Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
45. Bunga dan Arga.


__ADS_3

Setelah bertengkar cukup lama Bunga menyadari kalau tinggal mereka berdua di dalam kamar.


"Lihat tuh kak Sesil pergi gara-gara lo terlalu berisik," ucap Arga.


"Oke! kalau begitu gue bakalan ninggalin lo di sini...., tapi ya seinget gue dulu ada yang pernah mati di kamar ini jadi.... sedikit berhantu." Bunga sangat senang mengganggu Arga.


"Lo jangan pergi kalau gitu," ucap Arga kemudian menahan tangan Bunga dengan erat.


"Dasar penakut... ada ide!" batin Bunga.


"Tadi katanya ngak mau di temenin!" tanya Bunga, sedikit memajukan bibir bawahnya mengejek.


"Itu tadi, sekarang lain lagi," sahut Arga menambah eratkan pegangannya.


"Ya ngak usah pengang kuat-kuat juga kali! sakit tau," lanjut Bunga kemudian memukul kepala Arga, dengan spontan Arga melepaskan genggaman tangannya lalu mengelus kepalanya.


"Kasar banget sih jadi cewek," ucap Arga mengejek.


"Emang kenapa gue galak ha? lagian kalau gue galak hantu ngak bakalan ganggu gue." Bunga dengan kesalnya mepunyai ide jail.


"Masa iya hantu takut sama cewek galak kaya lo?" tanya Arga tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Bunga.


"Yaampun!! apa itu yang lewat!!" teriak Bunga dan mendapat tolehan pelan oleh Arga.


"Apaan sih ngak lucu."


Praaankkk


Sebuah vas yang berada di dekat jemdela pecah hingga berkeping-keping, karena kaget Arga langsung bangun dari baringnya lalu menarik tangan Bunga dengan cukup kuat hingga Bunga berada dalam pelukan Arga. Bunga membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang di alaminya. Dengan cepat Bunga melepaskan pelukan Arga dengan kasar lalu memelototinya dengan kesal.


"Lo apaan sih?" tanya Bunga kesal.


"Lo penakut banget sih, jadi cowok denger benda jatuh gitu langsung ketakutan gitu! lo cowok atau apaan sih?" tanya Bunga dengan sangat-sangat kesal.


"Baru dapat luka gitu aja udah kayak gini modelnya, penakut, penakut, lemah dan lemah!" Bunga mendorong-dorong bahu Arga dengan kasar menggunakan jari telunjuknya.


"Aarrrggghhh!!" Rancau Arga memegang perutnya.

__ADS_1


"Lo ngak usah pura-pura, gue ngak percaya sama lo!" ucap Bunga masih kesal.


"Aagghhhh, sssattttt..., bagsssssaaaattt." rancau Arga kesakitan.


"Apa yang lo bilang??" bentak Bunga, seketika matanya membulat saat melihat baju Arga memerah.


"Astaga! baju kamu berdarah! jangan-jangan!!" Bunga dengan cepat membuka kaos Arga, Bunga terngaga melihat darah yang sudah mengalir di perut Arga.


"Jangan sampai lukanya terbuka!!" Bunga dengan cepat mengambil kotak P3K, lalu membuka perban Arga dan menggantikannya dengan yang baru.


"Kenapa jantung gue berdegub dengan kencang gini saat Bunga berada di deket gue!" batin Arga menatap Bunga.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu? awas nanti lo suka lagi sama gue!" ucap Bunga sambil membereskan semua kembali ke kotak P3K.


"Idih amit-amit gue suka sama lo!" sahut Arga memberikan tatapan mengejek ke arah Bunga.


**Rumah Utama Wijaya**


"Gue sudah melakukan semua yang lo mau, jadi mulai sekarang kalian bisa lepasin keluarga Martadinata kan?" ucap Rangga pada seorang wanita yang berada di balik kain.


"Bagus, tapi Arga belum mati!" sahut wanita itu.


"Bukan hanya dia, tapi seluruh keturunan Martadinata, aku sudah muak melihat nama dan wajah mereka di mana-mana!" sahut Wanita itu memukul meja di hadapannya.


"Tanggan lo bisa sakit, jangan memukul sembarangan, tangan mulus ini nanti akan lecet." seru seorang pria yang datang menghampiri wanita itu lalu mengelus tangannya.


"Sebaiknya kalian berdua jangan membuat banyak masalah lagi!" Rangga memperingati kedua orang yang berada di balik kain.


"Kakak, kakak!! ini pasti karena masalah wanita kan, memang ya para wanita hanya membawa masalah dalam keluarga." sahut pria itu kemudian keluar dari balik kain, yang tidak lain adalah Yogi.


"Yogi sebaiknya lo sama Yuna jangan membuat semuanya menjadi semakin buruk." Rangga lagi-lagi mempringati Yogi dan Yuna.


"Kenapa sih lo selalu saja belain si pelakor itu?" tanya Yuna kesal lalu menampakkan dirinya.


"Karena gue cinta sama dia, dan jagan pernah sebut dia sebagai pelakor karena dia tidak pernah merebut apapun," sahut Rangga sedikit menaikkan nada suaranya.


"Lo ngak tau semua masalahnya jadi lo diam dan lakukan saja apa yang kami perintahkan!" ucap Yuna kasar.

__ADS_1


"Rangga kamu tidak tau permasalahan apa yang ada di antara dua keluarga ini jadi kamu diam saja dan ikuti apa yang di perintahkan oleh Nona Yuna dan Tuan muda Yogi," sahut Roki, pengurus rumah Wijaya.


"Gue ngak akan mau tunduk sama kalian lagi!"ucap Rangga tegas.


"Pengurus Roki! Apakah sopan berbicara seperti itu pada Tuanmu?" tanya Rangga mengintimindasi pengurus Roki.


Pengurus Roki sedikit gentar untuk berkata di bawah tekanan Rangga, Yuna yang merasa kesal akhirnya angkat suara melawan Rangga karena bahkan Yogi ketakutan dengan aura mengintimindasi dari Rangga.


"Lo itu seharusnya tidak berada di sini karena lo seharusnya masih berada di jalanan saat ini juga!" Rangga tercengang mendengar mendengar ucapan Yuna.


"Bagaimana dia bisa tau soal ini?" batin Rangga gelisah.


"Kenapa? Lo pasti bertanya-tanya kenapa gue bisa tau kan?" Dengan santainya Yuna menarik dasi Rangga hingga Rangga sedikit tertunduk.


"Lo pasti ngak maukan kalau berita tentang lo yang bukan anak kandung almarhum Pramudja Wijaya dan Restri Mulan!" ucap Yuna sambil membelai halus wajah Rangga.


"Rangga Wijaya, sang pewaris groub JayaMakmur ternyata adalah seorang anak pungut dan tidak berhak mewarisi groub JayaMakmur," sambung Yuna dengan gemas mencubit pipi Rangga.


"Manjauh dari gue, gue merasa kotor kalau berada di dekat lo!" ucap Rangga sambil mendorong kasar tubuh Yuna.


"Dengar baik-baik gue ngak tertarik dengan semua harta keluarga Wijaya ini, gue sudah bersyukur di pungut dari jalanan dan di angkat menjadi anak oleh Almarhum Tuan Pradja. Gue bukan tipe orang yang gila harta dan kekuasaan seperti kalian, kalau kalian mau mengambilnya maka dengan senang hati gue kembalikan karena sekarang yang gue mau hanya sebuah kebebasan tanpa beban apapun dari kalian!" lanjut Rangga dengan lantang dan tegas.


"Heh..." Yuna memutar bola matanya merasa jengah.


"Kalau lo mau meminta kebebasan maka dengan senang hati bakalan gue kabulin," ucap Yogi dengan senyum liciknya.


"Apa yang lo rencanain?" tanya Rangga curiga.


**Setengah jam kemudian,Rumah Bram**


"Kita harus menangkapnya secepat mungkin, agar nantinya tidak ada kejadian yang gawat lagi," ucap Bram serius.


"Benar banget, kita harus segera menemukannya dan menanyakan apa motif dari semua perbuatannya," sahut Ardi.


"Tapi kita tidak boleh gegabah menghadapi mereka, karena jika kita tidak membuat rencana yang matang maka kita seperti masuk ke sarang macan," ucap Josua sambil menyeruput minumannya.


"Tolong! tolong aku..." teriak seorang pria yang tiba-tiba masuk.

__ADS_1


"Apa yang terjadi!!" tanya Bram yang langsung berdiri dengan wajah tercengang.


__ADS_2