Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
19.Terkuak Kembali


__ADS_3

Sesil merogoh sesuatu di dalam tasnya lalu mengeluarkan sesuatu yang membuat Kevin bergidik ngeri dan ternyata yang di keluarkan adalah sebuah pistol dan dengan tanpa ragu Sesil langsung menodongkanya kearah Kevin.


"Apa maksudnya ini? apa kamu mau ngancam aku menggunakan pistol mainan seperti itu?" tanya Kevin, kemudian berjalan mendekat kearah Sesil.


"Gue kira setelah sekian lama kita saling kenal lo sudah paham dengan barang-barang yang gue bawa," ucap Sesil.


"Karena gue sedang ada banyak urusan.. jadi kita sudahi ini secepat mungkin," ucap Sesil.


Kemudian Sesil membuka tempat peluru pada pistol tersebut dan nampak di sana ada tiga butir peluru pada pistol tesebut, Sesil kemudian mengambil satu peluru dan memasang kembali tempat peluru tersebut.


"Apa lo masih mau mengecek ke aslian peluru ini?" tanya Sesil sambil sesekali memainkan peluru tersebut di tangannya.


"Apakah boleh?" tanya Kevin kembali.


"Tentu saja boleh,!" saut Sesil.


"Lo mau memastikan dengan cara apa dan di bagian mana?" tanya Sesil melihat dari bawah sampai atas tubuh Kevin.


Sesil kemudian melemparkan peluru yang ia pegang ke arah Kevin, Kevin pun dengan sigap menangkap peluru tersebut.


"Gawat ini asli, dia memang tidak pernah berubah, tapi apa dia akan melakukan targetnya seperti dulu lagi?" batin Kevin mulai khawatir.


" Kanapa? lo takut...," tanya Sesil.


Tiba tiba saja henfon Sesil berdering, lalu dengan malasnya Sesil mengambil hednfonya lalu menjawab telfon tersebut yang ternyata dari Rasya.


"Hallo, Ses..." sapa Rasya.


"Lo lagi di mana sih, pas kita sampai di cafe eh ternyata lo ngak ada," ucap Rasya.


"Bener banget lo punya ilmu ilang ya," sambar Reskiya.


"Hehhh, gue lagi di kampus, lagi ada masalah sedikit," ucap Sesil.


"Ngak lama lagi gue bakalan datang ke cafe, tenang aja kali," lanjut Sesil.


"Ngoke lah klau gitu, cepat selesainnya," saut Rasya.


"Langsung aja di kubur hidup hidup biar cepat kelar," timpal Reskiya.

__ADS_1


"Hemmm," Kemudian Sesil langsung mematikan sambungan telfon.


Setelah itu Sesil memainkan pistolnya dan dengan gerakan yang cepat Sesil mengarahkan pistonya mengarah ke lengan Kevin kemudian naik kekepala yang hanya berjarak satu meter darinya.


"Sesil kamu pasti sedang bercanda kan?" tanya kevin memastikan.


"Gue gak pernah bercanda dengan benda yang satu ini, lo pasti tau kan karena kita sudah kenal sejak TK, lo pasti tau apa yang akan gue lakukan dengan target yang sudah di tentukan," jawab Sesil masih fokus mengeker bagian yang akan menjadi targetnya yang tentu saja targetnya adalah Kevin sendiri.


"Ya gue tau pasti apa yang akan lo lakuin dengan target lo, 20% mereka lolos dan 80% mereka akan mati," batin Kevin bergidik ngeri.


"Sesil aku seneng kamu sudah kembali seperti dulu tapi apa kamu yakin mau lakuin ini ke aku?" tanya Kevin mulai semakin bertambah cemas.


"Aku tau kamu masih sayangkan sama aku? dan si Radit itu hanya sebagai tameng agar kamu gak di jodohkan lagi sama Om Bram kan?" tebak Kevin.


"Denger baik-baik ya, gue gak suka sama lo lagi dan dia bukan tameng bagi gue," sangkal Sesil.


" Sesil gue yakin lo pasti udah.... "


DOR


Ucap Kevin yang terpotong kerena Sesil sudah melepaskan satu tembakan kearah pintu yang hampir saja mengenai bahu kanannya,Orang yang berlalu lalang pun menjadi kaget dan panik mendengar suara tembakan yang berasal dari ruangan Sesil dan Kevin dan untungnya tidak ada korban dari kelakuan Sesil barusan.


"Gue tau kok," jawab Sesil santai.


"Sayang kamu memang sudah gila ya...," ucap Kevin yang sudah mulai mengacak acak rambutnya.


"Gue peringatin lo sebaiknya jangan berkata yang aneh aneh nanti," ucap Sesil dengan santainya.


Sesil berjalan kearah jendela, ia melihat keseliling lalu membuka paksa jendela dan membiarkannya terbuka begitu saja, lalu Sesil kembali ketempatnya dan membuang pistolnya ke lantai.Tidak lama kemudian Pintu pun terbuka, banyak para mahasiswa yang berada di depan pintu bersama dengan para dosen.


"Sedang apa kalian di sini?" tanya Dosen Z.


"kalian tidak papa kan?" tanya Dosen A.


"Siapa yang membawa pistol di antara kalian berdua?" tanya salah seorang dosen killer.


" Tidak ada yang membawa pistol pak," jawab Kevin berbohong.


"Tadi tiba tiba ada seorang pria masuk dari jendela pak, setelah itu dia hendak mengancam kami dan entah kenapa setelah itu dia melepaskan tembakan dan langsung keluar dari jendela," jelas Sesil Mengarang cerita.

__ADS_1


"Lalu kalian sedang apa di dalam ruangan ini berduaan?" tanya Dosen killer..


"Bukankah kelas sudah selesai?" tanya dosen Z.


"Kalau itu anu pak," jawab Kevin hendak mencari alasan.


"Anu anu apa? anumu rusak?" tanya dosen Z.


"Ehhh... "


"Anu apa? " tanya dosen killer lagi yang membuat Kevin glagapan.


"Tadi kita sedang mau belajar bareng, terus pria itu datang," saut Sesil.


"Baiklah kalau begitu, di harap semuanya untuk berhati-hati," ucap Dosen Z.


"Semuanya bubar, kalian berdua juga," lanjut Dosen Z.


"Baik pak," jawab Sesil dan Kevin bersamaan.


"Mengapa kalian masih di sini pergi sekarang juga," Bentak Dosen S, tapi tidak di respon baik oleh para mahasiswa dan mahasiswi.


"Semuanya bubar sekarang juga," teriak Dosen killer.


Setelah mendengar teriakan dari Dosen killer semua orang langsung berhamburan meninggalkan kelas.


"Sesil, Kevin...," panggil dosen A.


"Iya pak," saut Sesil.


"Kalian berdua ikut bapak sekarang juga!" pinta dosen A, lalu berjalan yamg di ikuti oleh Sesil dan juga Kevin menuju taman belakang kampus.


Setelah sekitar satu jam lebih dosen A berbincang memgutarakan maksudnya dengan mereka berdua dan akhirnya sekarang Sesil dapat bergegas menuju cafe tapi lagi lagi rencanannya itu gagal lagi di karenakan Kevin yang terus menerus mengikutinya dan selalu meminta agar ia mau berbalikan dengannya membuka lembaran baru untuk hubungan mereka dan tidak henti hentinya Sesil menolak semua itu dengan alasan yang bermacam macam.


Sekiranya sekitar tiga puluh menit Sesil meladeni Kevin hingga Kevin di seret paksa oleh teman temannya.


"Untung saja, gue benar benar ngak hapis fikir sama dia, sudah jelas jelas gue ngak mau sama dia lagi eh malah sekarang seperti orang gila mengejarku terus," batin Sesil merasa resah akan semuannya.


Sesil kemudian segera bergegas ke parkiran mobil untuk berangkat ke Cafe, di saat Perjalanannya menuju parkiran Sesil bertemu dengan Radit yang berjalan kearahnya dengan senyuman yang terlihat jelas terukir indah di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2