perjalanan menuju kampus, bukan karena membawa motor dengan kecepatan tinggi di jalan raya tapi melainkan selalu saja di peluk oleh Reskiya yang tidak henti-hentinya membenamkan wajahnya di punggung Arga.
Setelah sampai Reskiya langsung berlari menuju kelas, untung saja Reskiya memakai celana panjang kali ini, setibanya di depan kelas Reskiya berpapasan dengan dosen killer yang akan membarikan materi, sambil mengatur nafasnya Reskiya masuk kedalam kelas dengan sedikit menunduk.
Sementara itu, sudah sekitar satu jam lamanya Sesil melihat Radit yang tertidur pulas di kursi samping bankernya sambil menggenggam tangannya dengan erat, seakan-akan Sesil akan pergi jauh meninggalkannya.
"Kenapa lo ngak bangunin aja?" tanya Josua pria yang baru saja datang beberapa hari yang lalu.
"Ngak, dia pasti belum cukup tidur selama aku tidak sadarkan diri," jawab santai Sesil dengan tanpa sadar mengelus rambut Radit.
"Arghh, kenapa Sesil harus menunjukkan kemesraannya di pagi hari yang cerah ini, harusnya ini menjadi hari di mana aku berkeliling kota," gerutu Josua di dalam hatinya dengan menunjukkan wajah bisa-biasanya tapi berbeda dengan yang di dalam yang sudah hampir memakan mereka berdua.
"Sebaiknya lo makan bubur ini dulu, ini di masakkan oleh mertua lo," ucap Josua sembari memberikan semangkok bubur hangat dan dengan senang hati Sesil menerimanya.
Tapi saat Sesil hendak meraih mangkuk tersebut sudah ada yang terlebih dahulu mengambilnya dan langsung sigap untuk menyuapinya , yang tidak lain adalah Radit yang langsung duduk tegak dengan menyodorkan sendok berisi bubur tersebut.
Dengan wajah kagetnya Reskiya perlahan memunculkan seutas senyuman sembari memegang sendok makan tersebut. "Gue bisa sendiri kok," ucap Sesil seraya mengambil alih sendok.
"Kamu sandaran saja, biar aku yang menyuapimu, kamu sedang sakit jadi biar aku yang merawatmu," ucap Radit seraya mengambil kembali sendok tersebut.
"Kali ini tidak usah keras kepala, biar aku yang menyuapimu," sambung Radit.
Sesil nampak kasiam melihat penampilan Radit saat ini, wajah pucat, kantung mata yang menghitam sudah seperti panda, baju yang sama saat kejadian itu terjadi, dan sebuah perban melilit jari telunjuknya dengan rapi. kemudian Radit dengan telaten mulai menyuapi Sesil.
"Kenapa! kenapa! aku harus berada di sini? ini semua gara-gara wanita menyebalkan itu, jika dia mau jalan dengan ku maka aku pasti tidak akan melihat sesuatu yang membuat jiwa jombloku meronta-ronta saj." Lagi-lagi Josua mengomel di dalam batinya menyesali setiap apa yang dia lakukan.
***Jangan lupa like, komen dan masukan ke favorit yaa....
...karena semua itu geratis... ☺️😉...
__ADS_1
salam hangat dari auhor tercinta Sarianti***,