
Setibanya di lobi hotel, Sesil sudah di tunggu oleh Rangga, tanpa basa-basi mereka berdua kemudian pergi meminggalkan hotel menggunakan moge Rangga dengan kecepatan penuh.
Kini Rangga memberhentikan mogenya di depan pagar yang begitu mewah berwarna silver, Sesil terdiam sejenak menatap sebuah bagunan mewah dengan warna dominan putih yang ada di hadapannya kini, Sesil lalu turun dari moge dengan masih melihat ke arah bagunan mewah itu yang di pagari dengan pagar yang begitu mewah dan megah.
"Begitu megah untuk di curigai oleh polisi," ucap Sesil.
"Tapi kemewahan yang ada disini.... sudah berlumuran darah dari banyak orang yang tidak bersalah," gumam Sesil dengan geram.
"Apa markas ini tidak pernah di curigai oleh para polisi, mau bagaimanapun banyak orang yang keluar masuk?" tanya Sesil penasaran.
"Tidak pernah, markas ini selalu di kira adalah sebuah penginapan, jadi tidak ada yang pernah mencurigainya," jawab Rangga santai.
"Sebaiknya kita segera masuk, penjaga akan segera lewat," ucap Rangga sambil melihat ke sekeliling.
Kemudian mereka masuk melewati sebuah jalan rahasia yang di buat oleh Rangga saat masih kecil, Rangga sedikit kesulitan mencari letak pintu rahasia tersebut karena sudah lama tidak pernah melewatinya lagi membuat Sesil merasa ragu dengan rencana Rangga.
"Ketemu!" ucap Rangga lalu membersihkan semak-semak yang menutupi.
"Pintunya sedikit kecil jadi kamu harus melewatinya dengan hati-hati," lanjut Rangga dan di balas dengan sebuah anggukan.
"Sepertinya lubang ini terlihat seperti baru di buat beberapa bulan, gue harus tetap waspada, jika sewaktu-waktu dia berbalik menghianati atau... dia memang tidak berpihak ke gue," batin Sesil.
Setelah berhasil masuk Rangga dan Sesil menuju sebuah pintu menuju ruang bawah tanah yang nampak terawat dan sering di gunakan, saat masuk Sesil makin curiga karena tidak ada sama sekali orang yang berjaga.
Sementara itu Radit dan Rangga tengah mengendarai moge mereka masing-masing yang di ikuti sekitar lima moge dan satu mobil di belakang mereka, mereka menuju tempat Sesil dan Rangga saat ini.
Setelah cukup dekat dengan bagunan mewah itu mereka pun berhenti lalu mengeluarkan sesuatu dari bagasi mobil dan tas ransel yang mereka bawa masing-masing.
Setelah semuanya siap dengan tas dan peralatan mereka masing-masing Arga lalu mengintruksikan menggunakan jarinya untuk menyebar ke seluruh sisi bagunan tersebut.
Semua berada di posisi masing-masing dan menjalankan tugas mereka masing-masing untuk menam bom waktu dari luar, ada yang menyeludup masuk dan memasang bom di tempat-tempat tertentu, sementara Radit dan Arga berada di mobil memantau menggunakan droune dan mengintruksikan anak buahnya menggunakan walki toki.
Selagi mereka menanamkan bom, kini Sesil sudah masuk kedalam ruangan rahasia yang ternyata benar duagaan Sesil kalau Rangga sebenarnya tidak pernah berada di pihaknya.
__ADS_1
Rangga hanyalah umpan untuk dirinya agar terpancing masuk kedalam ruangan yang memang di siapkan untuk menyiksa Sesil, karena memang sedari awal Sesil tidak mempercayai Rangga, dirinya sudah menyiapkan rencana cadangan.
"Sekarang lo udah ngak bisa kabur lagi Sesil!" Dengan senyum liciknya Yuna berjalan mendekat.
"Rangga, apa maksud dari semua ini?" tanya Sesil bersandiwara.
"Maaf, Sesil tapi kamu sekarang sudah di khianati dan di tipu olehnya." Yogi menunjukkan senyum mengejeknya dengan penuh bahagia.
"Maaf, maaf Sesil selama ini aku hanya berpura-pura baik pada kalian semua," lirih Rangga, merasa bersalah.
"Diam! jadi selama ini kamu berbohong?"
"Jadi kamu ngak menganggap serius dengan perasaan aku ini?" lanjut Sesil yang kini sudah mulai mendrama.
jangan lupa menambahkan karakter wanita lemah dan air mata agar semuanya menjadi sempurna. Sesil terduduk dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Sesil aku benar-benar minta maaf!" Rangga hendak mendekati Sesil tapi langsung di pukul oleh Yuna di bagian perut.
"Kamu! batu penghalang sudah saatnya untuk di hilangkan." Yuna mengangkat wajah Sesil menggunakan sarung samurai yang di pegangnya sedari tadi
Yuna terheran karena Sesil tersenyum saat ia mengangkat kapalanya. dengan tatapan sinisnya Sesil membuat Yuna melangkah mundur.
"Kita mulai game nya." Sesil tersenyum dengan penuh semangat.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Dengan segera Yuna menjambak rambut Sesil hingga Sesil meringis kesakitan.
"3, ... 2, ....... S. a. t. u. dor."
Bommm, Bommm, Duarrr.
Suara ledakan dan teriakan terdengar dari luar ruangan membuat Yuna dan yang lain menjadi panik.
"Penyerbuan!"
__ADS_1
"Apa yang telah kamu lakukan?" tanya Yuna lalu menendang perut Sesil dengan keras hingga Sesil muntah darah.
Rangga yang masih meringkuk hanya bisa berkata dengan lirih sambil melihat orang yang di cintainya di siksa.
"Biarpun aku akan mati, kamu pun juga harus ikut mati!" ucap Yuna mengimpit kedua pipi Sesil dengan kasar.
"Aku akan mati, tapi tidak akan mati di tangan orang busuk sepertimu!" ucap Sesil yang langsung menendang kaki Yuna, lalu berlari menjauh dari pintu.
"Mau kemana kamu-"
Duar
Pintu yang begitu kokoh langsung hancur berkeping-keping setelah di bom oleh Arga. Arga langsung mencari sang kakak, saat melihat kondisi Sesil yang terluka dengan emosi yang tak terkontrol langsung memukul Yuna dan orang-orang yang melindungi Yuna.
Radit langsung berlari menuju Sesil lalu menggendongnya, Radit yang melihat Arga dan para anak buahnya sedang sibuk memutuskan untuk membawa Sesil keluar terlebih dahulu.
Melihat Sesil yang hendak di bawa pergi, Yuna mengambil samurainya lalu berlari hendak menusuk Radit dan Sesil. Rangga yang melihat tindakan Yuna dengan segera berlari dan menjadi tameng untuk Sesil.
Rangga memuncratkan darah dari mulutnya tepat di hadapan Sesil, untuk mengalikan rasa bersalahnya Sesil meremas baju Radit, dengan segera Radit mengambil kain yang tergeletak untuk menutupi wajah Sesil agar tidak melihat lebih banyak lagi.
Rangga mati dengan senyuman terakhir di wajahnya. Arga yang menyadari kalau Radit sudah keluar bersama sang kakak langsung memerintahkan pada bawahannya untuk mundur dan mengamankan Yuna dan Yogi serta membawa mayat Rangga.
Setelah kejadian itu Rangga di makamkan dengan layak. Sesil masih saja tidak percaya kalau dirinya di selamatkan oleh seseorang yang selama ini dia anggap sebagai musuh.
Lima bulan kemudian Radit dan Sesil mengadakan pesta pernikahan yang begitu mewah, semua orang bahagia terutama sepasang mempelai yang kini tengah duduk bersama di pelaminan.
Dengan hadiah dari kedua sahabatnya, Sesil dan Radit berbulan madu ke Korea dan Jepang selama dua bulan. Saat bulan ke empat Josua menikah dengan seorang gadis desa dengan meriah di desa tempat tinggal gadis tersebut.
Lalu di susul oleh Rasya yang pernikahannya sudah di tunda sangat lama bersama Raka. Lalu di susul lagi oleh Reskiya dan Alfin enam bulan kemudian.
Di saat pernikahan Aldo dan Liana berlangsung Sesil tengah hamil 7 bulan sedangkan Rasya hamil 3 minggu.
Selama hamil Sesil sangat manja pada Radit seakan Sesil tidak akan mendapatkannya lagi setelah dia melahirkan nanti.
__ADS_1