Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
34, Kemalangan Josua


__ADS_3

Karena tidak merasa nyaman di rumah sakit Sesil meminta Josua untuk bertanya pada dokter atau perawat apakah dia sudah bisa pulang atau belum dan dengan senang hati Josua melakukannya, dari pada berada dalam satu ruangan dengan sepasang suami istri yang baru menikah.


"Sebaiknya lo istirahat aja dulu," saran Sesil.


"Ceritanya khawatir nih?" tanya Radit dengan senyum jailnya yang mengembang sempurna.


"Gue hanya takut nanti lo sakit terus gue yang harus urus lo," jawab Sesil dengan wajah datarnya.


"Makasih udah ngerawat gue," ucap Sesil sembari menatap mata Radit, dengan segera Radit bangkit dari duduknya dan memeluk Sesil yang sedang duduk di atas bankernya.


"Ini sudah tugas gue sebagai suami ...," ucap Radit kemudian mencium jidat Sesil sekilas.


"Sehat-sehat sayang," lanjut Radit sembari mengelus-ngelus pipi Sesil lembut.


"Perasaan apa ini? ..., sangat nyaman." Seperti ada rasa yang aneh tiba-tiba menghampiri tubuh Sesil.


"Sial, lagi-lagi aku menyaksikan siaran langsung drama romantis, kenapa aku begitu sial hari ini? apakah ini pertanda kalau aku harus segera mencari pendamping hidup?" Lagi-lagi Josua menyaksikan semua kejadian itu dari pintu.


"Josua, sejak kapan lo di sana? gimana kata dokter apa bisa pulang?" tanya Sesil dengan wajahnya yang masih tersipu.


"Sebentar dokter akan datang mengecek dan memutuskan akan pulang atau menginap lagi," jawab Josua sambil berjalan ke arah mereka berdua.


"Menginap lagi maksudnya, gue udah di rumah sakit lebih dari semalam?" tanya Sesil dengan wajah bingung.


"Yaah udah bisa di bilang lo ngak sadarkan diri sekitar dua harian," jawab Josua sembari menjatuhkan dirinya di sofa.


"Sebenarnya gimana kejadiannya sampai bisa dapur lo sampe kebakar gitu? padahal tidak ada bekas konsleting listrik dan kebocoran gas," Josua mencoba untuk mencari tau kebenarannya.


"Sebenarnya malam itu ...,"


Flas Back on

__ADS_1


22:04


Sesil kini tengah berkutik dengan laptop dan beberapa cemilan di kamarnya sambil menikmati drama korea, di tengah-tengah serunya Sesil menonton tiba-tiba ada suara barang-barang yang jatuh dari arah dapur, awalnya Sesil tidak menghiraukannya tapi lama kelamaan semakin banyak suara barang yang terjatuh.


Karena sudah tidak tahan dengan kesalnya Sesil berjalan perlahan keluar dengan memegang sapu dan juga sedia semprotan bubuk merica di saku bajunya, dengan perlahan namun pasti Sesil berjalan menuju dapur, Sesil sedikit terheran karena pintu dapur yang terbuka dan nampak ada asap hitam yang keluar.


Sesil segera bergegas mengambil alat pemadam api ringan (APAR) di dekat pintu kamarnya, Sesil langsung masuk ke dapur untuk memadamkan api, tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat isi dapur yang berantakan dan juga setumpuk kain yang di bakar di lantai, melihat itu seketika rasa tegang dan was-was hilang seketika hingga Sesil berjalan dengan santainya menuju setumpuk kain tersebut lalu memadamkannya.


"Hasss, siapa yang melakukan ini semua? kenapa bisa jendela ini terbuka?" Sesil kemudian menutup jendela yang terbuka lebar.


Tiba-tiba saja asap putih mulai menyelimuti dapur, Sesil pun berbalik badan bermaksud untuk melihat apa yang terjadi tapi apalah daya asap itu semakin tebal, Sesil menutup hidung dan mulutnya lalu berjalan sedikit menunduk dengan harapan bisa menghindari sedikit asap tapi malah sebaliknya asap di bagian bawah lebih tebal dan bau di banding di atas.


"Apa yang terjadi, di sini uhuk uhuk ...,"


"Bukannya apinya sudah gue padamkan, kenapa bisa berasap seperti ini? Jangan-jangan ada orang lain di balik semua ini!!" batin Sesil berusaha untuk melihat keseliling.


Sesil terus berjalan lurus menuju pintu dengan terus menutup hidung dan mulutnya hingga Sesil berhasil keluar dari dapur dan matanya terbelalak melihat rumahnya sudah penuh dengan api, Sesil kemudian bergegas menuju telfon rumah hendak menghubungi pemadam kebakaran saat Sesil hendak berbicara tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul belakang Sesil dengan keras hingga Sesil tidak sadarkan diri.


"Yang gue ingat waktu itu sebelum gue bener-bener ngak sadarkan diri hanya seorang pria berbadan tinggi, memakai hoodie berwarna nafi dan juga topi hitam polos." Sesil mencoba mengingat apa yang dia lihat saat itu.


"Lalu wajahnya?" tanya Josua.


"Wajahnya terhalang dengan topi yang dia pakai," jawab Sesil.


"Permisi, selamat pagi," sapa dokter dengan di ikuti dua suster di belakangnya.


"Pagi," jawab serentak mereka tiga.


"Maaf mengganggu, saya akan memeriksa Mbak Sesil," ucap dokter tersebut dengan ramah.


"Baik dok, silahkan,"

__ADS_1


Setelah Sesil selesai di periksa Radit langsung pulang untuk membereskan barang-barang mereka yang masih layak di gunakan di rumah mereka dan juga di rumah Bram kemudian langsung bergegas menuju vila yang di wariskan oleh kedua orang tua Sesil kepada Sesil yang terletak di bagian barat kota, sekitar dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di vila. Di sana sudah ada yang menunggu mereka yaitu Bi' Laras, Pak Bagas dan anak mereka Bunga yang selaku pengurus vila itu selama di tidak di huni oleh mereka.


"Selamat datang Tuan Radit,Non Sesil dan ... Tuan ...," sapa seorang wanita paruh baya yang terhenti saat hendak menyapa Josua dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Ah, Bi' Laras suka lupa sama nama aku, masa iya sama orang yang ngak pernah ketemu udah tau mamanya, ngak adil ini namanya," ucap Josua dengan memasang wajah seperti anak kecil meminta uang jajan.


"Bibi' benar-benar lupa, Non Sesil, pria yang tampan ini siapa ya?" tanya Bi' Laras masih dengan ekspresi bingung.


"Dia Josua, Bi' Laras." Hanya dengan beberapa kata itu membuat sebuah senyuman terukir indah di wajah Bi' Laras.


"Bibi' kenapa?" tanya Radit khawatir.


"Ngak papa, Bibi' hanya merasa senang bisa mendengar suara dari Non Sesil lagi," jawab Bi' Laras sembari menyeka air matanya.


"Sudahlah Bi' Laras tidak perlu menangis, Sesil baik-baik saja," ucap Sesil kemudian memeluk Bi' Laras dan dengan senang hati Bi' Laras menerima pelukan tersebut.


"Bibi' khawatir!, Bibi' dengar kabar kalau Non Sesil udah jarang senyum dan berbicara lagi, Bibi' takut Non kenapa-napa." Bi' Laras menangis di pelukan Sesil dan Sesil hanya bisa mengelus punggung Bi' Laras dengan lembut untuk menenangkan Bi' Laras.


"Udahan sedih-sedihnya, perut gue udah lapar nih, Bi' Laras udah masak kan?" ucap Josua sembari menarik kopernya menuju salah-satu ruangan.


"Ayo Non Sesil, Tuan Radit kita makan sama-sama, Bibi' baru saja selesai masak opor ayam dan tempe goreng kesukaan Non Sesil." Dengan antusias Bi' Laras menuntun Sesil dan Radit menuju ruang makan.


Setelah selesai makan Bi' Laras menunjukkan kamar mereka masing-masing, kali ini Sesil tidak bisa beralasan apa-apa untuk menghindari tidur satu kamar dengan Radit karena Sesil tidak ingin Bi' Laras tau kalau dia dan Radit hanya menikah kontrak saja, karena semenjak kematian kedua orang tuanya Sesil, Arga, dan Rika sudah menganggap Bi' laras dan Pak Bagas sebagai orang tua mereka.


Saat Sesil membuka pintu kamar mereka Sesil sangat terkaget dengan apa yang di liatnya tapi berbeda dengan Radit yang sebuah senyuman bahagia yang terukir di wajahnya.


#Kira-kira apa yang mereka lihat hingga membuat Radit tersenyum bahagia?


***Jangan lupa like ๐Ÿ˜‰ komen ๐Ÿ˜ƒ dan favoritnya ๐Ÿฅฐ...


karena semua itu sangat berarti bagi aku untuk semangat ๐Ÿ’ชnulis โœ๏ธ***

__ADS_1


__ADS_2