
Tok tok tok
"Nak Radit, Bibi' masuk ya?" Bi' Laras meminta izin terlebih dahulu.
"Iya Bi', masuk aja ngak di kunci pintunya," sahut Radit. pintu kemudian terbuka menampakkan Bi' Laras yang membawa nampan berisikan semangkok bubur, segelas air putih dan sebuah vitamin.
"Taruh di meja aja Bi', nanti saya yang suapi," ucap Radit sambil menutupi luka Sesil dengan selimut.
Di saat Bi' Laras menaruh nampan tidak sengaja matanya tertuju pada bercak darah di sprei bagian belakang Sesil, melihat itu Bi' Laras hanya tersenyum penuh makna lalu keluar dari kamar Sasil dan Radit.
"Alhamdulilah, akhirnya Nak Sesil mau menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri," batin Bi' Laras senyum-senyum sendiri sepanjang jalan.
"Bi'! Bibi' tadi ngapain di dalam kamar Kak Sesil?" tanya Arga sedikit berbisik.
"Bi'! Bibi' tadi ngapain di dalam kamar Kak Sesil?" tanya Arga sedikit berbisik.
"Bibi' hanya antar makanan untuk Nak Sesil," jawab Bi' Laras.
"Ummm, Bi'! Kira-kira Bibi' liat sesuatu yang aneh di sprai ngak?" bisik Arga sambil was-was melihat keseliling jangan sampai ada yang mendengar.
"Ada sih!" sahut Bi' Laras semakin mendekatkan wajahnya ke arah Arga.
"Warna apa Bi'?" tanya Arga penasaran
"Warna darah gitu," jawab Bi' Laras, yang sudah masuk ke mode ngegosip.
Arga dan Bi'Laras mengosip bahkan di saat Bi'Laras tengah memasak mereka berdua masih saja mengosip, masih dengan tema yang sama hingga Sesil dan Radit tiba di meja makan, mereka semua makan dengan tenang terkecuali Arga yang salting ketika Sesil melihat ke arah nya.
"Bi' saya bawa Sesil ke rumah sakit dulu, mungkin kita malam baru pulang jadi tidak usah tunggu kita kalau mau makan," ucap Radit lalu menggendong Sesil ala bridel stayl menuju mobil.
__ADS_1
Setelah mereka memeriksa luka Sesil di rumah sakit Radit kemudian membawa Sesil ke kantornya karena ada beberapa urusan di kantor, setibanya di kantor Sesil tidak ingin di gendong dan ngotot untuk duduk di kursi roda saja, dengan terpaksa Radit menyetujui kemauan Sesil.
Sudah satu jam lamanya Radit berkuak dengan semua urusannya hingga membuat Sesil merasa bosan walau Radit sudah memenuhi semua ke inginannya, karena mengantuk Sesil meminta Radit untuk memindahkannya ke sofa agar dia bisa tidur.
Karena tidak tega melihat Sesil yang tidur di sofa kemudian memerintahkan Rati untuk membeli kasur lipat, bantal dan selimut dengan cepat, setelah beberapa menit Rati kembali dengan di ikuti oleh beberapa pria untuk membantunya membawa kasur lipat dan yang lainnya.
Setelah semua sudah di rapikan Radit kemudian memerintahkan untuk para pegawai pria agar keluar dan melanjutkan kerjaan mereka, Radit perlahan mengangkat tubuh Sesil dan di taruhnya di kasur lipat yang sudah di siapkannya, Radit mengelus lembut pipi Sesil lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi setengah wajah Sesil.
"Aku berjanji akan selalu menjagamu," gumam Radit.
"Bos! ini sudah waktunya untuk meeting," seru Rati yang membuyarkan lamunan Radit.
"Baiklah."
"Rati! utus seseorang untuk berjaga di depan pintu, jaga dengan ketat ruangan ini jangan sampai ada yang berani mencelakai Sesil," ucap Radit, lalu bangkit dari duduknya setelah menaruh sebuah surat di samping Sesil tidur.
"Baik Bos! saya akan segera melaksanakannya dengan baik," sahut Rati menunduk hormat.
Rangga berjalan menuju Sesil yang masih tertidur pulas lalu berjongkok di samping Sesil, dengan perlahan Rangga mengelus lembut pipi Sesil, dengan itens Rangga menatap wajah Sesil, Rangga mengambil tangan Sesil lalu mencium punggung tangan Sesil dengan lembut setelah itu Rangga mencium jidat bahkan Rangga menngecup sekilas bibir Sesil yang bahkan Radit belum pernah melakukannya.
"Sesil kenapa kamu anak dari pasangan itu!! aku sangat saya padamu tapi kenap? kenapa harus ada dendam di antara keluarga kita?"
"kenapa? kenapa? ... aku harus ikut campur dengan insiden itu? ...,maafkan aku Sesil aku ngak bisa menentang keluarga jika tidak kamu akan celaka, aku terpaksa melakukan ini semua....," lanjut Rangga dengan penuh penyelasalan sambil menggenggam erat serta menciumi tangan Sesil.
"Setelah aku menyelesaikan tugas ini, keluargamu akan selamat dari ancaman keluaraga Wijaya, tapi!! kita tidak bisa bertemu kembali karena aku bakalan pergi dari sini," ucap Rangga sembari mengelus pipi Sesil dengan senyuman lembut terukir di wajah Rangga.
"Tapi rencana kali ini akan memakan korban jiwa dari salah satu keluargamu, aku tidak rela jika kamu yang harus aku celakai, tapi tenang saja aku akan menyelamatkan mu walau aku harus membunuh sekalipun," ucap Rangga dengan serius lalu mengembalikan tengan Sesil ke tempatnya semula.
"Aku akan selalu melindungimu apapun caranya." Rangga kemudian keluar pintu dengan tenang dan aman karena orang suruhan Rita belum sampai.
__ADS_1
Tapi saat hendak menuju loteng Rangga ketahuan oleh beberapa penjaga yang di utus, dengan cepat Rangga berlari sambil mengisyaratkan agar orang-orangnya segera menghidupkan helikopter. "Hidupkan sekarang, gue sudah hampir sampai, gue ketahuan."
Rangga terus berlari hingga akhirnya sampai dan langsung naik ke helijopter, para penjaga Sesil hanya melihat kepergian helikopter Rangga sembari mengabarkan kepada Rati, mendengar kabar itu Rati kemudian berbisik ke pada Radit karena kondisi mereka yang tengah rapat.
"Bos, para penjaga melaporkan kalau ada penyusup yang masuk ke ruangan Bos!" Sedikit ada rasa ragu dari Rati, tapi apa boleh buat dia harus melaporkan apa yang sudah terjadi.
Mendengar hal itu Radit langsung memukul meja hingga seisi ruangan rapat kaget. "Rapat sampai di sini dulu, kita lanjutkan lagi nanti." Radit keluar dari ruang rapat dengan menahan amarahnya yang sudah hampir meledak.
"Siapa lagi yang mau mencelakai kamu Sesil?" batin Radit merasa gelisah lalu mempercepat langkahnya.
Setibanya di depan ruangannya Radit melihat para anak buahnya yang menundukkan kepalanya masing-masing karena merasa bersalah dan takut akan di pecat, Radit menatap marah ke arah para anak buahnya.
"Kalian kalau mau kerja yang becus, kalau Sesil kenapa-napa bagaimana?" bentak Radit meluapkan setengah emosinya.
"Bos, Nyonya menunggu anda di dalam," ucap salah satu anak buah Radit yang memberanikan dirinya untuk berbicara.
"Sesil!!" batin Radit, seketika teringat akan Sesil yang masih barada di ruangannya.
"Rati, urus mereka." Radit langsung masuk kedalam ruangannya dengan buru-buru.
"Sesil kamu tidak papa kan?" tanya Radit khawatir.
"Gue ngak papa," sahut Sesil dengan sebuah senyuman manis yang langsung membuat emosi Radit mereda.
"Syukurlah."
"Tapi kamu ngak di apa-apain kan?" tanya Radit masih khawatir.
"Ngak papa,... Umm lo sibuk ngak sekarang?" Sesil tiba-tiba bertanya hingga membuat Radit salah tingkah.
__ADS_1
"Ngak, aku lagi luang kok, kamu mau aku antar kemana?" sahut Radit lalu duduk di sebelah Sesil.
"Aku mau lo nemenin gue ke suatu tempat," ucap Sesil.