Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
43. Untuk Pertama Kalinya.


__ADS_3

Aldo dan Farhan merasa bingung di suruh keluar padahal mereka sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.


"Om, kenapa kita di suruh keluar?" tanya Aldo bingung.


"Sesil tidak bisa melihat darah, lihatlah di tubuh kalian ada sisa darah Arga, sebaiknya kalian pulang sekarang juga."


"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu, nanti kami akan kembali," sahut Farhan lalu menyeret Aldo.


"Apa-apaan sih lo?" tanya Aldo kesal.


"Diam! pulang sekarang."


"Ngak bisa! Gue mau nemenin Sesil di sana!" Aldo dengan kasar melepaskan genggaman tangan Farhan.


"Lo bener-bener ya, Sesil itu takut sama darah! dan sekarang lo mau datang ke dia dengan penampilan seperti ini! penuh dengan darah." Farhan dengan tatapan sinis mencibir penampilan Aldo.


"Tapi penampilan lo begitu juga kan," sahut Aldo menyindir.


"Haaah, bacot lo, pulang cepat!" Farhan dengan kasar menarik tangan Aldo.


Di dalam ruangan rawat Arga.


"Sudahlah jangan menagis lagi, mata kamu nanti bisa bengkak," ucap Radit khawatir.


"Bener banget Sesil, lo kan udah denger sendiri dari dokter," sahut Rika tersenyum mencoba memberikan kekuatan ke pada Sesil.


"Bener banget, kan dokter sudah mengatakan kalau lukannya tidak dalam dan juga tidak terlalu mengancam nyawa jadi tidak perlu khawatir," timpal Reskiya.


"Permisi, ini Bos saya sudah membelikan sesuai pesanan Bos," ucap Rati yang datang memberikan pesanan Radit.


Setelah Radit menerima peper bag dari Rati dengan sopan Rati pamit undur diri, tapi tatapan mata Josua tidak lepas dari Rati hingga Rati benar-benar hilang dari pandangannya.


"Bro, siapa dia?" tanya Josua penasaran.


"Rati, sekertaris gue, kenapa?" sahut Radit.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kamu ganti baju dulu, agar tidak masuk angin dan flu." Radit memberikan peper bag tadi pada Sesil yang masih nampak gemetar.


"Tapi!..."


"Ngak usah tapi-tapian, sekarang kita ke hotel terdekat, aku akan menemani kamu."


"Setelah itu, kita ke dokter untuk mengobati luka kamu, dari tadi mengeluarkan darah," lanjut Radit.


"Tapi sebelum kita pergi, kita harus tutupin dulu luka kamu," ucap Radit lalu menyobek kemeja putihnya yang sudah hampir kering, lalu berjongkok dan mengangkat kaki Sesil perlahan lalu melilitkannya dengan kain.


"Gue antar Sesil gantian dulu." Setelah itu Radit memggendong Sesil dan membawannya pergi.


"Semoga mereka berdua bisa langgeng dan Sesil bisa membuka hatinya untuk Radit," ucap Josua dengan penuh harap.


"Bener banget," sahut Rika.


"Semoga saja."


Setelah mencari akhirnya Radit menemukan hotel yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah sakit, lagi-lagi Radit menggendong Sesil menuju resepsionis, setelah mendapat kunci Radit menuju lift karena kamar yang di pesan terletak di lantai tiga, setelah sampai di depan lift Radit tercengang karena semua lift sedang dalam perbaikan dan terpaksa harus melewati tangga.


"Gue turun aja deh, kita naik sama-sama, lo pasti ngak bakalan mampu." Sesil merasa kasihan dengan Radit yang sedari tadi memggendongnya kemana-mana karena kecerobohannya.


"Ngak, kamu jangan turun, sayang kamu ngak boleh ngeremehin suamimu ini!" sahut Radit lalu perlahan menaiki satu persatu anak tangga dengan demangat.


Beberapa menit kemudian....


Langkah Radit sudah mulai berat yang kini baru sampai di lantai dua anak tangga ke enam, Sesil yang melihat itu merasa tambah bersalah, Sesil kemudian mempunyai ide agar Radit membantunya dengan cara memapah saja agar lebih mudah dan Radit pun menerimanya.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di tempat tujuan Sesil langsung di seruh berganti pakaian, sedangkan Radit membuka bajunya dan memggantinya dengan handuk kimono yang sudah di siapkan oleh pihak hotel.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Sesil keluar dari kamar mandi dengan perlahan berjalan menuju tempat Radit berada, Radit yang melihat Sesil berjalan kemudian langsung berlari dan segera menggendong Sesil menuju kasur lalu mendudukannya.


"Kamu tunggu di sini, aku mau mandi dulu," ucap Radit kemudian berlalu meninghalkan Sesil yang masih tertegun melihat tubuh Radit yang sedikit terekpos.


"Bagaimana bisa semuannya pas? semua pakaian ini pas di badanku hingga pakaian dalaman juga ukuranku semua!"

__ADS_1


"Apa jagan-jangan dia diam-dia memeriksa semua pakaianku lagi!" tebak Sesil.


"Ternyata Radit sangat mesum."


"Arrrggggh, kenapa aku sangat bodoh, aku masih saja tidak bisa mengatakan semua isi hatiku pada Sesil," batin Radit merasa frustasi di bawah guyuran sower.


"Sesil, apa kamu tidak lelah dengan semua sandiwara ini?" Radit berlagak seperti sedang berada di hadapan Sesil.


"Apa sebaiknya kita akhiri semua kepalsuan ini?... aku ingin kita menjalin hubungan yang nyata."


"Aku ingin kamu mengenakan gaun seperti wanita lainnya, duduk di pelaminan bersama ku, merasakan suka dan duka bersama-sama."


Radit kemudian mengambil sower lalu berlutut dan mengangkat sedikit sower yang masih menyalah hingga mengenai wajahnya dengan cepat Radit memutar sowernya hingga air yang keluar terbuang sia-sia.


"Sesil, untuk itu....., maukah kamu menikah denganku? menjalin sebuah hubungan yang serius, menjadi pasangan hidup untuk selamanya? menjadi teman curhat dan bisa menjadi sandaran bila kamu sedang membutuhkan."


"Aku benar-benar sangat menyayangimu, walau banyak yang akan aku lalui, mau itu sungai, lautan bahkan batu tajam akan aku lalui demi dirimu, sungguh aku akan setia pada mu, ....,malaikat ku!" Radit mengoceh sendirian di dalam kamar mandi.


"Haccciuhh." Tiba-tiba saja Radit bersin lalu menghosok hidungnya, tanpa sadar ternyata jarinya sudah keriput karena terlalu lama bersentuhan dengan air.


"Sudah berapa lama aku mandi?" tanya Radit pada dirinya sendiri lalu melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.


Setelah beberapa menit kemudian Radit keluar dari kamar mandi dan mendapati Sesil yang sudah tertidur pulas di kasur, perlahan Radit berjalan ke arah Sesil lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh Sesil, sebelum itu Radit merubah posisi tidur Sesil yang sangat berantakan.


Setelah bergantian dengan baju yang di pesannya Radit hendak membengunkan Sesil agar segera kembali ke rumah sakit, tapi di urungkan niatnya karena melihat Sesil tertidur pulas dan nampak lelah menagis cukup lama, Radit lalu keluar dari kamar menuju restoran hotel.


setengah jam kemudian, Sesil akhirnya terbangun dari tidurnya, Sesil merentangkan kedua tangannya melakukan peregangan untuk tubuhnya lalu melihat keseliling dan mendapati Radit yang tertidur di sofa dengan posisi terduduk, dengan perlahan Sesil menuju Radit, Sesil kemudian mencoba mengecek apakah Radit benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.


Sesil menggoyang-goyangkan tangannya tepat di depan wajah Radit dengan cepat, tidak mendapat pergerakan dari Radit sebuah senyuman terukir di wajah Sesil dengan indah, karena merasa kasian dengan Radit dengan langkah besar Swail memgambil selimut lalu menutupi setengah tubuh Radit.


"Ternyata dia tampan juga jika dilihat dari dekat!" ucap Sesil, lalu menyingkirkan helai rambut Radit yang hampir menutupi matanya.


"Kurasa gue jatuh cinta sama lo, Radit!"


Cup

__ADS_1


Sesil mencium sekilas pipi kanan Radit lalu menghampiri sebuah kotak makanan di atas meja lalu menyantapnya dengan lahap sambil sesekali melihat ke arah Radit dengan wajah yang tersipu malu.


__ADS_2