Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
55. Terdiam dan Tak Berkutik.


__ADS_3

Seketika Rangga kaget dengan tindakan Sesil, tapi Sesil tidak menghiraukan hal itu ia tetap memeluk tubuh Rangga dengan lembut, Rangga tanpa basa-basi mengambil kesempatan untuk memeluk Sesil walau nenahan sakit saat Sesil memeluknya barusan, karena kepala Sesil tepat mengenai salah satu luka Rangga.


Radit yang baru saja sampai di atas langsung memberhentikan langkahnya melihat hal yang tidak pernah terpikir olehnya, raganya seakan ingin berlari ke arah Sesil dan Rangga tapi tidak dengan tubuhnya yang terdiam, terpaku melihat pemandangan yang tidak mengenakan baginya itu.


"Kenapa? Kenapa hatiku sakit saat melihat wajahnya yang seperti itu? Gue ngak mungkin ada perasaan kan sama dia?" batin Sesil yang kini air matanya sudah mengalir.


"Kenapa lo nangis?" tanya Rangga saat mendengar isakan Sesil, dengan rasa khawatirnya Rangga mendorong Sesil pelan tapi Sesil mengeratkan pelukannya hingga Rangga tidak mendorong lagi.


"Ngak mungkin gue kasih kesempatan Rangga ngeliat wajah gue yang seperti ini!" batin Sesil.


Sesil sedikit berjinjit untuk menaruh wajahnya di bahu Rangga. "Bekerja samalah untuk sebentar saja hingga dia pergi," bisik Sesil di telinga Rangga.


"Baiklah, seperti ini lebih lama lagi juga tidak masalah," sahut Rangga berbisik tepat di telinga Sesil membuat nafas Rangga terasa jelas di telinga Sesil.


"Jangan macam-macam sama gue, atau lo harus membayar semuannya," ucap Sesil memperingati Rangga.


"Gue harus membayar dengan apa untuk menembus semua kesalahan yang telah gue perbuat?" tanya Rangga dengan suara kecil karena Radit yang masih berada di ujung tangga.


"Apa dengan tubuhku?" tanya Rangga yang langsung mendapat cubitan kecil dari Sesil di bagian pingangnya.


"Akh!" pekik Rangga saat Sesil mencubit pinggangnya, Rangga kemudian melepaskan pelukannya lalu memegang pinggangnya.


"Hanya cubitan kecil sudah membuatmu kesakitan hingga seperti itu," ucap Sesil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Lo mencubit tepat di bagian yang memar," jelas Rangga menahan sakit.


"Kalau begitu, harus segera di lihat apakah luka atau tidak!" ucap Sesil dengan segera hendak memapah Rangga.


"Ngak usah gue bisa jalan sendiri," ucap Rangga kemudian berjalan menuju kamarnya dengan sedikit pincang.

__ADS_1


"Ternyata selain karena kesalahanku, Sesil sudah menemukan orang yang di sayangi,..... Lalu untuk apa aku masih di sini dan menonton mereka yang sedang bermesraan!" batin Radit merasa tidak berguna lagi.


Lalu menuruni tanga dengan lesu bahkan hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri tapi untungnya Josua melihat Radit yang akan terjatuh lalu dengan cepat bergegas untuk menangkap Radit yang langsung pingsan, sedangkan Sesil dan Rangga yang tidak mengetahui hal itu hannya berada di dalam kamar mengobati luka Rangga.


"Ada apa ini?" tanya Liana kaget saat melihat Radit yang sudah di papah oleh Josua.


"Mengapa Radit bisa pingsan?" tanya Raka yang hendak pamit pulang namun terhenti saat melihat Radit yang sudah pucat.


"Gue juga ngak tau, tadi pas gue mau ngecek Rangga di atas tiba-tiba gue ngeliat Radit yang mau terjatuh dari tangga," jelas Josua lalu mendudukan Radit di sofa.


"Sebaiknya kita bawa Bos ke rumah sakit sekarang juga," ucap Rati yang langsung mengambil tasnya di atas meja.


"Yaampun, kak Radit kenapa bisa gini sih!" ucap Liana merasa kasihan melihat wajah Radit yang sudah pucat.


Dengan segera mereka membawa Radit ke rumah sakit mengunakan mobil milik Radit dan kendaraan masing-masing, di saat Sesil keluar dari kamar Rangga, Sesil berjalan menuruni tangga dengan perlahan karena kepalannya entah kenapa tiba-tiba pusing. Saat Sesil melewati ruang tamu Sesil melihat sebuah tas yang dimana itu adalah tas karyawan caffee miliknya dan kedua sahabatnya.


"Mengapa Reskiya bisa melupakan dokumen yang begitu penting di sini, untung saja di rumah paman bagaimana jika di tempat umum... Bisa hancur semuannya," omel Sesil sambil merapikan semua berkasnya.


"Gue sebaiknya masak dulu deh, udah lapar," ucap Sesil lalu langsung beranjak dari duduknya, baru berapa langkah tiba-tiba pandangannya langsung buram dan sedetik kemudian jatuh pingsan.


**Caffee**


Semuannya tengah sibuk mencari sesuatu di dalam caffee yang di tutup sementara oleh Reskiya yang bertanggung jawab atas caffee saat ini, Reskiya tengah pusing karena berkas yang di bawa oleh Aldo hilang, saat Reskiya bertanya pada Aldo, malahan Aldo mengatakan kalau berkas itu sudah memberikannya kepada Farhan, Reskiya rasanya ingin langsung bertanya pada Farhan tapi saat ini Farhan tengah melakukan rapat penting di perusahaannya yang di bagun bersama Aldo.


"Farhan kenapa lo ninggalin gue di sini sihhh?" batin Aldo rasanya ingin menagis gara-gara di introgasi oleh Reskiya.


"Lo harus dapat berkas itu secepatnya! semua berkas yqng ada di tas itu sangat penting kita harus mendapatkannya sebelum pukul 14:21 dan sekarang sudah pukul 13:11," ucap Reskiya yang sudah sangat pusing.


"Ayolah... Lo inget-inget dimana lo terakhir kali pegang tas itu!" ucap Reskiya kemudian duduk di kursi.

__ADS_1


"Terakhir kali.... Ah gue ingat! Terakhir kali itu di rumah Om Bram." Aldo merasa sangat bahagia mengigat kembali kejadiannya.


"Gue bakalan ambil saat ini juga," ucap Aldo antusias.


"Akhirnya setelah ini gue bisa lepas dari putri berkedok iblis itu," batin Aldo menaiki mobilnya dengan gembira.


**Rumah Bram**


Setelah memarkirkan mobilnya Aldo bergegas mengetuk pintu, karena tidak ada yang merespon Aldo kemudian masuk dan langsung bergegas menuju ruang tamu, setibanya di sana Aldo melihat barang yang di carinya dengan gembira Aldo mengambil tas itu tapi setelah melangkahkan kakinya Aldo kaget melihat Sesil yang pingsan di samping sofa.


Karena panik Farhan langsung mengangkat tubuh Sesil kedalam mobilnya dan tidak lupa dia membawa tas yang ia cari, Farhan membawa Sesil menuju caffee, Setibanya di caffee semua pelayan caffee langsung menghampiri Sesil dan Farhan, Farhan menjelaskan apa yang terjadi kepada Reskiya di ruangannya.


"Kanapa lo bawa di sini?" tanya Reskiya memukul-mukul pelan pipi Sesil berusaha untuk membangunkan Sesil.


"Gue ngak tau mau bawa kemana!" sahut Farhan hendak menaruh Sesil di sofa tapi langsung di tahan oleh Reskiya.


"Emang ngak ada orang di rumah?" tanya Reskiya menahan lengan Farhan yang hendak menaruh Sesil.


"Engak ada, tangan gue pegel, gue mau naruh Sesil di sofa dulu," ucap Farhan yang lagi-lagi tindakannya di tahan oleh Reskiya.


"Lemah! Jadi cowok lemah baget sih!" Kata-kata itu seakan menusuk kedalam hatinya.


"Ini yang begini kalau gue ngebantah palingan hanya nambah lama gue ngendong Sesil," batin Farhan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Iya iya gue lemah jadi sekarang kita mau membawa Sesil kemana?" tanya Farhan yang berusaha agar tidak menjatuhkan tubuh Sesil.


"Dasar bodoh, ya kerumah sakit lah," sahut Reskiya kesal.


"Kalau begitu sekarang kita bawa ke rumah sakit," ucap Farhan kemudian langsung berbalik membawa Sesil masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2