
Di pagi yang cerah dengan sedikit genangan air yang tertinggal di kubangan kecil di jalan yang berlubang, nampak seorang anak laki-laki berbadan kecil,tinggi dan sedikit kurang berisi, umurnya sekitar 6-7 tahunan yang tengah berjalan dengan santainya di tengah kerumunan orang-orang, dengan santainya tangan mungilnya mengambil dompet dari para orang-orang dewasa yang iya lewati.
Setelah beberapa menit kemudian anak laki-laki itu berjalan dengan santai menuju sebuah gubuk dengan sekantong kresek hitam ukuran sedang. Ia berjalan sambil mengayun-ngayun kantong kreseknya dengan bahagia.
"Kalau dapat banyak bisa buat makan enak dong, dan juga kebutuhan mereka bisa terpenuhi, asiknya," ucapnya bahagia sembari melompat-lompat kecil di setiap langkahnya.
"Cici aku pulang.. Cici kamu di mana?" ucap anak laki-laki itu seperti mencari sesuatu.
Anak itu terus mencari ke seluruh sudut gubuknya, saat ia membuka pintu belakang seketika tubuhnya membeku seketika langsung terduduk lemas melihat kucing kesayangannya terbaring kaku dengan busa yang keluar dari mulutnya.
Air matanya jatuh bercucuran, lagi-lagi dia merasakan di tinggal oleh sesuatu yang di sayaginya, anak itu adalah Rangga Syaikhaer, sebelum di angkat menjadi anak seorang pengusaha Rangga adalah seorang pencuri cilik yang tinggal di sebuah gubuk yang kumuh bersama kucing kesayangannya yang kini sudah terbujur kaku.
Rangga sebelum menjadi pencuri adalah seorang tuan muda yang kaya raya tapi hanya dua malam perusahaan keluarganya bangkrut dan dalam satu malam seluruh kerabatnya di bantai oleh sekelompok mafia yang bahkan tidak menyisakan satu pun harta untuknya.
Rangga yang saat itu berlindung di bawah tumpukan mayat kakak-kakaknya menahan tagis melihat kedua orang tuanya di siksa sebelum menemui ajal mereka masing-masing, Ibunya mati karena di lecehkan oleh banyak pria sedangkan sang Ayah mati di tusuk berkali-kali menggunakan pisau milik Ayahnya sendiri.
Setelah semua mafia itu pergi Rangga keluar dari tumpukan mayat ketiga kakaknya yang sudah berlumuran darah, sambil merangkak Rangga menuju mayat kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia ssmbil menagis bahkan hingga tak mengeluarkan suaranya.
"Huaaaa... Ayah... Ibuu bangun... hiks hiks." Dengan air mata yang bercucuran Rangga mengoyang tubuh kedua orang tuanya yang berada di sampingnya.
"Bangun... hiks hiks... Rangga tidak mau sendiri hiks... Rangga takut.. hiks hiks hiks, Kakak bagun temani Rangga... prluk Rangga kak.." Rangga terus berusaha membangunkan kedua orang tua dan ke tiga kakaknya.
Hingga satu tahun berlalu Rangga berakhir di sebuah pemungkiman yang kumuh dan menjadi pencuri, karena keberadaan Rangga yang belum terekpos ke luar jadi dia aman dari para mafia itu.
__ADS_1
Rangga menagis sejadi-jadinya melihat Cici kucing kesayangannya mati keracunan, Rangga tidak kunjung menghentikan tangisnya melihat Cici. Rangga memeluk tubuh gempal Cici yang sudah kaku, sekitar satu jam Rangga menagis hingga ada seorang wanita paruh baya yang menghampirinya.
"Rangga kamu kenapa menagis seperti ini Nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang berlari tergesa-gesa menghampiri Rangga.
Setelah meletakkan semua karung sampahnya wanita paruh baya itu menatap khawatir ke arah Rangga hendak mencari tau apa yang membuatnya menagis seperti itu hingga tatapannya tertuju pada apa yang tengah di peluknya saat ini, mata wanita paruh baya itu langsung berkaca-kaca lalu memeluk Rangga.
"Hais kenapa begitu ribut di sini? aku sudah meracuni kucing breng**k itu hingga mati! apa kalian mau aku racuni juga agar tidak mengganggu penghuni yang lain!" ucap Seorang wanita paruh baya sambil membawa balok kayu menghampiri Rangga dan wanita tua itu.
Rangga mengepalkan kedua tangannya, menggenggam dengan erat jari-jarinya hingga lengan kecilnya mengeluarkan urat-urat, Rangga menggeratakkan giginya menahan amarah yang menggebu-gebu di dadanya. di taruhnya perlahan Cici ke tanah lalu Rangga berdiri dan satu tangannya mengambil beberapa kerikil.
"Kenapa? kenapa anda membunuh Cici?" tanya Rangga sambil menunduk.
"Karena dia adalah hewan peliharaanmu dan semua yang dekat dan pernah di beri makan olehmu sudah mati semua tinggal orang tua yang di belakangmu itu," sahut wanita paruh baya itu sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Rangga dan wanita tua yang bersamanya.
"Berani anda menyentuh sehelai rambutnya maka anda akan mendapatkan balasan yang sangat berat dariku," ucap Rangga geram.
Air mata lagi-lagi turun dari pelupuk mata itu, kali ini dia sudah tidak tahan dengan emosinya dengan semua amarah yang selama ini dia simpan, karena orang yang dapat menahan amarahnya sudah pergi meninggalkannya juga Rangga tidak menahan diri lagi, di angkatnya tangannya lalu di lemparkan secara brutal krikil dan batu ke arah wanita laruh baya itu dan seorang pria di depannya secara bergantian.
Karena tindakannya itu Rangga mendapat pukulan dari balok kayu yang di bawa wanita paruh baya itu dengan kasar di seluruh tubuhnya dan bahkan mendapat tendangan dari pria itu di bagian bokong dan kaki. sekiranya 30 menit Rangga di siksa tubuhnya yang sudah penuh luka di buang di tengah jalan begitu saja.
Rangga yang setengah sadar berusaha untuk merangkak ke tepi tapi ada mobil yang melaju ke arahnya dengan lumayan cepat dan untungnya orang yang mengendarai mobil itu berhenti sebelum menabrak tubuh Rangga, dengan tergesa-gesa seorang wanita dan pria langsung membawa masuk Rangga kedalam mobil.
Setelah tiga hari kemudian Rangga terbangun di sebuah ruangan yang penuh dengan bau obat dan terdengar suara aneh di sekitarnya, kebisingan orang-orang yang bercerita di sekitarnya membuat Rangga hendak bangun tapi di tahan oleh seorang wanita yang ternyata adalah Restri.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar nak?" tanya Restri yang langsung di hampiri oleh seorang pria yang ternyata Pramudja.
"Bagaimana? apa yang sakit?" tanya Pramudja tergesa-gesa.
"Sayang jangan menanyainya seperti itu dia menjadi ketakutan karenamu!" ucap Restri memukul pelan bahu Pramudja.
"Siapa namamu Nak?" tanya Restari lembut.
"Rangga! namaku Rangga." jawab Rangga pelan.
"Baiklah." sahut Pramudja.
"Kamu mau bangun Nak?" Restri bertanya dengan lembut membuat Rangga menagis teringat akan mendiang Ibunya yang sangat lembut padanya.
Rangga mengangguk pelan dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya, Restri dan Pramudja merasa heran dengan tingkah Rangga.
"Sayang kanapa kamu menagis? apakah paman ini menakutimu?" tanya Restri menunjuk Pramudja dan Rangga menjawab dengan gelengan.
"Lalu, apa yang membuat mu menagis Nak?" tanya Restri menyelidiki.
"Aku teringat Ibu.. hiks hiks hiks..." sahut Rangga yang sudah terisak.
"Lalu sekarang di mana mereka?" tanya Pramudja yang langsung mendapat pukulan dari sang istri.
__ADS_1
"Mereka sudah berada di surga.." sahut Rangga sendu sambil menggenggam selimut dengan erat.
Melihat itu Restri langsung memeluk Rangga penuh kasih sayang membuat Rangga tanpa sadar memanggil Restari dengan panggilan Ibu membuat Restari tersentak kaget lalu memeluk kembali Rangga. setelah Rangga tertidur Restari membicarakan dengan Pramudja untuk mengangakat Rangga menjadi anak mereka dan dengan senang hati Pramudja menyetujui permintaan sang istri.