
Mendengar jawaban dari Sesil, Reskiya hanya menggelengkan kepalanya tapi ternyata Reskiya juga setuju akan jawaban dari Sesil karena dia tidak ingin terikat oleh sebuah ikatan pernikahan karena pastinya ia tidak akan bebas lagi melirik bahkan dekat dengan banyak pria karena harus ada hati yang ia jaga.
"Tapi kenapa tadi Radit berjalan tergesa-gesa menaiki mobil dan lo juga tadi kenapa pakai selimut kayak gitu?" tanya Reskiya.
"Semuannya sangat aneh dan kebetulan, lo dengan selimut dan Radit yang berjalan tergesa-gesa masuk kedalam mobil," lanjut Reskiya.
"Itu mungkin hanya sebuah kebetulan saja, tadi dia sangat terburu-buru karena di panggil oleh kak Alfin," jawab Sesil meyakinkan.
"Gue jadi bingung kenapa harus pakai kontrak segala, Bikin gue greget aja kan jadinya gue ngak jadi masuk kondangan deh," ucap Reskiya masih bingung dengan pilihan yang Sesil ambil.
Malam hari pun tiba ....
Di malam yang sunyi yang hanya di sinari oleh rembulan malam, Radit termenung di sebuah batang pohon tumbang yang terdapat di tepi danau, Radit menatap langit malam dengan tatapan kosong, angin malam yang menerpa tubuh menusuk hingga tulang membuat Radit memeluk dirinya sendiri.
"Gue berharap Sesil bakalan membuka hatinya buat gue," batin Radit sambil memejamkan matanya masih mengarah ke atas.
"Tapi bagaimana nanti jika Sesil menemukan cintanya dan mengakhiri kontrak lalu meninggalkan gue sendiri di sini!" batin Radit gusar.
"Hahhh, sudah berapa lama gue di sini?" tanya Radit entah pada siapa.
"Ah, gue di sini dari tadi siang ternyata, sekarang sudah jam berapa ya?" ucap Radit yang sudah seperti orang linglung.
"Ternyata sudah pukul 22:13, sudah malam ya? kira-kira Sesil sedang berbuat apa ya?" ucap Radit menatap pantulan cahaya bulan dari air danau.
"Sesil, gue lupa kalau saat ini gue sudah jadi suaminya dan saat ini Sesil sedang berada di rumah sendirian," ucap Radit kemudian langsung spontan berdiri saat menginggat kalau Sesil berada di rumah sendirian.
Dengan tergesa-gesa Radit menyalahkan mesin mobilnya kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi, yang ada di pikirannya saat ini adalah keselamatan Sesil semata, tapi tidak lama kemudin Radit memperlambat laju mobilnya secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Mengapa gue harus tergesa-gesa kita hanya sekedar terikat kontrak saja bukan," Radit tersenyum frustasi sembari menatap lurus kedepan.
"Argggh, dasar bo*oh, tapi lo cinta sama dia kan!" ucap Radit kesal pada dirinya sendiri.
Radit kemudian menambah laju mobilnya memecah jalan yang sunyi menuju rumah barunya yang kini ia tempati bersama dengan pujaan hatinya. Saat masuk kedalam pekarangan rumah Radit sangat terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini, jantungnya berdegup kencang, matanya melebar, tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
Tringgg tringggg...
Radit merogoh ponselnya kemudian menaruhnya di telingannya, rasanya berat mengangkat benda pipih tersebut, Radit hanya terdiam saat orang yang menelfon berbicara menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan hingga Radit mendengar beberapa kata yang membuatnya terkaget.
"Saat ini Sesil sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit HarpanMawar,"
Tanpa basa-basi Radit langsung masuk kedalam mobilnya lalu membuang sembarang ponselnya ke arah kursi belakang kemudian langsung bergegas menuju rumah sakit HarpanMawar.
Setibanya di sana Radit langsung bergegas masuk ke rumah sakit dan ternyata sudah ada Raka yang menunggu kedatangannya sedari tadi karena Raka lah yang telah menelfon Radit tadi, mereka berdua menyusuri setiap koridor hingga sampai di ruangan rawat Sesil, di sepanjang perjalanannya tampak jelas raut kekawatiran di wajah Radit.
"Gimana keadan Sesil saat ini? Apakah dia sudah siuman?" tanya Raka pada yang lainnya dan hanya di tanggapi dengan gelengan kepala.
"Dasar Radit b***g***, berani-beraninya dia meninggalkan kak Sesil sendirian di rumah, untung saja ada kak Rangga yang segera datang untuk menolong," ucap Arga kesal.
Radit yang hendak masuk kemudian langsung mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Arga barusan, Radit mundur perlahan lalu terduduk di kursi tunggu kemudian tertunduk meratapi kesalahannya.
"Arga, benar kalau semua ini adalah salah gue," gumam Radit kemudian menjambak rambutnya dengan kuat.
"Tidak ada gunanya lo menyesal saat ini, lebih baik lo masuk dan hadapi," ucap Alfin yang baru saja keluar dari ruangan Sesil.
Radit mengangkat kepalanya melihat siapa yang tengah berbicara dengannya saat ini, "Abang!" panggilnya lirih.
__ADS_1
"Masuk dan hadapilah, masalah tidak akan selesai dengan sendirinya," ucap Alfin dengan senyumnya.
"Saat ini lo sudah menjadi suami dari orang yang lo cintai dan Abang tau kalau Sesil adalah orang yang akan di jodohkan ke Abang," sambung Alfin kemudian duduk di samping Radit sambil meletakkan satu tanggannya di bahu Radit.
"Lo tau ngak sih, gue pernah ada niat untuk merebut Sesil dari lo, tapi karena gue ingat lo adik gue yang paling tampan setelah gue, akhirnya gue urungin niatan itu. Karena gue tau kalau dia bakalan nemuin gue," lanjutnya kemudian bersandar di sandaran kursi.
"Lo itu harus berubah, lo ngak bisa terus-terusan lari dari masalah lo," ucap Alfin.
"Ini saatnya untuk membuktikan kalau lo itu pria sejati karena pria sejati tidak pernah lari dari tanggung jawab dan masalahnya, mau seberat apa pun itu lo harus tetap hadapin jangan terus menghindar," lanjut Alfin kemudian menepuk bahu Radit.
"Ini saatnya," ucap Alfin meyakinkan.
"Makasih Bang atas nasehatnya, sekarang gue bakalan masuk dan untuk apa yang menanti itu urusan kedua," sahut Radit kemudian bangkit dari duduknya.
"Disini lo ternyata!!" Arga seketika langsung mencengkram baju bagian leher Radit dengan geram.
"Arga bentar, lo harus tenang ngak boleh terbawa emosi," ucap Alfin yang sontak langsung berdiri menghentikan tindakan Arga yang hendak meninju wajah Radit.
"Argggghhh," rancau Arga kemudian melepaskan cengkramannya.
"si*l, untung ada kak Alfin kalau tidak udah babak belur lo," ucap Arga kesal.
"Mengapa harus dia yang menjadi suami Kak Sesil? yang seharusnya menjadi pendamping Kak Sesil itu harusnya Kak Alfin," keluh Arga kemudian kembali ke dalam ruangan rawat Sesil.
"Sepertinya lo harus membersihkan nama lo di mata Arga, karena dia lumayan berpengaruh dalam membuat keputusan di keluarga Sesil," saran Alfin.
"Kalau gitu gue balik dulu, mau ke kantor," ucap Alfin kemudian meninggalkan Radit sendirian.
__ADS_1
"Gue ngak boleh nyerah, gue sudah sampai di tahap ini walaupun ini semua hanya samdiwara tapi ini adalah satu pencapaian berharga agar dapat memiliki Sesil seutuhnya," batin Radit meyakinkan dirinya, setelah sudah siap Radit kemudian membuka perlahan pintu ruang rawat Sesil.