Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
BAB 69. BAB TERAKHIR.


__ADS_3

(1836) kata.


Beberapa bulan kemudian...


Malam hari..


Kini Sesil tengah berada di rumahnya sambil memakan buah-buahan dan menonton serial anime di ruang keluarga, entah kenapa beberapa hari terakhir Sesil mulai menyukai anime, Sesil yang melihat Radit hendak pergi kemudian langsung memanggil Radit.


"Radit," panggil Sesil yang mendapat tolehan dari Radit.


"Ada apa sayang," sahut Radit sambil berjalan menuju Sesil.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Sesil kepo.


"Aku mau jemput Arga di tempat biasa dia balapan liar," jawab Radit sambil mengelus gemas rambut Sesil.


"Jangan di acak-acak, kan jadi berantan jadinya," ucap Sesil sambil menggembungkan pipinya membuat Radit gemas di tambah karena berat badan Sesil naik pesat membuat pipinya semakin cubby.


"Maaf ya sayang, tapi kamu kayak gini jadi makin imut tau..." Radit lalu mencubit gemas kedua pipi Sesil membuat Sesil sedikit berteriak karena risih.


"Ihhhhhh sakit tau..." ucapan Sesil terhenti saat merasakan ada yang meraba perutnya, seketika Sesil melihat dengan tatapan lembut dan sebuah senyuman manis.


"Sayang tunggu papah pulang ya, jangan nakal-nakal di dalam... Pokoknya kamu cepetan keluarnya ya sayang," ucap Radit lalu mencium perut buncit Sesil penuh kasih sayang.


"Radit aku ngak mau kamu pergi, kamu jangan pergi ya aku takut sendiri..." ucap Sesil menatap Radit dengan tatapan sendu.


"Sayang, aku cuman mau jemput Arga aja kok terus pulang... Aku ngak mungkin ninggalin kamu sama calon Baby L, disini." Radit mengelus pelan pipi Sesil membuat Sesil memejamkan matanya ingin merasakan lembutnya usapan tangan Radit seolah dia tidak akan merasakannya lagi.


"Lagian dirumah kan ada Bunga dan nanti aku akan minta Josua dan kak Alfin untuk datang ke sini agar kamu tenang," lanjut Radit lalu mencium pucuk kepala Sesil.


"Pokoknya aku ngak mau orang lain yang nemanin, kan bisa orang lain yang jemput Arga, kanapa harus kamu? Kenapa harus kamu?" tanya Sesil dengan wajah cemasnya.


"Sayang, aku di panggil karena ada urusan lain juga yang menyangkut permasalahan kantor," ucap Radit menjelaskan dengan nada meyakinkan.


"Aku ngak mau jauh dari kamu sayang, aku takut kehilangan kamu, aku ngak mau nanti kamu...." Radit lalu menutup mulut Sesil menggunakan satu jarinya.


"Aku ngak akan kemana-mana sayang, aku ngak bakalan ninggalin kamu, aku akan kembali." Radit terus berusaha meyakinkan Sesil walau terlihat jelas rasa tidak rela terpancar jelas di wajah Sesil.


"Tapi...," ucap Sesil ragu.


"Sayang, masa Papah mau pergi jemput paman kamu, Papah dilarang sama Mama kamu sih," ucap Radit mengadu pada calon buah hatinya itu tepat di depan perut buncit Sesil.


Mendengar Radit yang mengadu pada sang calon buah hati, Sesil tersenyum merasa Radit sangat lucu dan ini adalah pertama kalinya Radit mengadu seperti itu pada calon buah hatinya, Sesil lalu mengelus lembut rambut Radit membuat Radit mendongak ke arah Sesil.


"Kamu boleh pergi tapi jaji pulang dengan selamat sampe di rumah," ucap Sesil dengan nada manja sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Baiklah aku janji padamu," sahut Radit lalu mengaitkan kedua jari kelingking mereka membuat Sesil sedikit merasa aman.


"Papah pergi ya sayang," ucap Radit lalu mencium perut Sesil empat kali.


"Aku pergi dulu ya sayang, ingat nama anak kita kelak yang aku sudah tetapkan ya jagan pernah di ubah," lanjut Radit lalu mengecup kening Sesil lalu beranjak pergi tapi tertahan oleh Sesil yang memegang tangannya.


"Sayang, aku pasti pulang kok," ucap Radit lalu memeluk Sesil dengan perasan resah Sesil membalas pelukan Radit dan enggan untuk melepaskannya.


Setelah sekian lama membujuk akhirnya Radit berhasil masuk kedalam mobilnya, setibanya di mobil Radit menunggu kedatangan Alfin dan Josua, tidak lama menunggu yang di tunggu pun tiba, setelah memberitaukan dia mau kemana dengan segera Radit menginjak pedal gasnya melajukan mobilnya menuju tempat yang di tuju, sekitar tiga puluh menit akhirnya Radit sampai di tempat balap liar Arga.


Radit kemudian mencari keberadaan Arga di sekitar jalan dan arena balap, tidak lama kemudian Radit mendengar ada suara motor dari arah samping dan ternyata itu adalah suara moge milik Arga lalu di susul oleh Yogi dan yang lainnya, dengan segera Radit menghampiri Arga yang bahagia atas kemenagannya.


Sementara itu tiba-tiba saja perut Sesil merasa mules, lalu tidak lama kemudian perutnya terasa sakit, mendengar teriakan Sesil Josua, Alfin dan Bunga segera menghampiri Sesil, mereka semua terlihat panik karena tidak gau apa-apa, mata Bunga terbuka lebar saat melihat air ketuban Sesil sudah pecah membasahi sofa dan karpet dengan segera Josua menggendong Sesil menuju mobil sedangkan Bunga menelfon Radit dan yang lain agar segera kerumah sakit.


Saat menerima telfon wajah bahagia terpancar di wajah Radit dengan segera Radit memberitau Arga berita bahagia itu membuat Arga kegirangan dan langsung memeluk Radit kegirangan untuk yang pertama kalinya, kemudian memberitau pada semua orang di sana kalau dia akan segera menjadi Paman lagi.


"Gue bakalan menjadi sorang Paman lagi..." Arga memberitaukan pada semua orang di sana dengan gembira dan antusias.


"Kalau begitu kita harus segera menuju rumah sakit Kasih," ucap Radit dengan wajah yang berseri-seri.


"Gue bakalan jadi seorang ayah.." batin Radit kegirangan lalu menuju mobilnya untuk segara menuju rumah sakit.


Sedangkan kini Sesil sudah masuk kedalam ruang persalinan yang di tamani oleh Bram karena Radit tidak ada di sana, semuanya nampak khawatir menunggu di luar ruang persalinan.


Radit nampak bahagia menuju mobilnya tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu pada Arga, Radit bergegas kembali ke Arga tapi saat hendak menuju Arga, Radit melihat lampu mobil yang mengarah pada Arga yang bersiap menjalankan mogenya, Radit lalu berteriak memperingati Arga tapi saat Arga handak menghindar ada seseorang yang mendorong Arga hingga terjatuh bersama mogenya.


Melihat itu Arga dengan kakinya yang sudah terluka berusaha untuk menggapai Radit yang sudah terkapar, orang-orang di sekeliling langsung membantu Radit dan Arga serta mengejar mobil tersebut, setelah itu mereka segera membawa Radit dan Arga menuju rumah sakit terdekat dan kebetulan rumah sakit paling dekat adalah rumah sakit Kasih.


Arga segera memberitaukan tentang kejadian itu pada Alfin, mendengar itu Alfin langsung gelisah, karena kepo dengan apa yang di dengar oleh Alfin Rasya, Reskiya dan Josua bertanya.


"Ada apa?" tanya Reskiya dan Rasya bersamaan.


"Radit... Radit di tabrak mobil," jawab Alfin lesu yang langsung terduduk di kursi tunggu.


"Lalu bagaimana ke adaan Radit sekarang?" tanya Ratna khawatir.


"Sekarang dia tidak sadarkan diri... Kepalanya terbentur oleh beton pembatas jalan dan ..., sekarang mereka sedang menuju ke sini," jelas Alfin frustasi dengan mata yang hampir berkaca-kaca.


Mendengar itu Ratna langsung terduduk lemas di ikuti dengan Bimo yang langsung lesu di tempat duduk, kemudian setelah selesai menelfon seseorang, Josua langsung meninggalkan yang lainnya hendak menunggu kedatangan Arga dan Radit dengan di temani oleh suster dan dokter keluarga Martadinata yang langsung datang ketika di telfon oleh Arga.


Baberapa menit kemudian Radit dan Arga tiba, Radit langsung di bawa menuju UGD dengan tergesa-gesa, Arga tidak memperdulikan lukanya dan terus berjalan mendampingi Radit yang tidak sadarkan diri, tidak lama kemudian Radit membuka matanya perlahan membuat Arga dan yang launnya memiliki harapan.


"Arga... Gue ngak mau lo m.. merasa... bersalah, ini bukan salah lo," ucap Radit dengan suara serak dan kurang jelas.


"Jo... Josua, gue titip Sesil sama lo..., gue mau liat anak gue tumbuh sehat dari alam sana," lanjut Radit yang tertuju pada Josua.

__ADS_1


"Lo ngomong apaan sih, lo pasti sembuh, cepetan suster, dimana sebenarnya ruang UGD," ucap Josua kesal.


"Lo ngak boleh meninggal, gue ngak mau liat kak Sesil jadi janda dan Keponakan gue ngak punya seorang ayah, jadi lo harus bertahan," ucap Arga kesal.


Sementara Radit yang di bawa menuju ruangan UGD kini Sesil berhasil melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki dengan sehat tapi ternyata Sesil melahirkan bayi kembar dan setelah beberapa menit kemudian lahir kembali seorang bayi perempuan, di saat tangis kedua bayi tersebut memenuhi ruangan persalinan, Radit mengbembuskan nafas terakhirnya tepat di pintu ruang UGD.


"Radit lo harus bangun.... Radit lo sudah menjadi seorang ayah..." Josua menggoyang-goyangkan tubuh Radit yang sudah tak bernyawa.


"Radit lo harus bangun," lanjut Josua kini sudah bercucuran air mata.


"Dasar brengsek, kanapa lo ngak nepatin janji lo," teriak Arga yang hampir memukul jasad Radit.


"Apa yang sudah terjadi? dimana Radit? Dia baik-baik saja kan?" tanya Aldo yang baru saja tiba.


"Lo liat sendiri, apa lo ngak punya mata ha!" teriak Arga emosi.


"Tuan muda sabar, jagan seperti ini jika tidak luka Tuan Muda akan bertambah parah," ucap Dokter keluarga Martadinata sambil menahan Arga.


"Ini semua salah gue... Ini semua salah gue.. Salah gue," ucap Arga yang mulai menyalahkan dirinya atas kematian Radit.


Perlahan Arga berjalan ke arah dinding kemudian menandukkan kepalanya di dinding dengan cukup keras, melihat itu Alfin yang baru saja datang langsung menarik dan meninju wajah Arga hingga tersungkur, sedangkan Ratna dan Bimo tak kuasa melihat jasad Radit yang hendak di tutupi oleh kain putih.


Ratna menangis sejadi-jadinya begitu pula dengan Bimo yang sudah tidak kuat menahan tangisnya, Ratna menagis di pelukan Bimo masih tidak percaya anak nya sudah pergi meninggalkannya. karena terlalu lelah Ratna jatuh pingsan, Arga menyalahkan dirinya sendiri, Josua pergi menemui Sesil yang sudah di pindahkan ke ruangan inap.


"Apa lo kira dengan lo nyakitin diri sendiri bakalan buat Radit senang! Bakalan buat dia hidup lagi haaa!!" Alfin membentak Arga dengan emosi membuat Arga terdiam.


"Apa lo sudah gila? Bagaimana perasaan Sesil jika tau Suaminya meninggal setelah itu Adiknya! apa lo ngak pikir haaaa?" tanya Alfin emosi.


Sementara itu Sesil tengah menyusui bayi perempuannya dengan senyuman bahagia yang terpancar di wajahnya, sedangkan yang lain tersenyum paksa berusaha untuk nampak natural hingga Sesil bertanya tentang Radit pada Josua.


"Gue ngak liat Radit dari tadi, dia sekarang dimana? Udah balik dari jemput Arga kan?" tanya Sesil pada Josua yang membuat Reskiya dan Rasya tidak dapat menahan tangis mereka.


"Gue ngak sabar mau liat dia gendong anak-anak." Dengan senyum manis yang terpancar di wajahnya Sesil terus mengoceh tentang Radit, itupun menjadi alasan untuk Reskiya dan Rasya menangis.


"Ada apa? Kenapa kalian berdua menagis? Ada apa?" tanya Sesil dengan wajah polosnya.


"Ngak papa, kita nagis karena kita bahagia akhirnya kita jadi Bibi' kan Ras," sahut Reskiya lalu menyenggol bahu Rasya.


"Ah! Iya bener banget


Bimo kemudian mengambil bayi yang di pangku oleh Sesil lalu menaruhnya di samping sang Kakak, semuanya nampak ragu-ragu untuk mengatakan kebenarannya pada Sesil, kemudian Josua menguatkan dirinya dan mengatakannya, saat mendengar ucapan Josua tubuh Sesil seakan lemas tak berdaya, bagai di sambar petir tubuhnya terasa mati rasa, air matanya perlahan mulai membasahi wajahnya, senyumanya tergantiakan dengan suara tangis.


Dengan menggunakan kursi roda Sesil menuju tempat Radit saat ini, di sepanjang perjalanan Sesil menangis hingga sesegukan. Tibanya di samping jasad Radit tangisnya kembali pecah dan tidak terima akan kenyataan kalau suaminya kini telah pergi meninggalkannya untuk selamannya.


Sebulan setelah kepergian Radit, Sesil masih saja tidak terima, dan masih belum merelakan kalau Radit sudah tiada. Selama ini Sesil menganggap Radit pergi merantau di negri orang dan akan kembali suatu saat nanti.

__ADS_1


THE END


__ADS_2