Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
32, Reskiya Dan Alfin 2


__ADS_3

Sekarang mereka berdua sudah berada di dalam warung sambil menunggu pesanan mereka datang, Reskiya masih saja bingung mengapa Alfin berhenti di sini.


"Kak Alfin, kita ngapain sih di sini?" tanya Reskiya sedikit berbisik.


"Kita sekarang ada di mana?" tanya balik Alfin.


"Kita sekarang ada di warung makan," jawab Reskiya polos.


"Orang biasanya ngapain datang di warung makan?" tanya Alfin lagi.


"Ya makan lah, masa mau karaukean sih," jawab Reskiya.


"Jadi intinya sekarang kita di sini makan dulu, karena gue sudah lapar dari tadi belum makan," ucap Alfin sambil menarik mangkok bakso miliknya.


"Lo ngak mau makan?" tanya Alfin sedikit kurang jelas karena sedang mengunnyah.


"Ngak, gue ngak mau makan jam segini, takut gemuk," jawab Reskiya kemudian memainkan ponselnya.


"Mas ini mau di makan atau tidak ya?" tanya Ibu penjual bakso tersebut.


"Oh, di makan kok Bu' tenang aja, kalau ngak di makan juga nanti saya bungkus bisa kan?" sahut Alfin ramah.


"Kalau tidak di makan supaya Ibu berikan ke anak ibu," ucap Ibu penjual bakso itu.


"Memangnya baksonya tinggal ini ya bu'?" tanya Reskiya.


"Enggak juga sih mbak," sahut Ibu' penjual bakso.


"Maaf nih ya Mas, Mbak, gomong-ngomong ini berdua pasangan atau bukan?" tanya Ibu penjual bakso.


"Oh, kita ini pasangan suami istri," jawab Alfin yang sepontan mendapat pelototan dari Reskiya.

__ADS_1


"Ohhh gitu ya, serasi banget Mas sama Embaknya."


"Kalau begitu Ibu' tinggal dulu ya makan saja pelan-pelan Ibu' masih lama nutup warungnya," ucap Ibu' penjual bakso dengan memberikan senyum ramah.


"Lo beneran ngak mau makan? enak loh baksonya. kalau lo ngak mau makan biar gue yang habisin," tanya Alfin yang sudah memasukkan bakso terakhirnya kedalam mulutnya.


"Tiba-tiba gue lapar," ucap Reskiya kemudian menarik mangkok yang berisi bakso dan langsung melahapnya.


"Emang ngak takut gemuk apa, makan tengah malam begini?" tanya Alfin menggoda Reskiya.


"Bodo ah, gue ngak peduli gue udah lapar," sahut Reskiya dengan mulutnya yang masih mengunyah baksonya.


"Ngak usah buru-buru ngak akan ada yang bakalan ngambil bakso lo," ucap Alfin,


"Pelan-pelan aja, tuh kan sampe belepotan gitu," ucap Alfin kemudian mengambil tisu lalu mengelap pipi dan ujung bibir Reskiya dengan telaten membuat Reskiya terdiam kaku.


"Kenapa gue seneng banget ngeliat Reskiya ya? apalagi senyumannya buat gue ngak pengen berpaling sedikit pun dari dia, apa jagan-jangan gue ..., ah, engak mungkin gue suka sama dia," batin Alfin sembari terus menatap wajah Reskiya hingga selesai makan.


Setelah beristirahan sejenak mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka hingga sekitar satu jam perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di apartemen milik Sesil, karena Reskiya yang lupa jalan mana yang harus di pilih untuk sampai di aprtemen.


Setelah sekitar lima menit Alfin keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana levaisnya dan bajunya di taruh di bahunya, Reskiya yang sesang menonton Tv belum sadar jika Alfin hanya memakai celana dan tidak memakai baju. Alfin kemudian bertanya sesuatu kepada Reskiya yang membuat Reskiya harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia liat.


"Res,kulkas ada di mana?" tanya Alfin berdiri di dekat galon sambil memegang segelas air putih.


"Cari saja ada di dekat lemari," sahut Reskiya masih fokus dengan acara tv yang sedang di tontonnya.


"Dimana ngak ada," ucap Alfin sembari melihat keseliling masih dari tempat yang sama.


"Gimana mau ketemu kalau belum di cari ...." Tubuh Reskiya membeku seketika saat melihat tubuh atletis milik Alfin, jangan lupa roti sobek yang sangat menggoda di tambah kulit Alfin yang berwarna sawo matang dengan rambut basah karena baru selesai mandi menambah ketampanan Alfin.


Dengan segera Reskiya menutup kedua matanya menggunakan kedua tangannya sambil sesekali melihat tubuh Alfin di sela-sela jarinya. "Kenapa sih lo ngak pake baju?" tanya Reskiya sambil sesekali melihat tubuh atletis Alfin.

__ADS_1


"Baju gue tadi jatuh di lantai kamar mandi akhirnya basah, palingan bentar lagi kering," jawab Alfin santai.


Alfin yang melihat Reskiya sedikit melirik ke arahnya tiba-tiba saja muncul ide jahil di kepalanya, perlahan Alfin berjalan mendekati Reskiya, menyadari Alfin berjalan ke arahnya dengan cepat Reskiya kembali duduk di sofa dengan satu tanggan menutup kedua matanya dan yang satunya mengambil cemilan di meja.


Alfin berjalan memutar hingga berdiri di hadapan Reskiya dan dengan cepat Reskiya menutup kembali matanya menggunakan kedua tangannya. "Mau ngapain sih Kak Alfin? yaampun ini adalah nutrisi untuk mataku, diliat malu ngak di liat juga mubazir. aduhhhh," batin Reskiya merasa sedang berada di dalam ombak.


"Kalau mau di liat ya liat saja ngak usah main ngintip-ngintip kayak gitu, ngak bagus di liatnya tau," ucap Alfin mengoda Reskiya.


"N-ngapain sih Kak Alfin ke sini k-kan udah dapat kulkasnya," ucap Reskiya sedikit gugub sambil sesekali mengintip dari sela-sela jarinya.


"Ngak usah ngintip liat aja," ucap Alfin kemudian menaruh kedua tangannya di samping kepala Reskiya dan sontak membuat Reskiya merasa kaget.


"Apa-apaan sih Kak Alfin," ucap Reskiya kesal kemudian mendorong tubuh Alfin.


"Kak Alfin udah kelewatan batas tau," sambungnya kemudian masuk kedalam kamar.


"Apa gue kelewatan banget ya? dia cewek yang unik," ucap Alfin kemudian duduk di sofa.


"Ini ada hoody gue, kebetulan ada yang ukurannya pas buat Kak Alfin, ini selimut dan bantal. kalau Kak Alfin mau menginap di sini jangan macam-macam sama aku atau tau akibatnya," ucap Reskiya meletakkan bantal, selimut dan hoody di atas meja sambil tertunduk karena tidak ingin melihat tubuh Alfin yang menggoda.


"Makasih," ucap Alfin mengangkat hoody nya.


"Sama-sama," sahut Reskiya kemudian kembali ke dalam kamar.


"Sangat imut," gumam Alfin dengan tanpa sadar tersenyum bahagia.


Sementara di dalam kamar Reskiya tersenyum bahagia dan tidak menyangka dia memegang dada Alfin, Reskiya berguling-guling di atas kasur sambil terus memperhatikan kedua telapak tangannya, karena sudah tidak bisa menahan kantuk Reskiya akhirnya tertidur pulas sambil meletakkan kedua telapak tangannya di dadanya.


Alfin berbaring di atas sofa dengan terus menatap ke arah langit-langit aparteman entah memikirkan apa, tidak lama kemudian ponselnya berdering dan dengan cepat mengecilkan volume ponselnya takut jika Reskiya akan terbangun, Alfin kemudian menjawab telfon tersebut.


".........."

__ADS_1


"Baik, gue akan ke sana, jaga baik-baik dia jangan sampai dia lepas lagi," sahut Alfin dengan raut wajah serius, kemudian mematikan sambungan telfonnya.


"Akhirnya jawaban yang selama ini gue cari bisa gue dapat," ucap Alfin kemudian perlahan-lahan keluar dari apartemen Sesil dan menguncinya dari luar.


__ADS_2