
Setelah lama menunggu Sesil akhirnya kembali dengan membawa sebuah tas ransel kecil di pundaknya.
" Sebaiknya kita bicarakan di cafe aja supaya lebih leluasa dan aman. " Usul Sesil.
" Bukankah kalau di cafe itu malah lebih tidak aman ya? " Tanya Radit.
" Kita bicaranya di ruangan kerja gue jadi aman. " Jawab Sesil yang berjalan ke arah mobilnya.
" Kita naik motor aja supaya cepat. " Saran Radit.
" Gak bisa gue pakai rok pendek jadi susah kalau mau duduk di motor, mana motor lo tinggi gitu lagi. " Ucap Sesil.
" Sesil apa kamu mau ke cafe? " Tanya Bram.
" Iya paman, ada apa ya? " Jawab sesil yang kemudian bertanya kembali.
" Paman mau minjam mobil kamu soalnya mobil paman lagi di servis. " Jawab Bram.
" Ummm tapi paman.. " Ucap Sesil.
" Kamu suruh Reskiya atau Rasya aja yang jemput kamu. " Saran Bram.
" Umm gak usah deh aku naik motor aja sama Radit. " Saut Sesil.
" Radit..? " Tanya Bram.
" Iya om, selamat pagi. " Sapa Radit.
" Oh maaf saya tidak melihat kamu tadi. pagi juga, mau ke cafe juga ya? " Tanya Bram.
" Iya om, saya ada perlu sama Sesil nya. " Jawab Radit.
" Oh, sudah sampaikan yang om bilang kemarin itu? " Tanya Bram.
" Sudah om , sudah saya sampaikan. " Jawab Radit.
" Oke saya tunggu jawabannya, kalau begitu saya berangkat dulu karena sudah siang. " Ucap Bram.
" Baik om, hati-hati di jalan om. " Squt Radit.
" Apa yang mau di sampaikan? " Tanya Sesil.
" Kepo. " Jawab Radit mencubit hidung mancung Sesil, Kemudian Radit langsung menyalahkan motornya.
" Ayo naik. " Ajak Radit.
" Pelan-pelan bawa motornya. " Ucap Sesil.
__ADS_1
" oke, nih pakai helem jangan lupa di kancing di bawahnya. " Ucap Radit kemudian memberikan helem ke Sesil.
Sesil pun mengambil helem tersebut lalu memakaiya, Radit yang melihat Sesil kesusahan memakai helem pun turun dari motornya.
" Bagai mana sih, biar pasang ginian aja susah banget. " Ucap Radit yang kemudian memasangkan dengan baik helem Sesil.
" Emang lo kalau ke kampus gak pernah pakai helem apa? " Lanjut Radit.
" Yaa pakai tapi bukan yang seperti ini. " Jawab Sesil.
Setelah sudah terpasan lalu dengan susah sesil naik ke atas motor Radit, karena motor Radit tinggi dan Sesil memakai rok pendek, karena merasa kesal Sesil pun memegang bahu Radit dengan kencang hingga membuat Radit meringgis kesakitan karena kuku sesil yang lumayan panjang, dengan begitu barulah ia bisa naik.
Kini mereka sudah sampai di cafe, saat ini cafe sedang ramai, semua karyawan sibuk, karena cafe mereka kekurangan karyawan Reskiya dan Rasya pun ikut turun tangan dalam melayani para pembeli.
" Hah.. hah.. akhirnya datang juga lo, cepetan ganti baju bantu kita, eh lo juga ikutan bantu ya. " Ucap Rasya.
" Eh Radit lo ikutan juga ya, lo gantian di sebelah kiri di sana sudah ada Rangga dan yang lainnya. " Sambung Reskiya.
Mereka berdua pun pergi untuk ganti pakaian, kini mereka sudah memakai seragam untuk pelayan.
" Mari kita bantu para Putri kita. " Ucap Rangga serius.
" Oke ayo kita bertempur. " Lanjut Aldo.
Mereka langsung membantu Reskiya, Sesil dan Rasya, dengan keberadaan mereka berenam cafe menjadi semakin stabil dan karena ada mereka pula cafe menjadi semakin ramai.
Tidak lama orang tersebut menarik Rangga dan pergi keluar cafe, tetapi tidak ada tanda-tanda penolakan dari Rangga saat ia di tarik.
" Lo ngapain narik gue? " Tanya Rangga.
" Lo Ingat tugas lo gak sih? kan sudah di bilang lo harus misahin Sesil dan Radit. " Ucap orang tersebut.
" Iya gue ingat. " Jawab Rangga malas.
" Terus lo ngapain dari tadi hanya melayani orang dan tidak berusaha memisahkan mereka. " Ucap Orang tersebut.
" Sabar kalau lo minta bantuan gue. " Ucap Rangga.
" Ingat ya kalau lo sampai gagal, ada bayaran untuk itu. " Ucap Orang itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Rangga di depan cafe.
" Arrrrrrggghhhh, kenapa dia harus terlibat dalam masalah itu. " Batin Rangga frustasi kemudian masuk kembali dan bersikap kalau tidak terjadi apa-apa.
" Lo dari mana aja sih, lagi rame gini lo malah ngilang? " Tanya Aldo.
" Gue tadi dari luar, cari udara segar di dalam sumpek gak bisa napas gue. " Jawab Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Yasudal lah, sekarang mari kita lanjutkan lagi. " Ucap Aldo.
__ADS_1
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka dan sesekali Rangga berusaha untuk dekat dengan Sesil dan menjauhkannya dengan Radit.
Sesil yang mulai tidak nyaman dengan sikap Rangga pun mulai menghindar dan berusaha untuk tidak mempardulikan sikap Rangga yang aneh.
" Kenapa ya kok sikap Rangga berubah gini sikapnya jadi aneh , gue jadi gak nyaman sama dia, ya udah deh yang penting sekarang gue fokus ke cafe dulu. " Batin Sesil.
Setelah pengunjung mulai sepi, Reskiya pulang karena ada urusan mendesak di rumahnya, sedangkan Rasya pergi bersama Raka untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka yang tinggal tiga hari lagi, sedangkan Aldo pergi ke kantor ayahnya, lalu Farhan dan Ben keluar karena ada urusan pribadi masing masing dan ini kesempatan bagus untuk Sesil membicarakan tentang kontrak bersama Radit.
Tetapi saat mereka hendak pergi ke ruangan Sesil Rangga menghentikan langkah mereka dan mengajak Sesil dan Radit untuk duduk bersama.
" Umm makasih ya kalian udah mau bantuin kita. " Ucap Sesil.
" Iya sama-sama, gak perlu sungakan kali sama gue. " Ucap Rangga.
" gue pergi ke toilet bentar ya. " Ucap Sesil kemudian mengisyaratkan Radit untuk menunggu di ruangannya.
" oke. " Jawab Rangga dan Radit.
" eh gue juga mau pergi dulu ya. " Ucap Radit. kemudian pergi ke luar cafe supaya tidak di curigai oleh Rangga.
Kemudian Rangga menyusul Sesil ke toilet, dia sebenarnya tidak mau melakukan hal ini tetapi dia harus.
Rangga pun masuk ke dalam toilet wanita, untung saat itu keadaan toilet sedang sepi, ia mencari keberadaan Sesil dan ternyata saat ini Sesil tengah berjalan ke arahnya.
" Sedang apa lo di sini? " Tanya Sesil.
Rangga tidak menjawab pertanyaan Sesil tetapi malah mendekat ke arah Sesil yang membuat sesil mundur hingga Sesil tersandung dan jatuh tersandar di dinding.
" Rangga apa yang lo mau lakuin, jangan macam-macam ya. " Ucap sesil yang mencoba berdiri namun usahanya gagal karena Rangga sudah menggengam lengan kiri Sesil.
" Maaffin gue Sesil, maaf untuk semuanya, gue terpaksa ngelakuin ini, gue seneng bisa kenal lo dan gue bahagia lo udah anggap gue sebagai temen. " Ucap Rangga dengan suara serak dan mata yang sudah agak memerah karena menahan tangis.
" Apa yang maksud? " Tanya Sesil tidak mengerti.
" Maafin gue Sesil....." Ucap Rangga.
" Iya gue maaffin tapi gak gini juga, kan bisa di bicarakan dengan baik-baik. " Ucap Sesil yang berusaha untuk melepaskan genggaman Rangga.
" Gue minta maaf karena keberadaan di dekat lo, adik lo selalu mendapatkan masalah. " Ucap Rangga.
" Apa maksud lo sih, lepasin gue dulu baru kita bicarakan dengan ba... "
Kata Sesil terputus karena Rangga sudah membungkam mulut Sesil dengan cara menciumnya, mata Sesil membesar dan tangannya sudah ia kepal dengan sangat kuat menahan amarahnya.
Dengan sekuat tenaga Sesil mendorong Rangga hingga terjatuh ke lantai, Sesil menatap jijik kearah Rangga yang sudah ter dusuk di lantai, tidak percaya, marah, sedih, semua bercampur aduk di dalam diri Sesil lalu Sesil keluar dengan keaadan marah.
" Sesil maaffin gue, lebih baik lo benci gue dari sekarang dari pada nanti ketika lo tau kebenarannya..... lo ngak bakalan baik baik saja. " Batin Rangga.
__ADS_1